Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Pawai HUT Gianyar, Peserta Gunakan Properti Berbahan Alam

01 Mei 2019, 20: 45: 44 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pawai HUT Gianyar, Peserta Gunakan Properti  Berbahan Alam

ALAMI : Properti para peserta pawai rangkaian HUT Ke-248 Kota Gianyar, Rabu (1/5), menggunakan bahan alami, di Panggung Terbuka Gianyar. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Pawai budaya serangkaian HUT ke -248 Kota Gianyar di Lapangan Astina, Rabu (1/5), tampaknya terbebas dari stirofoam maupun plastik. Pasalnya, properti para peserta pawai terbuat dari bahan alam seperti janur, bunga dan daun-daunan.

Ketua Panitia Pawai Budaya, Plt Kadis Kebudayaan Kabupaten Gianyar Made Suradnya, dalam sambutannya mengatakan, pawai kali ini memang beda dari tahun sebelumnya, terutama penggunaan bahan properti. "Kali ini tidak menggunakan properti berbahan plastik, stirofoam dan sejenisnya," jelasnya. 

Dijelaskan, konsep pawai budaya ramah lingkungan tersebut sebelumnya sudah disosialisasikan ke tiap kecamatan yang mewakili pawai. Karena itu, saat pawai mereka kompak menggunakan property berbahan ramah lingkungan, tanpa plastik dan stirofoam. 

Bupati Gianyar, Made Mahayastra mengapresiasi pergelaran pawai tahun ini yang serentak menggunakan bahan ramah lingkungan. Hal tersebut sesuai dengan surat edaran yang dikeluarkannya, yang mengacu pada Pergub Bali tentang pembatasan penggunaan plastik, stirofoam. 

Terkait pawai, ia juga telah mengeluarkan Surat Edaran Bupati Gianyar Nomor 660/2509/DLH/Bid.II/2019 tentang pembatasan timbulan sampah plastic dan stirofoam.

"Semoga kesenian yang diwariskan leluhur tetap terjaga, dan generasi masa kini selalu berusaha menemukan unsur-unsur seni baru yang bisa dipadukan dengan perkembangan zaman," harap Bupati. 

Salah satu peserta pawai, Komang Veri Artawan asal Desa Dingapadu mengaku, membuat properti pawai dari bahan alami itu sejak dua hari lalu. Bahannya berupa  janur hingga bunga gumitir yang jumlahnya sampai 10 keranjang. 

"Kami memang utamakan menggunakan bahan alami yang gampang diperoleh di desa. Gumitir ini merupakan sumbangan warga yang dipetik langsung. Kalau diuangkan, bisa mencapai Rp 10 juta untuk bunga saja," paparnya. 

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia