Rabu, 22 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Ada Palinggihnya, Tak Ada Keturunan Cina Berani Tinggal di Pujungan

22 April 2019, 11: 52: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Ada Palinggihnya, Tak Ada Keturunan Cina Berani Tinggal di Pujungan

LINGSIR: Pajenengan Ida Betara Lingsir Manik Terus, yang terkait erat dengan peraturan melarang orang Cina masuk wilayah Pujungan. Patung Dewi Kwan Im diapit patung petani dan tentara, berada dalam satu lokasi di kawasan Pura Manik Terus (foto kiri). (PENGEMPON PURA MANIK TERUS FOR BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN - Palinggih Ida Bhatara Cina yang letaknya sekitar 300 meter sebelum masuk kawasan Pura Manik Terus, konon katanya erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat bahwa di Desa Pujungan tidak ada warga keturunan Cina yang tinggal.

Hingga saat ini memang  belum ada warga keturunan Cina yang menetap di Desa Pujungan. Bahkan, menurut cerita masa lalu, orang keturunan Cina yang hanya bermalam di Desa Pujungan pun malah diganggu oleh makhluk gaib.

"Maka dari itu, hingga saat ini penduduk di Desa Pujungan hanya beragama Hindu saja," ujar Ketua Warga Tutuan Pangempon Pura Manik Terus, Drs I Wayan Suita kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Tabanan.

Bahkan, lanjut Suita, warga Pujungan juga tidak ada yang berani menikah dengan orang keturunan Cina atau etnis Tionghoa. "Konon katanya Raja di Pujungan dengan Bhagawanta Ida Betara Lingsir Manik Terus, setelah menjarah isi perahu kandas di Srijong  (Soka) yang  ternyata ada  seorang putri Cina, lantas membuat  peraturan yang  melarang  orang Cina  masuk ke wilayah Pujungan.  

"Peraturan dahulu itu, belakangan menjadi larangan perkawinan antara etnis Cina dengan warga Pujungan," sambungnya.

Hal itu semakin dipercaya, lanjutnya, ketika dialami langsung oleh orang keturunan Cina yang berprofesi sebagai sopir truk dan menginap di rumah temannya di Desa Pujungan karena kemalaman. Ternyata ia tidak bisa tidur dan gelisah. Di samping itu, juga ada warga Desa Pujungan yang menikah dengan orang keturunan Cina, namun rumah tangganya berantakan, harta bendanya habis dan berujung pada perceraian, dan kini warga tersebut hidup sebatang kara.
Kendatipun demikian, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Pujungan berbaur seperti biasa dengan masyarakat lintas agama dan lintas suku yang tinggal di desa-desa tetangga. Menurut para tetua, kepercayaan tersebut erat kaitannya dengan keberadaan Palinggih Cina di Pura Manik Terus. Konon nenek moyang keturunan Cina dulu hijrah ke Desa Pujungan dan moksa, sehingg dibangunlah Palinggih Ida Betara Cina. 


Piodalan Pura Manik Terus  jatuh setiap enam bulan sekali, tepatnya Soma wuku Tolu. Pamedek yang tangkil ke Pura Manik Terus bukan hanya sebatas warga Desa Pujungan saja, namun banyak juga dari Desa Busungbiu, Desa Pelapuhan, dan Desa Kekeran, Buleleng, serta dari berbagai desa lainnya. Maka dari itu, Pura Manik Terus merupakan pura yang berstatus Pura Dang Kahyangan.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia