Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features

Pajang Ratusan Keris, Wajib Mapiuning Sebelum Dipamerkan

29 April 2019, 21: 32: 07 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pajang Ratusan Keris, Wajib Mapiuning Sebelum Dipamerkan

DIUPACARAI: Deretan keris yang dipamerkan di Museum Semarajaya, Klungkung saat diupacarai. (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Festival Semarapura ke-IV dibuka Minggu (28/4) kemarin. Berbagai pameran digelar selama festival yang berlangsung hingga 2 Mei itu. Salah satunya pameran keris. Pameran ini dipusatkan di Museum Semarajaya, Klungkung.

Pameran keris dibuka Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, yang ditandai dengan pencabutan keris. Pameran dibuka bertepatan dengan Hari Puputan Klungkung ke-111. Terdapat 100 keris yang dipamerkan selama festival. Terdiri dari 68 keris tua, dan 32 keris baru. Keris dipamerkan pada dua ruangan di museum setempat. Pada pameran ini, ratusan keris itu sama sekali tidak bisa dipegang, dan pengunjung hanya boleh melihat saja.  

M. Bakrin, salah seorang kolektor keris menuturkan, keris yang dipamerkan secara umum milik masyarakat Klungkung, termasuk milik Museum Semarajaya. Namun ada satu keris bukan milik warga Klungkung. Yaitu keris milik Menteri Koperasi dan UKM AA Gede Ngurah Puspayoga, yang juga dari keluarga Puri Satria, Denpasar. Keris dengan bentuk angon-angon adikara dengan pamor keleng.

M. Bakrin menegaskan, pihak panitia sengaja membatasi jumlah koleksi, karena terbentur ruangan pameran. Sehingga keris masyarakat yang dipamerkan terlebih dulu melalui seleksi. Dari sekian keris tua yang dipamerkan tersebut, beberapa di antaranya diperkirakan sudah ada sejak sekitar 1.800 masehi atau pada zaman kerajaan.  Dan, itu dipastikan keris Bali. Hal tersebut bisa dilihat dari ukuran keris. Lebih panjang dan lebar dibandingkan keris Jawa atau daerah lainnya. Bilahnya juga licin. “Keris Bali itu licin karena biasa disangling pada batu,” jelasnya.

Perlakuan terhadap keris tua sebelum dipamerkan juga berbeda. Hal itu karena beberapa keris disakralkan pemiliknya. Terlebih yang milik Puri Agung Klungkung. Sebelum dibawa ke museum, beberapa keris tua diupacarai pemiliknya. Sarananya banten peras, pejati. “Karena disakralkan, iya harus diupacarai dulu. Sebelum tedun (dibawa) ke museum, mapiuning dulu. Itu biasanya dilakukan masing-masing pemilik keris,” ujar Gede Adhinata, anggota Paiketan Keris Kartika Sudhamala. Paiketan ini adalah yang diajak kerja sama pameran keris oleh Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Klungkung. “Seperti keris tua milik saya misalnya. Sebelum dipamerkan, keris itu saya upacarai dulu di rumah,” jelas Adhinata. Pun selama pameran juga ada upacaranya. Itu dilakukan setiap hari. Sarananya hampir sama dengan ketika nedunang. Upacara dilakukan untuk menjaga kesakralan keris, termasuk agar terhindar dari bahaya selama pameran. “Banten selama pameran itu satu saja, tapi untuk semua keris,” tandas pria asal Desa Tegak, Klungkung itu.

Meskipun beberapa keris yang dipamerkan merupakan benda sakral, namun tidak ada pantangan apapun bagi pengunjungnya. Terpenting tidak pegang kerisnya.

Terkait pameran keris, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta mengatakan, keris adalah salah satu aset seni dan budaya yang harus diperlihatkan. Festival adalah kesempatan baik untuk promosi aset tersebut.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia