Senin, 09 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Tinggal di Gubug Reyot, Kariada Tidur Beralaskan Spanduk Bekas

23 April 2019, 23: 52: 03 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tinggal di Gubug Reyot, Kariada Tidur Beralaskan Spanduk Bekas

TAK LAYAK HUNI: Nyoman Kariada bersama istri serta tiga dari empat anaknya yang tinggal di gubuk reyot di Banjar Kaleran, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana (FT. GDE RIANTORY/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, JEMBRANA - Kehidupan I Nyoman Kariada, 48, yang berprofesi sebagai pande besi asal Banjar Kaleran, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana cukup memprihatinkan. Tinggal di sebuah gubuk dengan satu kamar saja, Kariada juga harus rela berbagi tempat tidur dengan istri dan ketiga anaknya.

Sejatinya keluarga ini memiliki empat anak, tetapi anak yang pertama, yakni Pande Putu Ayu Puspa Widyantari, sudah bekerja di Denpasar. Sekarang mereka tinggal berlima di dalam gubuk yang tidak layak huni. Mirisnya lagi, gubuk yang mereka tempati sejak empat tahun lalu, adalah milik orang lain di banjar setempat.

Saat ditemui, Selasa pagi (23/4), Kariada mengatakan, selama ini dirinya memilih tidur di lantai tanah beralaskan spanduk bekas. Hal itu dia lakukan, karena hanya memiliki satu tempat tidur. “Beginilah keadaan kami. Saya bisa tidur di mana saja, yang terpenting istri dan anak di kasur (tidur, red),” ujarnya.

Selain berfungsi sebagai kamar tidur, ruangan sempit tersebut juga berfungsi sebagai dapur tradisional, sehingga ruangan tidur mereka pun menjadi pengap dan sangat tidak layak. “Selama ini kami nomaden. Kami selalu bersyukur, anak-anak masih bisa makan dan melanjutkan sekolah,” terangnya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Kariada mengaku bekerja serabutan. Pekerjaan apapun dilakukan, asal keluarganya bisa makan, dan anak-anaknya tetap bersekolah sehingga tidak seperti dirinya yang hanya tamat sekolah dasar (SD).

 Dari pekerjaan serabutan tersebut, penghasilannya juga tidak menentu. “Secara turun-temurun saya sebenarnya pembuat pisau. Namun sekarang pasaran sepi. Apalagi untuk perajin, pande harus punya prapen (tempat untuk membuat kerajinan atau pande besi) yang tentunya harus punya tanah sendiri. Tapi sampai sekarang saya belum punya tanah,” jelasnya.

Sementara itu, sang istri, Ni Wayan Sritami, 41, sehari-hari hanya membuat jejahitan untuk dijual. Itu dilakukannya guna membantu suaminya untuk membeli beras dan keperluan sehari-hari. Itu pun dengan penghasilan rata-rata Rp 10 ribu sehari, dan dengan waktu yang tidak menentu. Terlebih kondisi Sritami belakangan ini diketahui sering drop. Kadang tiba-tiba tensi naik dan tiba-tiba turun. “Sebelumnya saya pernah pendarahan. Meskipun sekarang sudah tidak lagi, namun mendadak kondisi sering drop,” keluhnya.

Kariada maupun istrinya berharap bisa memiliki lahan, meski hanya satu atau dua are, sehingga bisa mendapatkan bedah rumah dan membuat prapen. “Selama ini kami sering di survey petugas, namun hingga kini belum dapat bedah rumah. Sebab belum punya lahan sendiri. Semoga saja kami bisa hidup lebih layak,” harapnya.

Dengan kondisi hidup menumpang di gubuk dan lahan milik warga lain, keluarga ini juga tidak punya kamar mandi dan WC. Untuk mandi, mereka harus menumpang di tetangga. Meski hidup dalam keterbatasan, Kariada selalu berprinsip, anak-anaknya kelak harus maju dari segi pendidikan. Hal itu dibuktikan dengan prestasi yang diraih anaknya, Pande Komang Ayu Putri Widyaningsih.

Kariada mengaku, kini kendala hidupnya hanya belum memiliki rumah yang layak untuk keluarganya dan tempat usaha atau prapen, untuk membuat kerajinan besi. Sebab, prapen harus ada di rumah atau ketika sudah ada rumah. “Kalau bantuan PKH kami sudah dapat. Untuk berobat kami sudah punya KIS. Hanya anak yang belum punya KIS,” jelasnya.

Sementara Perbekel Yehembang, Kecamatan Mendoyo Made Semadi membenarkan keluarga Nyoman Kariada merupakan KK miskin. Untuk bantuan bedah rumah, katanya, memang harus ada beberapa persyaratan, salah satunya harus memiliki tanah sendiri. “Dua tahun lalu kami sudah pernah usulkan bedah rumah. Namun kendalanya belum punya tanah sendiri,” tandasnya.

(bx/tor/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia