Kamis, 23 May 2019
baliexpress
icon featured
Features

Dewi, Refleksi Eksistensi Perempuan Tuli Muda di Bali

22 April 2019, 10: 40: 16 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dewi,  Refleksi Eksistensi Perempuan Tuli Muda di Bali

SEMANGAT: Putri Tuli Bali 2019, Ni luh Dewi Setiawati, semangat memperjuangkan hak kelompok minoritas linguistik bahasa isyarat. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Saat siang terik menyengat Denpasar menemani  koran ini untuk bertemu dengan sosok perempuan istimewa. Ditemui saat kelas bahasa isyarat berlangsung, Ni luh Dewi Setiawati menyapa menggunakan isyarat Bisindo. Sebagian orang mungkin masih asing dengan sosok ini. Namun, tidak demikian dengan orang-orang yang terlibat dalam pergerakan perjuangan bahasa isyarat Bisindo di Bali.

Perempuan yang lahir di Denpasar ini, terlihat sangat ramah dan semangat. Pada hari Kartini, Minggu (21/4) kemarin, Bali Express (Jawa Pos Group) berbincang seputar pemaknaan hari Kartini dengannya. Menurut Dewi, hari Kartini adalah sosok pelopor kebangkitan wanita di Indonesia. “Semangatnya dalam memperjuangkan persamaan. Bahwa wanita berhak mendapat kesetaraan gender,” ungkapnya.

Dewi yang terlahir bisu- tuli pada tahun 2000 tersebut, ikut serta memperjuangkan haknya. Selain memperjuangkan haknya, ia juga bersama komunitas Bali Deaf Community memperjuangkan hak kolektif. “Peran saya sebagai seorang tuli, yaitu memajukan identitas budaya tuli. Selain itu, memperjuangkan kelompok minoritas linguistik bahasa isyarat sejak masa kecil,” tegasnya.

Juara I Putri Tuli Bali 2019 tersebut, mempaparkan bahwa perempuan tuli Bali harus memotivasi masyarakat umum. Tujuannya agar masyarakat menyadari kaum perempuan tuli memiliki hak setara yang sama dengan orang dengar. “Putri Tuli memperjuangkan kebangkitan para perempuan. Tidak boleh minder dan malu. Karena sudah ada koneksi dan relasi dengan banyak pihak. Baik untuk bekerja sama dalam berbagai kegiatan.  Diharapkan agar dapat berbaur antara orang dengar dan orang tuli,” tambahnya.

Ia menceritakan tentang kendala yang dihadapi dalam memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan tuli muda di Bali. “Kendala bagi saya  adalah keterbatasan berkomunikasi. Saya merasa cantik, tapi malu karena tunarungu. Itu hambatan bagi saya. Saya merasa tertekan dikasihani oleh orang-orang,” keluhnya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan banyaknya pengalaman yang didapatkannya, ia menyadari bahwa harus bersyukur terhadap kehidupan ini, apapun kondisinya. “Banyak dukungan dari keluarga dan teman-teman. Bahwa saya adalah tuli bukan tunarungu. Saya tidak bakal minder lagi karena memilik hak-hak sesama, “tegasnya.

Perempuan yang juga  atlet lari dan lompat jauhini,  juga memaparkan harapan kepada perempuan tuli di Bali. “Saya harap para perempuan tuli di Indonesia, khususnya di Bali harus memotivasi diri terus menerus. Jangan sampai menyerah, agar suara-suara kita terdengar di masyakarat umum. Sehingga akses untuk kita bisa tercapai, dimana pun kita berada,” jelas alumni SLB Negeri 2 Denpasar tersebut.

Selain itu, ia juga berharap kepada masyarakat umum agar memahami keberadaan orang difabel dan masyarakat tuli di Bali. “Harapan saya kepada masyakarat umum, bahwa karena kami memiliki kekurangan dan kelebihan, marilah kita bersama-sama belajar bahasa isyarat Bisindo yang dibuat oleh komunitas tuli,” ujar peserta pelatihan riset bahasa Isyarat di Universitas Indonesia tersebut.

Di Indonesia sendiri termasuk di Bali, terdapat gerakan politik identitas. Bali Deaf Community merupakan salah satu komunitas wadah berkumpul tuli muda di Bali. Mereka memperjuangkan kebudayaan tuli, identitas dan bahasa isyarat Bisindo. Salah satu programnya adalah mendekatkan bahasa isyarat Bisindo kepada masyarakat dengar dan pemerintah. Salah satu bentuk perjuangan lainnya, bahwa istilah tuli adalah bentuk perjuangan identitas politik. Mereka tidak mau dilabelkan sebagai tunarungu. (akd)

(bx/hai/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia