Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features
Nyoman Nuarta di NuArt Sculpture Park (2)

Kenang Gunaksa, Ditanya soal Cruise Masuk Bali, SBY Cengar-cengir

30 April 2019, 07: 59: 20 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kenang Gunaksa, Ditanya soal Cruise Masuk Bali, SBY Cengar-cengir

BAGI KISAH: Nyoman Nuarta (tengah) didampingi Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Bali, Wayan Suarjana (kanan) saat berbagi kisah di NuArt Sculpture Park Bandung, Rabu (24/4). (NUART SCULPTURE PARK FOR BALI EXPRESS)

Share this      

Nyoman Nuarta, seniman hebat asal Tabanan, Bali memiliki taman seluas 2 hektare di Bandung. Namanya, NuArt Sculpture Park di Jalan Setraduta Raya Blok L 6, Ciwaruga, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Meski sudah sukses, dia tidak pelit dengan ilmu.

I PUTU SUYATRA, Bandung

USAI pemutaran film yang berisi tentang karya-karya beserta proyek yang sedang digarapnya, Nuarta langsung bangkit dari tempat duduknya. Kakinya dilangkahkan ke depan lalu membalikkan badannya menghadap penonton.

Setelah duduk di kursi yang telah disediakan, Nuarta kemudian berbagi kisah soal perjalanan hidup serta karya-karyanya. Termasuk proyek yang sedang digarapnya saat ini. “Saya tidak pernah mengajar. Cuma kalau ada seniman atau arsitek yang ingin mengetahui konsep saya, saya ceritakan. Mereka datang mungkin 50 orang lalu kita berdiskusi,” ungkapnya.

Tak lupa dia juga berpesan kepada para anak muda di Bali untuk jadi pematung. Karena saat ini pematung itu sangat sedikit. “Akhirnya semua orang ke saya semua. Jadi kesannya, kok ke Pak Nyoman lagi, Pak Nyoman lagi,” katanya.

Sebagai seniman patung yang sukses, Nuarta memiliki konsep yang sangat berbeda. Pandangannya soal patung pun tidak harus berbentuk solid. “Kita melihat patung itu sebagai bentuk tiga dimensi. Jadi bentuknya bisa apa saja. Bisa berupa hotel, bisa berupa apa saja,” ungkapnya.

Seni patung, kata dia, juga tidak bisa berdiri sendiri. Sebab, untuk membuat patung-patung berukuran besar, diperlukan sebuah jaminan keamanan. Sehingga dibutuhkan perhitungan secara teknik dan sains agar patung yang dibuat itu bisa diketahui kekuatan dan tingkat keamananannya. Termasuk umur patung itu sendiri. Kemudian untuk bisa hidup, seniman juga perlu melakukan perhitungan bisnis. “Sehingga kerja otak kiri dan kanan itu kalau digabungkan akan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa,” katanya.

Saat berbicara soal konsep kombinasi seni, teknik, sains, dan bisnis, tiba-tiba Nuarta teringat dengan rencana Pemprov Bali membangun sebuah kawasan seni di Gunaksa, Klungkung. Ingatannya meluncur ke belasan tahun silam soal lokasi itu. “Dulu mungkin sekitar 15 tahun lalu. Saya terbang di atas Gunaksa. Saya lihat kayak dibom itu. Lubang-lubangnya banyak sekali,” kenangnya.

Saat itu, dia mengaku terbang dengan mendiang IB Sujana. Kebetulan saat itu, dirinya memang sedang mau menyelesaikan proyek GWK. Jadi kalau misalnya mau pindah ke sana, kesannya mau lari.

Kemudian, dulu memang sempat ada ide di sana untuk membangun pelabuhan untuk cruise. Karena lautnya dalam. Hal itu sempat disampaikan kepada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Saya bicara dengan Pak SBY. Saya bilang ke Pak SBY, kok Singapura dengan negara kecil itu bisa mendatangkan 300 cruise dengan penumpang ribuan orang. Kenapa kita Bali nggak bisa?’ tuturnya.

Mendapat pertanyaan seperti itu, SBY tidak bisa memberikan jawaban. “Cengar-cengir aja,” katanya.

Ternyata, kata Nuarta, setelah dipelajari, ada yang ajaib. “Jadi kalau ada kapal pesiar mau masuk ke kita, jaminannya se-kapal pesiar. Ada yang mau nggak?” katanya. “Jadi permainan seperti itu kan busuk banget,” protesnya. (bersambung)

(bx/yes/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia