Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features
Nyoman Nuarta di NuArt Sculpture Park (3)

Punya Keyakinan GWK Jadi setelah Mohon Petunjuk Leluhur

02 Mei 2019, 08: 16: 46 WIB | editor : I Putu Suyatra

Punya Keyakinan GWK Jadi setelah Mohon Petunjuk Leluhur

MINIATUR: Miniatur patung GWK berada di lobi NuArt Sculpture Park, Bandung. (NUART SCULPTURE PARK FOR BALI EXPRESS)

Share this      

Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Ungasan, Badung, Bali, adalah salah satu karya terbesar Nyoman Nuarta. Maklum, proyek ini baru selesai setelah 28 tahun. Banyak kisah yang terjadi di balik 28 tahun itu. Baik secara skala maupun niskala. 

I PUTU SUYATRA, Bandung

SELAIN di dalam ruangan, Nyoman Nuarta juga menempatkan karya-karyanya di luar ruangan, NuArt Sculpture Park , Jalan Setraduta Raya Blok L 6, Ciwaruga, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Ada di depan pintu masuk, di taman-taman. Atau di pinggir-pingir jalan menuju belakangan taman seluas 3 hektare tersebut.

“Semua tempat bisa dijadikan tempat selfie,” kata Drajat, salah satu tim manajemen NuArt Sculputure Park yang ikut mendampingi Nuarta, Rabu (24/4).

Nuarta terus melangkahkan kakinya menuju bangunan bagian belakang yang ternyata itu sebuah restoran. Menu spesialnya bebek.

Nuarta tampak akrab dengan para pengunjung. Dia dengan senang hati melayani foto bersama atau ngobrol dengan para pengunjung taman yang memang terbuka untuk umum tersebut.

“Bengkelnya ada di bawah. Ada air terjunnya juga di sebelahnya,” kata Nuarta setelah Koran ini menyelesaikan makan siang hari itu.

Sambil menikmati makanan penutup, Nuarta berbagi kisah soal perjalannya membangun GWK. Mulai jaman Presiden Soeharto hingga Joko Widodo. Termasuk soal penolakan anggota DPRD Bali saat dirinya ingin melepas saham GWK ke Pemprov Bali.

“Gimana mau lepas saham. Kita baru mau ‘duduk’ saja sudah ditolak,” kenangnya.

Akhirnya karena ini adalah proyek yang harus diselesaikan, saham akhirnya dilepas ke pihak swasta.  “Setelah jadi baru yang nolak itu datang minta maaf ke saya. Saya bilang buat apa. Semua sudah selesai,” ungkapnya.

Menurutnya, sebelum ditawarkan ke Pemprov Bali, Nuarta sempat meminta kepada Pemerintah Pusat untuk menyelesaikan proyek ini. Namun tak ada kejelasan. Kemudian Gubernur Bali saat itu Made Mangku Pastika menanyakan tawaran tersebut ke Nuarta.

“Pak Gubernur bertanya, apakah tawarannya ke Pemerintah Pusat itu masih berlaku. Saya jawab masih,” kata Nuarta. Kemudian Pastika membawanya ke DPRD Bali. Tapi hal itu ditolak. Maka jadilah GWK sekarang milik swasta.

Selain perjalanan sekala, sebagai orang Bali, Nuarta juga melewati peristiwa niskala untuk mewujudkan cita-citanya membangun GWK. Misalnya dia harus nangkil ke Pura Tanah Kilap di Denpasar. Kemudian melukat di salah satu pura di Uluwatu.

“Saat di Uluwatu, semua kerauhan. Termasuk pemangkunya. Hanya saya yang tidak,” kenangnya.

Sampai suatu ketika, dirinya merasa frustrasi. Nuarta memilih pulang kampong ke Tabanan. Dia sembahyang di Pura Kawitannya dan mohon petunjuk kepada leluhurnya.

“Dalam hati saya bilang, kalau memang GWK ini tidak bisa dibangun, kasi saya tanda. Kalau pun bisa dibangun, kasi juga saya tanda,” ungkapnya.

Lalu, malam-malam dia bersama istrinya nangkil. Saat sembahyang berjalan seperti biasa. “Tapi di tengah-tengah sembahyang, tiba-tiba muncul cahaya yang sangat indah. Istri saya senyum-senyum,” ungkapnya.

Dari sana dia punya keyakinan bahwa GWK bisa dibangun. 

Sambil berjalan menuju bengkelnya, Nuarta memperlihatkan suasana asri galeri miliknya. Di seberang jalan di balik pepohonan cemara, tampak bangunan berwarna abu-abu. Itu adalah rumah tinggalnya.

Sampai di bengkel, tampak banyak pekerja sedang menyelesaikan beberapa proyek seni. Diiringi suara air terjun , Nuarta kembali berbagi kisah. “Kalau musim kemarau, air terjun itu airnya jernih,” ungkapnya.

Ini dulu penuh dengan potongan-potongan patung GWK. Nah saat pengiriman potongan itu ke Bali, istri dan anak-anaknya serta beberapa pekerja yang saya ajak dari kecil seperti mau menangis.

“Bagaimana tidak, mereka selama 28 tahun melihat tumpukan potongan patung GWK. Saat itu harus diangkut ke Bali. Semua jadi kosong,” kenangnya. (habis)

(bx/yes/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia