Selasa, 22 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Manajer DTW Jatiluwih Bantah Soal Helipad

21 April 2019, 21: 42: 17 WIB | editor : Nyoman Suarna

Manajer DTW Jatiluwih Bantah Soal Helipad

DIBANTAH : Wisatawan saat berfoto di center ponit yang dikatakan helipad di Jatiluwih. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Keberadaan area yang menyerupai helipad di kawasan Subak Jatiluwih yang digadang-gadang mengancam status Warisan Budaya Dunia (WBD), dibantah Manajer Oprasional DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa.  

Menurutnya, area yang dikatakan helipad tersebut adalah Center Point dan bukan helipad untuk dikomersilkan. Center Point yang dimaksud adalah titik tengah area obyek di jalur treking untuk wisatawan menikmati suasana persawahan, dimana wisatawan juga bisa mendapatkan informasi melalui guide yang bertugas.

Sutirtayasa menjelaskan, center point obyek DTW Jatiluwih yang dianggap sebagai helipad untuk komersial, tidak benar. Tempat tersebut  merupakan lahan tidak produktif  yang ada di sebuah pertigaan jalan subak. 

"Tujuan pembangunan center point obyek adalah untuk kenyamanan bagi wisatawan yang mengharapkan informasi tentang obyek DTW Jatiluwih dan juga kenyamanan bagi petani di subak agar tidak terganggu oleh akitivitas wisatawan, " ujarnya Minggu (21/4).

Ia menambahkan, bahwa pihaknya hanya menata tempat tersebut untuk kepentingan umum, agar tidak ada gesekan dengan para petani. "Pariwisata yang berbasis pertanian harus bersinergi, supaya keberlanjutan," tegas Sutirtayasa.

Di samping itu, obyek DTW Jatiluwih menyajikan panorama terasering persawahan yang juga menjual aktivitas alam seperti treking, hiking, cycling dan aktivitas alam lainnya.

Sebagai aktivitas alam, tidak menutup kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan, sehingga center point ini juga menjadi alternatif untuk tim SAR mendarat jika memerlukan penanganan cepat, karena DTW Jatiluwih jauh dari kota dan berada di kaki Gunung Batukau.

"Memang sempat ada helikopter yang mendarat, tetapi untuk kepentingan shooting promosi Festival Jatiluwih. Kalau disebut sebagai helipad, tempat tersebut tidak memenuhi syarat pendaratan heli. Jadi kami rasa tidak tepat jika disebut helipad," imbuhnya.

Sebagai pengelola, menurutnya, pihaknya harus siap dengan segala kemungkinan untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi wisatawan dan juga bagi petani di subak yang  dijadikan obyek di DTW Jatiluwih.

Pihaknya membalas surat dari Kemendikbud melalui Dinas Kebudayaan pada awal Februari lalu. "Nanti kami akan pasang brand image seperti tulisan Jatiluwih sehingga dapat dijadikan tempat selfie oleh wisatawan," pungkasnya.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia