Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features
Nyoman Nuarta di NuArt Sculpture Park (1)

Disambut Patung Doa Cucu yang Kembarannya Meninggal

29 April 2019, 19: 31: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Disambut Patung Doa Cucu yang Kembarannya Meninggal

FOTO BERSAMA: Rombongan Humas Pemprov Bali foto bersama dengan Nyoman Nuarta di depan patung Doa NuArt Sculputure Park, Rabu (24/4). (NUART SCULPTURE PARK FOR BALI EXPRESS)

Share this      

NuArt Sculpture Park di Jalan Setraduta Raya Blok L 6, Ciwaruga, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat adalah milik seniman asli Bali Nyoman Nuarta. Taman seluas 3 hektare, ini menyimpan banyak karya seni milik Nuarta. Pemiliknya juga menyimpan banyak gagasan. Koran ini sempat berkunjung ke tempat ini dan berbincang-bincang dengan Nuarta.

 

I PUTU SUYATRA, Bandung

MEMASUKI kawasan NuArt Sculpture Park milik Nyoman Nuarta, setiap pengunjung akan disambut oleh berbagai karya seni unik. Terutama patung-patung khas karya Nuarta. Salah satu yang berada di depan galerinya adalah patung berjudul “Doa” yang dibuat tahun 2016.

Patung itu berisi sosok bayi telanjang sambil mencakupkan kedua tangannya di dada. Berada di atas dan tengah. Kemudian di bawah serta kiri kanannya berisi berbagai potongan angka, ikan, malaikat, dewi dan sebagainya.

“Patung itu terinspirasi dari doa cucu saya. Cucu saya kembar, kakaknya meninggal,” kata Nuarta.

Begitu memasuki lobi galeri, tampak beberapa patung berdiri. Patung miniatur GWK (Garuda Wisnu Kencana) yang berdiri tegak di Badung selatan juga ada di sana. Tapi, ada satu yang cukup menarik. Yakni patung “kemarahan” Nuarta terhadap hukum Indonesia.

Patung itu berupa sosok perempuan atau Dewi Zalim setinggi dua meter. Kaku, berwajah kosong dan gelap. Tangan kirinya menggamit timbangan yang berat sebelah. Sementara tangan kanan menggenggam sabit dengan erat. “Saya mau marah, marah dengan siapa. Akhirnya buat patung ini,” aku Nuarta.

Makanya, kata dia, saat peluncuran patung ini, suasana kemarahan sangat terasa dalam pementasannya. “Dulu kan yang namanya lambang keadilan itu dewi yang menggunakan pedang, dengan mata tertutup. Itu sudah nggak cocok lagi. Jadinya ya seperti ini,” kata Nuarta saat berbincang dengan Bali Express (Jawa Pos Group) di NuArt Sculpture Park, Bandung, Rabu (24/4).

Di dalam galeri, berbagai karya seni menakjubkan terpampang. Mulai dari patung yang terinspirasi dari tragedy WTC di Amerika Serikat hingga patung sosok perempuan terlentang yang diberi judul “Nightmare”. Nightmare ini adalah patung yang menggambarkan peristiwa pemerkosaan massal di Jakarta tahun 1998.

Bagi yang ingin menyaksikan video soal karya-karya Nyoman Nuarta, ada sebuah ruang khusus pemutaran film berupa bioskop mini. Dalam video sekitar 18 menit itu digambarkan beragai karya monumental Nuarta. Termasuk proyek-proyek besar yang sedang digarap. Di antaranya soal pengembangan Bandara Soekarno-Hatta dan kawasan di Batam.

Khusus yang di Batam, Nuarta akan membuat kawasan wisata yang berisi museum nusantara, serta pulau-pula reklamasi. Untuk reklamasi ini, kata dia, bukan mengeruk tanah dari tempat lain lalu menguruk laut. “Tapi karena kita butuh jalur laut yang agak dalam, maka kita keruk lautnya lalu dapatlah tanahnya,” kata dia. “Kemudian, tadi yang kita lihat yang ada seperti garuda itu sebenarnya hotel dengan 1000 kamar,” katanya. 

“Yang di Batam itu, kita berhadap-hadapan dengan Marina Beach-nya Singapura. Jadi kayak duel gitu,” katanya. (bersambung)

(bx/yes/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia