Rabu, 16 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Features

Mati Tak Bawa Uang, Setar Mapunia 11 Ha Tanah untuk Beberapa Pura

01 Mei 2019, 17: 02: 36 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mati Tak Bawa Uang, Setar Mapunia 11 Ha Tanah untuk Beberapa Pura

Nengah Setar (ISTIMEWA)

Share this      

Nengah Setar, 65, adalah salah satu  pengusaha lokal yang terkenal di Nusa Penida, Klungkung, Bali. Tak hanya banyak aset, Setar juga dikenal dermawan. Suka mapunia di pura. Pada April 2019, ia ngaturang punia hampir 11 hektare (ha) lebih tanahnya di sejumlah pura di Bali. Benarkah?

 

I MADE MERTAWAN, Semarapura

 

SETAR merupakan sosok sederhana. Gaya bicaranya ceplas-ceplos. Itu terlihat ketika beberapa kali ditemui koran ini. Namun di balik hal itu, dia merupakan salah satu pengusaha yang bisa dibilang sukses. Saat ini ia merupakan pengusaha dalam bidang akomodasi pariwisata. Ada dua hotel miliknya di Nusa Penida. Ia juga punya usaha jasa speed boat yang melayani penyeberangan Pulau Nusa Penida-Klungkung daratan.

Sebelum merintis usaha akomodasi pariwisata, pria asal Banjar Ambengan Linggah, Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida itu menggeluti bisnis jual-beli sapi sejak 1970-an. Bisnis itu ditekuni untuk menyambung hidup. Maklum, Setar mengaku terlahir dari keluarga kurang mampu. Untuk sekadar mengenyam pendidikan tingkat sekolah dasar (SD) saja tidak. Kerja keras untuk menghasilkan uang menjadi hal wajib.

“Kalau tidak kerja keras, saya tidak bisa makan. Jadi saya harus kerja keras,” tutur Setar dihubungi Bali Express (Jawa Pos Group) Rabu (1/5).

Semakin lama, usaha yang ia tekuni terus berkembang hingga kebutuhan keluarganya tercukupi. Sejak sekitar 1980-an, suami Ni Made Murniati, ini mulai sering berbagi untuk sesama, termasuk ngaturang punia di sejumlah pura. Ia mengakui, hampir setiap sembahyang ngaturang punia seikhlasnya. “Biasanya setiap tirta yatra, saya punia Rp 2-5 juta. Itu tidak hanya di Bali, tapi di luar Bali juga,” sebutnya.

Bukan bermaksud menyombongkan diri, Setar juga sering ngaturang punia saat karya di beberapa pura di Bali yang jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah. Misalnya, saat Panca Wali Krama di Pura Lempuyang, Karangasem, belum lama ini, Pura Kahyangan Jagat Penataran Agung Nangka di Karangasem, Pura Segara Rupek, dan beberapa pura lainnya.

Dan, punia yang lebih besar dihaturkan April lalu, berupa tanah. Luasnya 11 hektare lebih.  Tanah itu berada di wilayah Nusa Penida yang jika diuangkan bisa laku Rp 15-25 juta per are. Namun Setar lebih memilih di-punia-kan. Di antaranya, Pura Silayukti di Karangasem (1 ha 10 are di Pejukutan), Pura Dasar Bhuana Gelgel di Klungkung (1 ha 10 are di Pejukutan), dan Pura Pasek di Punduk Dawa di Klungkung (1 ha 10 are).

Kemudian di Pura Lempuyang Madya (1 ha 10 are di Pejukutan) dan Pura Lempuyang Luhur (1 ha 10 are di Pejukutan) di Karangasem, Pura Dalem Puri dan Pura Penataran Agung Besakih  di Karangasem (masing-masing 1 ha 10 are di Pejukutan). Selanjutnya Pura Pedarman Pasek di Besakih (1 ha 10 are di Pejukutan, Pura Penataran Ped di Nusa Penida (1 ha 17 are di Sekartaji), dan Pura Merajan Ambengan Linggah yang merupakan pura kawitannya di Nusa Penida (1 ha 29 are di Sekartaji).

“Saya sampaikan semua itu bukan sombong. Tidak. Saya mengajak pengusaha yang punya uang, ayo sisihkan untuk punia dan membantu orang lain.” terang Setar.

Disinggung terkait keputusannya itu, Setar memang sejak dulu mempunyai tekad bahwa ketika harta yang ia miliki sudah cukup menghidupi keluarganya, maka selebihnya akan di-punia-kan atau untuk membantu sesama. “Sekarang uang yang saya miliki sudah lumayan cukup, jadi harus mapunia dengan iklas,” tutur ayah dari anggota DPRD Klungkung Komang Sumajaya itu.

Setar juga mempunyai pola pikir bahwa mati tidak akan membawa harta. Sebagai umat Hindu ia percaya bahwa karma (hasil perbuatan) yang akan menjadi bekalnya. Uang yang dimilikinya sekarang dianggap titipan Tuhan. Namanya titipan, harus dikembalikan. “Dikembalikan berupa punia maupun untuk membantu yang membutuhkan. Mati tidak bawa, tapi karma,” tegasnya.

Setar semakin semangat menjadi pengusaha dermawan juga berkat dukungan keluarganya. Ia pun berharap usahanya tetap lancar agar bisa mapunia lagi.

Dihubungi terpisah, Bendesa Adat Besakih Jro Mangku Widiartha mengapresiasi niat baik Setar. Katanya, tak banyak orang seperti dia yang mau mapunia tanah, apalagi dalam jumlah besar. “Sertifikat tanah untuk Pura Dalem Puri dan Pura Penataran Agung Besakih sudah diserahkan 12 April lalu. Kini tinggal balik nama menjadi duwe Dalem Puri dan Penataran Agung,” ujar Mangku Widiartha. (*)

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia