Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Features

Laklak Biu Men Bayu Tetap Laris Meskipun Jarang Ikut Festival Kuliner

01 Mei 2019, 20: 09: 53 WIB | editor : I Putu Suyatra

Laklak Biu Men Bayu Tetap Laris Meskipun Jarang Ikut Festival Kuliner

TETAP LARIS : Ni Nyoman Tanik saat membuat laklak biu di warungnya Banjar Penebel Baleran, Desa Penebel, Kecamatan Penebel, Rabu (1/5). (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, TABANAN - Masyarakat Tabanan tentunya sudah tidak asing lagi dengan makanan yang satu ini, karena hampir di setiap acara festival yang digelar oleh Pemkab Tabanan, selalu ada stand Lalak Biu Men Bayu. Hanya saja sudah dua tahun belakangan ini Laklak Biu Men Bayu absen dari festival kuliner yang ada di Tabanan karena memang tidak mendapatkan undangan.


Kendatipun demikian Laklak Biu Men Bayu milik pasutri Ni Nyoman Tanik, 68, dan I Ketut Sutarma, 71, tersebut tetap laris manis di warung sederhanya di Banjar Penebel Baleran, Desa Penebel, Kecamatan Penebel, Tabanan. 

Ketut Sutarma mengatakan ia kini jarang hadir di HUT kota ataupun festival yang digelar Pemkab Tabanan lantaran tidak ada undangan. "Karena memang tidak ada undangan, jadi sejak tahun 2017 tidak jualan di Hut Kota maupun festival lain," ungkapnya Rabu (1/5).

Ia pun tak tahu apa alasan sehingga dirinya tidak diundang. Padahal tahun 2017 lalu ia bersama dengan pejabat Tabanan mulai dari Kepala Dinas Koperasi yang kala itu Anak Agung Tresna Dalem dan unsur lainya sempat mempromosikan Laklak Biu Men Bayu ke Jakarta. "Terakhir kali diundang pada festival di Danau Beratan tahun 2017," lanjutnya.

Tetapi ia tak mempermasalahkan  hal tersebut karena setiap hari laklak yang dibuat secara tradisional itu tetap laris manis di warungnya. Bahkan pelanggan setia laklaknya datang dari berbagai wilayah diluar Tabanan seperti dari Kuta, Nusa Dua, hingga Gianyar.

Sutarma menceritakan jika sudah menjual laklak  laklak sejak tahun 2009, dimana setiap harinya bisa meraup untung paling sedikit Rp 300.000 hingga Rp 600.000. Setiap harinya ia membuka warung mulai pukul 07.00 Wita sampai pukul 21.00 WITA. "Kalau ramai dapat jualan Rp 600.000. Karena selain warga lokal, bule juga suka," imbuhnya.

Laklak Men Bayu berbeda dengan laklak pada umumnya, dimana laklak buatan pasutri ini  rasanya gurih dan dibuat secara tradisional yakni masih menggunakan tungku dan kayu bakar. Di atas laklak diberikan toping pisang dan kelapa yang diparut. Setelah matang Laklak Biu Men Bayu dilipat menyerupai crepes dan siap untuk disantap.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia