Senin, 27 May 2019
baliexpress
icon featured
Features
Kisah Caleg Pasutri Sukses (1)

Turun di Dapil Kampanye, di Luar Dapil Dewi Jadi Sekpri Suami

22 April 2019, 18: 56: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

Turun di Dapil Kampanye, di Luar Dapil Dewi Jadi Sekpri Suami

I Nyoman Suyasa dan istrinya Ni Kadek Weisya Kusmiadewi (ISTIMEWA)

Pasangan suami-istri (pasutri) mencalonkan diri sebagai anggota dewan bukan hal baru. Pasutri ramai-ramai jadi calon legislatif (caleg) setelah ada aturan mengharuskan 30 persen caleg adalah perempuan.  Itu sejak pileg 2014. Pemilu tahun ini pun, pasutri menjadi caleg bermunculan. Dan, ada berpeluang lolos. Salah satunya caleg I Nyoman Suyasa dan istrinya Ni Kadek Weisya Kusmiadewi di Karangasem. Seperti apa?

MADE MERTAWAN, Amlapura

 

PASUTRI ini merupakan caleg Partai Gerindra. Suyasa merupakan incumbent DPRD Bali. Sedangkan Kadek Weisya Kusmiadewi atau yang sering disapa Dewi, caleg DPRD Karangasem dapil I (Kecamatan Karangasem). Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), dia  mengakui, hingga saat ini KPU memang belum menetapkan caleg terpilih. Namun berdasarkan hasil penghitungan sementara, ia berpeluang lolos. Itu sesuai fomulir C1 yang masuk ke partainya.

“Mudah-mudahan sampai pleno KPU nanti, hasil penghitungan, posisi saya tidak berubah. Dan saya dinyatakan lolos,” ujarnya Senin (22/4).

Tak hanya dirinya, masih berdasarkan penghitungan sementara, Suyasa yang kini masih menjabat wakil ketua DPRD Bali, juga berpeluang besar kembali merebut satu dari 7 kursi DPRD Bali dapil Karangasem.

Ia menegaskan, keputusan mencalonkan diri bukan karena ajakan suami atau sekadar aji mumpung. Mumpung suami incumbent. Namun itu murni keinginan dirinya. Bahkan bukan kali ini saja dia mencalonkan diri. Pada Pileg 2014 juga mencalonkan diri bersama suami. Namun gagal.

“Saya nyaleg memang kemauan diri sendiri,” terangnya. Namun karena sang suami juga ingin kembali menjadi wakil rakyat, akhirnya diputuskan maju bersama.

Sebelum resmi menjadi caleg, Dewi sudah sering turun ke masyarakat. Hampir setiap ada kegiatan sang suami sebagai anggota dewan turun ke masyarakat, khususnya Karangasem, dia ikut. Dari sana mengetahui kondisi masyarakat Karangasem, sehingga lebih mantap untuk menjadi caleg. Pun saat masa kampanye, Dewi tak hanya rajin turun ke dapilnya saja. Ia sering ikut suami kampanye di semua dapil di Karangasem. “Kalau turun dapil saya, ya saya kampanye, menyerap aspirasi. Kalau ke dapil lain, menjadi sekprinya bapak (Suyasa, Red),” ungkap Dewi lalu tertawa.

Meskipun merupakan pasutri, ia memastikan bahwa ketika resmi menjadi anggota dewan, tetap mendahulukan kepentingan masyarakat. Dengan lolos bersama akan lebih mudah mengawal pembangunan di Karangasem karena ada sang suami mengawal di tingkat provinsi. “Kalau urusan keluarga nanti kan ada jadwalnya,” tandasnya.

Bagaimana dengan pengeluaran jadi caleg? Weisya tak merinci pengeluarannya. Ia sebatas menyebutkan tidak banyak. Itu karena turun ke masyarakat tidak hanya saat jadi caleg saja. Selain itu ada beberapa pengeluaran yang bisa ditekan. Misalnya pembuatan alat peraga kampanye (APK) di dapilnya Weisya. APK dibuat satu, namun berisi dua caleg. Termasuk transportasi dan biaya operasional lainnya bisa ditekan. “Kan turunnya bareng-bareng dengan suami,” ungkapnya.

Selain pasutri Suyasa-Dewi yang berpeluang lolos, ada juga pasutri I Wayan Suastika-Ni Kadek Darmini juga kemungkinan lolos. Keduanya kader PDIP dan merupakan incumbent asal Karangasem. (bersambung)

 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia