Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Politik
PEMILU 2019

Kerabat Terlapor Minta Usut Dugaan Money Politic

20 April 2019, 14: 17: 39 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Kerabat Terlapor Minta Usut Dugaan Money Politic

Ketua Bawaslu Buleleng, Putu Sugi Ardana (Putu Mardika/Bali Express)

BALI EXPRESS, SINGARAJA – Kasus dugaan politik uang atau money politic yang terjadi di Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, terus bergulir. Setelah menghadirkan terlapor Gede Sarjana alias Loteng pada Rabu (17/4) lalu, Bawaslu Buleleng sempat mengundang saksi bernama Ketut Kertia pada Kamis (18/4) siang.

Hasilnya, Kertia tak membantah menerima uang sebesar Rp 50 ribu lengkap dengan kartu nama seorang caleg Dapil Sawan.

Ketua Bawalsu Buleleng, Putu Sugi Ardana saat dikonfirmasi Kamis (18/4) mengatakan, pihaknya sejatinya mengundang dua orang saksi. Yakni Ketut Kertia bersama sang istri Luh Sukadani.

Namun, karena sesuatu dan lain hal, Luh Sukadani berhalangan hadir. Sehingga Bawaslu berencana akan kembali melayangkan panggilan kedua terhadap Luh Sukadani.

“Ternyata Kertia ini mengaku menerima (uang) pemberian dari Loteng (terlapor). Termasuk kartu nama dari salah seorang caleg dan arahan memilih salah satu caleg. Tetapi kami belum bisa membuktikan apakah benar yang menerima ini memilih seperti arahan Loteng” ujar Sugi Ardana.

Lanjut Ardana mesti ada kartu nama caleg, namun harus dikaji lebih dalam sesuai dengan Undang-Undang Pemilu.

“Saya memang tidak apriori dengan uang dan kartu nama. Tapi yang saya maksud politik uang harus dijelaskan di dalam undang-undang. Memberikan arahan untuk memilih, tidak memilih, untuk tidak menggunakan. Nanti kami kaji dulu,” imbuhnya.

Saat diklarifikasi Ketua Bawaslu Buleleng, Kertia sempat berkilah terkait alsan mengapa dirinya mau menerima uang pemberian dari Loteng. Dalam pernyataannya, Kertia sempat berdalih jika semua orang suka dengan uang.

“Pengakuan yang bersangkutan (Kertia) sih semua orang juga kalau dikasi uang pasti mau. Memang dia dikasi uang dan kartu nama,” jelasnya menirukan pengakuan saksi Kertia.

Dalam waktu dekat, Bawaslu berencana akan memanggil saksi kedua yang tak lain adalah istri dari Kertia sendiri.

Lalu apakah Bawaslu akan memanggil caleg dalam kartu nama itu? Sugi pun masih melihat subyek hukum. Siapa yang dilaporkan dan perbuatannya seperti apa. “Jadi kalau berbicara subyek hukum, siapa yang dilaporkan, seperti apa perbuatannya,” tutupnya.

Sementara itu pihak keluarga terlapor pun angkat bicara atas dugaan politik uang yang diarahkan kepada Loteng.

Seperti yang diungkapkan kerabat Loteng, Gede Sapta Darma. Pihaknya pun mendukung langkah Bawaslu dan penegak hukum seperti Sentra Gakumdu untuk melakukan investigasi terhadap kasus ini.

Kepada awak media, Sapta menuturkan jika Loteng sempat bercerita kalau pernah diberikan uang sebesar Rp 2,5 juta dari caleg yang bersangkutan pada Minggu (14/4) lalu.

Uang itu selanjutnya dibagikan kepada sebelas orang pada Kamis malam. Sedangkan Loteng hanya mengambil sebesar Rp 250 ribu saja.

“Ini pelajaran politik, agar suara masyarakat tidak mudah dibeli dengan uang Rp 50 ribu. Tetapi saya meminta agar Bawaslu mengungkap kasus ini hingga ke aktor intelektual. Jangan hanya berhenti di Loteng. Sehingga bukan yang dikorbankan Loteng,” jelas Sapta Dharma.

Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan politik uang mencuat di Sudaji pada Selasa (16/4) atau satu hari sebelum pencoblosan.

Kasus inipun akhirnya dilaporkan ke Bawaslu Buleleng. Selanjutnya Bawaslu mulai melakukan penyelidikan hingga akhirnya terlapor diklarifikasi.

(bx/dik/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia