Kamis, 18 Jul 2019
baliexpress
icon featured
Kolom

Tak Jauh Berbeda dengan 2014, Prabowo Kembali Klaim Menang Pilres

Oleh: Ratna Wulandari*

28 April 2019, 09: 54: 52 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tak Jauh Berbeda dengan 2014, Prabowo Kembali Klaim Menang Pilres

Prabowo Subianto (ISTIMEWA)

Share this      

DALAM konferensi pers di kediamannya, di Jl Kertanegara, Jakarta Selatan, Prabowo Subianto yang merupakan Capres nomor urut 02 kembali mengklaim dirinya bersama pasangannya Sandiaga Uno memenangi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Pimpinan Partai Gerindra tersebut juga sempat menyebutkan bahwa dirinya dan Sandiaga Uno merupakan Presiden dan Wakil Presiden Periode 2019 – 2024.

 “Pada hari ini saya Prabowo Subianto menyatakan bahwa saya dan saudara Sandiaga Salahudin Uno mendeklarasikan kemenangan sebagai presiden dan wakil presiden tahun 2019 – 2024,” Ujar Prabowo.

Keyakinan akan kemenangannya ini berdasarkan perhitungan internal pihaknya yang menyebutkan bahwa dirinya mendapatkan suara lebih dari 62 persen.

 “Perhitungan real count dan telah kami rekapitulasi,” jelasnya.

Kemenangan yang dideklarasikan lebih cepat ini karna Prabowo merasa memiliki bukti kecurangan yang terjadi di berbagai kelurahan, kecamatan, kota, seluruh Indonesia. Deklarasi kemenangan tersebut merupakan hal yang dilakukan ketiga kalinya. Tercatat pada 17 April, Prabowo juga mengaku dirinya telah mengantongi suara sebesar 62 persen. Hasil itu diakuinya didapatkan berdasarkan hasil real count yang dilakukan timnya.

Hal ini ternyata cukup menimbulkan polemik, Pengurus Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP) Viktor Sirait, menyayangkan sikap yang ditunjukkan oleh Prabowo.

 “Beberapa pihak sepertinya tidak menerima hasil quick count. Ini Mudah saja, mungkin saja ada yang berbeda pendapat, buka data saja. Buka data – data bakunya, bagaimana metodologinya semua dirumuskan. Ini cukup ilmiah dan sangat mudah untuk menentukannya,” ujar Viktor.

Viktor juga berpendapat bahwa data yang diklaim oleh Prabowo bisa diadu data bakunya, metodologinya dan banyak yang bisa menilai, seperti ahli statistika kampus.

Meski  tidak ada yang salah dengan mempercayai quick count, namun Viktor tetap menghimbau kepada masyarakat untuk menyerahkan hasil akhir suara paslon Pemilu 2019 kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebagai lembaga independen yang berwenang dalam melakukan penghitungan suara.

 “Kita tetap mengacu kepada hasil akhir bahwa KPU real count. Semua harus bersabar menunggu real count dari KPU,” Tambahnya.

Deklarasi kemenangan yang dilakukan oleh Prabowo tentu akan menimbulkan tanda tanya, hal ini terbukti dari pernyataan Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional BPN, Andre Rosiade yang menyatakan bahwa ada ahli statistik yang menyatakan bahwa suara Prabowo mencapai 62 persen. Namun Andre tidak mengetahui siapa ahli statistik tersebut.

Pernyataan itu jelas menimbulkan tanda tanya, bagaimana bisa seorang Juru Bicara BPN tidak mengetahui siapa ahli statistik yang mengklaim kemenangan Prabowo – Sandiaga sebanyak 63 persen. Padahal dari beberapa hasil quick count Jokowi – Ma’ruf Amin berhasil mendapatkan torehan lebih dari 52 persen suara sedangkan Prabowo – Sandiaga belum bisa unggul dengan raihan 48 persen.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan hal senada bahwa hasil quick count Jokowi – Ma’ruf Amin unggul atas Prabowo – Sandi. Sedangkan satu – satunya lembaga survei yang memenangkan Prabowo hanya lembaga survei intern BPN.

 “Klaim menang itu mungkin karena semangat yang luar biasa. Mungkin untuk membuat pendukungnya tidak kecewa. Yang penting jangan terpancing, jangan terprovokasi, jangan sampai anarkis” tutur Ganjar.

Dirinya juga menambahkan bahwa klaim kemenangan itu sah – sah saja dan merupakan hal yang biasa bagi yang berkompetisi. Namun klaim kemenangan tentu haruslah rasional, serta didukung oleh data yang valid dan keilmuan yang teruji.

 “Sampai hari ini, hasil Quick count kami di Panti Marhaen ada di angka 75 persen hingga 77 persen. Tapi saya minta masyarakat bersabar, kita tunggu hasil real count dari KPU,” tutur Ganjar.

Klaim kemenangan Prabowo nyatanya tidak menyurutkan tensi politik para pendukungnya, mereka juga masih memberikan tudingan bahwa KPU melakukan kecurangan, tanpa mereka tahu bahwa Pemilu serentak yang diselenggarakan kemaren merupakan pemilu yang paling melelahkan, dimana banyak petugas TPS yang jatuh sakit dan meninggal karena kelelahan.

Komisioner KPU maupun Bawaslu bukanlah berisi orang yang sembarangan, dalam pelantikannya mereka telah disumpah untuk mengabdi kepada negara dan menjalankan amanah sebagai lembaga independen yang dapat menjalankan Pemilu secara jujur dan adil.

Tentu klaim pemenangan yang dilakukan oleh Prabowo adalah hal yang tergesa – gesa, jika memang nantinya hasil survei oleh lembaga internalnya tak terbukti, maka sujud syukur yang ia lakukan akan menjadi sujud ikhlas dalam menjadi Capres sejati. (*)

*) Penulis adalah pengamat sosial politik

(bx/wid/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia