Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Lahir Tanpa Batok Kepala, Berharap Dibantu Operasi

03 Mei 2019, 20: 08: 46 WIB | editor : Nyoman Suarna

Lahir Tanpa Batok Kepala, Berharap Dibantu Operasi

OPERASI: Kondisi bayi yang sejak lahir tidak memiliki batok kepala. Orang tua bayi berharap dibantu untuk operasi. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BULELENG - Nasib malang dialami pasutri asal Dusun Antapura, Desa/Kecamatan Tejakula bernama Nyoman Bagiarsa, 25 dan Ketut Sariati, 19. Anak pertama mereka terlahir dalam kondisi tidak memiliki batok kepala. Penghasilan yang pas-pasan, membuatnya tak memiliki biaya yang cukup untuk mengobati sang buah hati.

Raut wajah tegar tergurat di wajah pasutri Nyoman Bagiarsa dan Ketut Sariati. Kendati anaknya terlahir dalam kondisi tanpa batok kepala, semangatnya untuk merawat sang buah hati begitu besar.

Saat ditemui di rumahnya, Bagiarsa menceritakan, ia bersama istrinya sudah mengetahui kondisi sang bayi yang terlahir tidak memiliki batok kepala. Bahkan sudah diprediksi terlebih dahulu oleh pihak dokter ketika usia kandungan menginjak tiga bulan. Bahkan, pihak dokter menyarankan agar janin itu segera digugurkan.

Kendati demikian, Bagiarsa bersama sang istri tetap bertekad untuk merawat janin hingga terlahir menjadi bayi mungil. Ia pun menolak tawaran dokter untuk menggugurkan kandungan tersebut, dan memilih membesarkan buah hatinya.

"Selama masa hamil, istri saya sangat rutin kontrol ke dokter kandungan di Denpasar. Minum vitamin juga rutin. Dengan harapan bayinya sehat ketika lahir," ujar Bagiarsa saat ditemui di kediamannya, Jumat (3/5) siang.

Benar apa yang dikatakan dokter kandungan tersebut. Bayi mungil berjenis kelamin perempuan itu terlahir dengan kondisi tanpa batok kepala, pada Rabu (22/4) lalu. Bayi yang belum diberi nama itu lahir di RSUD Buleleng, secara cesar.

"Proses bersalinnya tidak ada penanganan khusus. Kami hanya empat hari di rumah sakit. Sempat dimasukkan ke dalam inkubator selama beberapa jam. Kondisinya stabil," imbuh pria yang bekerja sebagai waker di Bank BRI Cabang Gajah Mada Denpasar ini. 

Lanjut Bagiarsa, selama berada di rumah, kondisi bayi mungil ini sangat stabil. Pihaknya hanya menggunakan kain perban untuk menutupi bagian otak sang anak yang tidak memiliki batok kepala itu.

Kini, Bagiarsa berharap agar pemerintah memberikan fasilitas bila tindakan operasi harus dilakukan. "Saya hanya bekerja sebagai waker. Penghasilan saya  tentu tidak cukup untuk biaya operasi. Saya berharap ada yang membantu untuk operasi," harapnya. 

Terkait kondisi yang dialami pasutri malang itu, Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Buleleng, Luh Emi Suesti mengklaim tengah menunggu kepastian dari perusahaan tempat Bagiarsa bekerja. Apakah bayi tersebut akan ditanggung dalam KIS yang dikeluarkan oleh perusahaan atau tidak.

"Bapaknya (Bagiarsa, Red) sudah punya KIS dari perusahaan. Kalau saja tidak ditanggung oleh perusahaan bapaknya, kami dari Dinsos akan segera memasukkannya dalam KIS PBI daerah. Sehingga sejauh ini kami akan bantu dulu penerbitan akta dan pembuatan KK-nya," jelasnya. 

Lanjut Emi, tindakan operasi terhadap sang bayi bisa dilakukan bila sang bayi telah mengantongi KIS. "Kami harus urus KIS-nya dulu. Masalah bisa dioperasi atau tidak, nanti medis yang menentukan. Jika masalah KIS selesai, kami akan langsung berkonsultasi dengan dokter," tutupnya.

(bx/dik/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia