Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Somvir Bantah Tuduhan Politik Uang

29 April 2019, 22: 28: 58 WIB | editor : Nyoman Suarna

Somvir Bantah Tuduhan Politik Uang

MEMBANTAH: Dr. Somvir saat ditemui seusai memberikan klarifikasinya kepada Bawaslu, Senin (29/4) siang. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Calon anggota legislatif (caleg) DPRD Provinsi Dr. Somvir mendatangi kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Buleleng, Senin siang (29/4). Kedatangannya untuk memberikan klarifikasi kepada Bawaslu terkait tudingan money politic yang dialamatkan kepada politisi kelahiran India tersebut.

Somvir datang sekitar pukul 13.15 . Ia datang sendirian dengan mengendarai Mobil Toyota Fortuner, DK 1540 UY. Sesampai di kantor Bawaslu, guru yoga itu langsung masuk ke dalam kantor Bawaslu untuk memberikan klarifikasi.

Berselang satu jam, sekitar pukul 14.00, politisi Nasdem ini keluar dari ruangan. Ia langsung menemui awak media yang sudah menantinya di lobi kantor Bawaslu untuk dimintai keterangan terkait klarifikasinya kepada Bawaslu.

Kepada awak media, Somvir mengaku, klarifikasi yang ia sampaikan kepada Bawaslu sangat sederhana. Menurutnya, tuduhan money politic yang dialamatkan kepadanya sehari sebelum Pemilu yang digelar pada 17 April lalu tidak benar.

“Apa yang dituduh money politic itu tidak benar. Mungkin lawan-lawan yang kalah itu kecewa berat. Saran saya, jangan kecewa, atau boleh kecewa, tetapi jangan cemburu. Karena suara Dr. Somvir itu tertinggi (di antara Caleg Nasdem Dapil Buleleng, Red) di Buleleng,” aku Somvir kepada awak media.

Somvir mengklaim bahwa dirinya meraih kursi dalam pileg ini dilakukan dengan cara-cara yang benar, tanpa money politic. Ia pun menegaskan, tidak mengenal pria bernama Subrata, warga Desa Banjar Tegeha, Kecamatan Banjar yang disebut-sebut sebagai tim suksesnya yang membagi-bagikan uang menjelang Pemilu kepada warga Dusun Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar.

“Saya tidak kenal (Subrata, Red). Silahkan tanya ke Bawaslu. Yang penting saya tidak ada urusan dengan pelapor, terlapor. Terkait isu money politic, itu sah-sah saja di demokrasi. Siapapun berhak, tetapi kami sudah klarifikasi ke Bawaslu” akunya.

Lalu apakah menempuh upaya hukum atas pencemaran nama baik? Somvir pun dengan lugas mengatakan, dirinya tidak akan dendam dengan siapa pun atas tuduhan itu. “Saya orang spiritual. Tidak membalas dendam dengan siapa pun. Misi politik saya adalah politik spiritual, berbuat baik. Kalau ada yang kecewa, saya sarankan agar dia datang dan belajar yoga ke rumah saya, biar tenang,” tutupnya.

Sementara itu Ketua Bawaslu Buleleng, Putu Sugi Ardana mengatakan, dari hasil klarifikasi, pada prinsipnya Dr. Somvir membantah memberikan uang untuk mencari suara (money politik, Red). Bahkan, sebut Sugi Ardana,  Somvir juga tak mengenal pelapor maupun terlapor dalam kasus dugaan money politik tersebut.

Atas pengakuan itu, Sugi Ardana juga segera akan menggelar pertemuan dengan Sentra Gakkumdu untuk mengambil keputusan dan kesimpulan. “Memang terlapor (Subrata, Red) tidak hadir setelah kami memanggil dua kali. Tetapi bisa diambil kesimpulan walaupun  in absentia. Jadi kesimpulan itu diambil berdasarkan data pelapor, keterangan saksi, barang bukti,” ujar Sugi.

Seperti diketahui, sebelumnya Dr. Somvir disebut-sebut melakukan politik uang untuk memuluskan langkahnya menjadi anggota DPRD Bali. Politisi Nasdem itu sempat dilaporkan oleh warga asal Kelurahan Kaliuntu, Kecamatan Buleleng bernama Carulus Bisman Bela alias Karel,  Sabtu (20/4).

Namun laporan itu gugur karena dianggap kedaluwarsa. Sebab kasus money politic yang dikabarkan dilakukan pada tanggal 29 Maret baru dilaporkan pada tanggal 20 April 2019. Hal itu sesuai dengan Peraturan Bawaslu Nomor 7 Tahun 2018 tentang Penanganan Temuan dan Laporan Pelanggaran Pemilu, di mana tujuh hari setelah peristiwa diketahui, tetapi tidak dilaporkan, maka peristiwa itu dianggap kadaluarsa.

Tak cukup sampai di situ, belakangan warga dari Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar bernama Nyoman Redana, 60, juga melapor ke Bawaslu,  Senin (22/4) lalu. Ia juga melaporkan tuduhan money politic yang dilakukan pria bernama Subrata pada 15 April lalu atau dua hari menjelang Pemilu.

Konon, dalam laporan Redana kepada Bawaslu, Subrata melakukan money politic atas suruhan Dr. Somvir. Bawaslu pun menindaklanjuti laporan tersebut. Namun, meski dilayangkan surat pemanggilan sebanyak dua kali, Subrata mangkir memberikan klarifikasi ke Kantor Bawaslu.

Bawaslu bersama Sentra Gakkumdu pun sempat mendatangi rumahnya di Desa Banjar Tegeha dan Desa Sambangan, tetapi yang bersangkutan tak ada di rumahnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia