Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Enjoy Bali
Tabanan Harmony Festival 2019

Membangun Pariwisata Daerah dalam Keharmonisan dan Kebersamaan

27 April 2019, 09: 12: 05 WIB | editor : Nyoman Suarna

Membangun Pariwisata Daerah dalam Keharmonisan dan Kebersamaan

MERIAH: Suasana pembukaan THF 2019 di Garuda Wisnu Serasi, Jumat (26/4), diwarnai pentas seni budaya yang mengusung enam agama. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN – Jumat (26/4) adalah hari spesial bagi Tabanan. Bagaimana tidak, sebuah event yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu Tabanan Harmony Festival (THF) 2019 yang  dibuka dengan meriah pukul 18.00 Wita di Garuda Wisnu Serasi (GWS).

Dengan mengusung tema 'Harmony & Unity' THF 2019, event yang bersinergi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama Tabanan (FKUB) akan diisi dengan pentas aneka seni budaya dari enam agama yaitu Hindu, Budha, Protestan, Katholik, Khonghucu dan Islam. Harapannya, event ini dapat membangun pariwisata daerah dalam keharmonisan dan kebersamaan.

Pembukaan THF 2019 semakin spesial dengan kedatangan Megawati Soekarno Putri, serta undangan lainnya seperti Gubernur Bali I Wayan Koster, Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta, Bintang Puspayoga, Wakil Bupati Kupang, Wakil Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, FKUB Tabanan, wakil Bupati Buleleng, Forkominda Tabanan, para pimpinan redaksi media, Sekda Tabanan beserta jajaran OPD Pemkab Tabanan, serta undangan lainnya. Sayangnya, KH. Ma'ruf Amin tidak bisa hadir dan diwakili oleh putra-putrinya.

Dalam sambutannya, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti mengaku sangat bersyukur karena dapat menyelenggarakam THF 2019 yang bertema 'Harmony & Unity, Membangun Pariwisata Daerah dalam Keharmonisan dan Kebersamaan' tersebut.

Selain menjelaskan visi dan misi Kabupaten Tabanan, yakni Sejahtera, Aman dan Berprestasi (SERASI), dirinya juga memperkenalkan areal Taman Kota yang saat ini tengah ditata agar terintegrasi dengan tiga bangunan lainnya yakni Garuda Wisnu Serasi (GWS), Museum Sagung Wah dan Gedung Kesenian I Ketut Maria.

 "Ketiga bangunan ini merupakan catata sejarah. Gedung Maria untuk mengenang maestro tari asal Tabanan, Museum Sagung Wah mengenang pahlawan perempuan dari Tabanan, dan GWS terinspirasi dari karya Bapak Nuarta pendiri GWK," tegasnya.

Hal itu dirasa tidak berlebihan karena selain lumbung pangannya Bali, Tabanan juga lumbungnya seni dan budaya, karena banyak seniman-seniman hebat dan mendunia terlahir dari Tabanan.

Di samping itu, Tabanan juga kaya akan ragam suku, agama, etnis dan budaya. Ada suku Jawa, Sasak, Madura, Sunda dan tentunya suku Bali. Ada agama Hindu, Islam, Kriten Katolik, Protestan, Budha, Konghucu. Meskipun berbeda-beda, semuanya tetap satu yaitu Indonesia.

"Bhineka Tunggal Ika, kita buktikan dengan mampu menjaga kerukunan sehingga pada tahun 2017 lalu Tabanan dinobatkan sebagai kota harmonis dalam hal kerukunan antar umat yakni Harmony Award. Jadi bagaimana kita semua menyatu dalam keberagaman dan bersatu dalam kerukunan," papar Bupati Eka.

Menurutnya, kerukunan tersebut dapat tercapai karena masyarakat memahami arti kerukunan tersebut. Tokoh-tokohnya mampu menebar kedamaian, serta elit-elitnya dapat memberi contoh, melepas semua ego dan kepentingan pribadi untuk kepentingan rakyat yang lebih besar. "Rukun itu indah, damai itu kemenangan. Kalau sudah ribut, saling sikut, kalau sudah saling sikut dan saling tusuk, maka munculah kehancuran," tandasnya.

Dalam pidato kebangsaan yang dibacakan Plt Kepala Badan Pembina Ideologi Pancasila, Prof. Dr. Hariyono, M., disampaikan bahwa suatu moment yang sangat berkesan jika para tokoh agama dapat hadir dalam THF 2019 ini. Sehingga patut disyukuri jika masyarakat Tabanan khususnya dan Bali pada umumnya dapat menjalin suatu keharmonisan sehingga terwujud kerukunan antar umat beragama.

Sebagaimana salah satu tujuan THF 2019, pihaknya pun mengapresiasi jika Tabanan ingin membumikan Pancasila, di mana menurutnya, hal itu sangat penting karena ideologi tersebut tidak hanya muncul saat pidato saja, tetapi juga dilakoni dalam kehidupan sehari-hari sehingga harmoni masyarakat Tabanan bisa terjamin.

 "Kita patut bersyukur karena pidato Bung Karno menyebutkan bahwa Pancasila dipilih sebagai dasar negara agar kita bisa bersatu, semua elemen bangsa Indonesia bersatu," tegasnya.

Melalui festival tersebut, masyarakat diberikan kesempatan untuk merefleksikan dirinya. Ketika kita sudah melaksanakan pemilu tanggal 17 April 2019,  maka sudah saatnya warga Indonesia melupakan perbedaan pilihan yang sempat terjadi karena bangsa Indonesia adalah satu.

 "Hanya dengan harmoni kita bisa menjadi bangsa yang berdauluat dan maju. Jadi mari kita bersatu, mari kita kuatkan persatuan dan kesatuan bangsa," ajaknya.

Dalam pidatonya, Bung Karno juga menyebutkan bahwa bangsa yang maju diawali dengan bangsa yang bersatu. Di mana harmoni berjalan, maka bangsa akan bersatu seperti halnya yang berlangsung di Bali, sehingga Bali disebut sebagai miniatur persatuan dan kemajuan bangsa Indonesia.

(bx/ras/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia