Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Features
Kisah Rumah Gobleg yang Kini Langka

Hanya Satu-satunya di Catur Desa, Bale Sunduk Ciri Sebagai Tempat Suci

22 April 2019, 09: 01: 29 WIB | editor : Chairul Amri Simabur

Kisah Rumah Gobleg yang Kini Langka 1

SATU PINTU : Penglingsir Puri Gobleg, I Gusti Ngurah Agung Pradnyan, sedang berada di sisi luar rumah adat Gobleg, di Desa Gobleg, Kecamatan Banjar. (I Putu Mardika/ Bali Express)

Keberadaan Rumah Adat Gobleg kian sulit ditemui. Meski nyaris punah, namun pelestarian rumah adat ini masih bisa ditemukan di areal Puri Gobleg, Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, Buleleng. Fungsinya pun mengalami pergeseran. Dari tempat istirahat menjadi tempat suci untuk menyimpan prasasti dan benda pusaka.

RUMAH berukuran sekitar 6 x 8 meter itu nampak mungil. Posisinya berada di arah timur selatan atau ulu areal Puri Gobleg.

Bentuknya begitu sederhana. Konon bangunan yang diperkirakan dibuat pada zaman kolonial Belanda itu hanya tersisa satu-satunya di wilayah catur Desa Buleleng.

Mulai dari Desa Munduk, Gobleg, Gesing di Kecamatan Banjar dan Desa Umajero di Kecamatan Busungbiu.

Bangunan ini terdiri dari 12 saka atau tiang penyangga. Kayu penyangga terlihat masih asli dan sudah berusia ratusan tahun.

Lantainya masih orisinal dari ubin terakota. Temboknya cenderung tebal. Warnanya putih dengan arsitektur khas Belanda.

Kalau dilihat dari luar, bentuk Rumah Adat Gobleg tidak jauh berbeda dengan rumah Adat Desa Bali Aga Sidatapa, Kecamatan Banjar. Karena bangunan ini hanya memiliki satu kamar dan satu pintu saja.

Yang membedakan antara Rumah Adat Sidatapa dan Rumah Adat Gobleg dari sisi isinya. Isi rumah Adat Gobleg cenderung sederhana. Hanya ada dua bale yang posisinya berada di sisi kanan dan kiri.

Penglingsir Puri Gobleg I Gusti Ngurah Agung Pradnyan menyebutkan, rumah tua itu disebut oleh leluhurnya sebagai rumah suci.

Sebab prasasti-prasati era kerajaan Udayana, Ugrasena, Suradhipa disimpan oleh para leluhurnya di dalam rumah tersebut. Hal ini juga terlihat dari jumlah tiang, sebanyak 12 saka.

"Karena dirasa kurang aman bila diletakkan di pura sehingga dibuatkan rumah ini untuk menyimpan prasasti tersebut. Namun saya tidak mengetahui tahun pembuatan rumahnya," ujarnya di salah satu kesempatan, April 2019 ini.

Di dalam rumah dengan cat berwarna putih itu juga terdapat empat buah bale berukuran panjang dan pendek.

Posisinya, dua buah bale panjang berada di hulu bangunan sebelah kanan dan kiri. Kemudian bale pendek berada di bagian bawah (teben).

Kisah Rumah Gobleg yang Kini Langka 2

Suasana bagian dalam rumah adat Gobleg yang kini difungsikan sebagai tempat suci. (I Putu Mardika/ Bali Express)

Untuk bale panjang, kata Pradnyan, difungsikan untuk menaruh sarana upakara yadnya (sesajen). Sementara untuk bale pendek kerap digunakan oleh penghuninya untuk tempat beristirahat.

Kedua sunduk itu dihubungkan dengan sebatang kayu yang disebut Sri Dandan. Kayu itu merupakan pertanda bahwa bale itu digunakan untuk upacara. Sedangkan dua bale yang ukurannya lebih pendek disebut amben enjung. Berfungsi sebagai tempat istirahat.

"Secara kasat mata seakan-akan sunduk itu tidak berfungsi. Sunduk itu disebut Sri Dandan yang artinya tempat suci. Kalau dipotong sedikit maka fungsinya akan menjadi rumah biasa. Rumah ini hanya satu-satunya ada di Gobleg," katanya.

Hingga saat ini, sambungnya, rumah itu  masih tetap dilestarikan oleh keluarganya.

Pada 2018 lalu, rumah itu sempat direstorasi pihak Balar Bali, namun yang diganti hanya pada bagian atap. Sementara bale, tembok dan keramiknya, masih tetap dipertahankan.

“Semuanya masih asli, kecuali atap dan kapnya saja yang kemarin direstorasi, kalau bentuk bangunan tidak ada berubah termasuk keramik di pintu juga masih asli semua. Kami dapati sudah begini, kemungkinan saja memang dibangun zaman kolonial dulu,” imbuhnya.

Menurutnya, keluarga Puri sejauh ini memang mempertahankan kelestarian satu bangunan kuno yang difungsikan sebagai tempat suci. Sehingga jejak sejarah dan nilai seni dan budaya tetap bisa ajeg.

“Kami merasa terpanggil untuk mempertahankan dan melestarikan budaya, khususnya rumah adat ini. dengan harapan generasi muda tetap mengetahui seperti apa rumah adat Gobleg itu,” tutupnya.

(bx/dik/hai/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia