Jumat, 21 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Jro Alit Baba Ngiring Sejak Usia 4 Tahun, Awalnya Suka Menghilang

04 Mei 2019, 12: 14: 09 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jro Alit Baba Ngiring Sejak Usia 4 Tahun, Awalnya Suka Menghilang

NGIRING: I Ketut Baba Brahwissiva sejak kecil Ngiring, dan kini akrab disapa Jro Alit Baba. (JRO ALIT BABA FOR BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Fenomena Ngiring merupakan sesuatu yang lumrah saat ini. Orang yang punya kemampuan khusus ini, memang orang-orang  pilihan. Namun, jadi lebih istimewa lagi karena yang dipilih untuk Ngiring adalah anak anak, seperti yang dialami I Ketut Baba Brahwissiva yang kini akrab disapa Jro Alit Baba.

Jro Alit Baba sudah Ngiring (punya kemampuan secara niskala karena ada 'pengawal' gaib) di usianya yang baru menginjak 4 tahun. Sosoknya pun viral di media sosial setelah video Jro Alit Baba yang  sedang Nyolahin (menarikan) Rangda beredar.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), ibu Jro Alit Baba, Desi Erlianti, menceritakan ,
bahwa sejak berumur 4 tahun,  anaknya yang memiliki nama lengkap I Ketut Baba
Brahwissiva yang kini  menjadi Jro Alit Baba, memang sudah menampakkan gerak gerik aneh  karena bisa melihat dunia lain.

Hal itu terlihat saat ia bermain dan sering kali tertawa sendiri. Bahkan, pernah suatu ketika
Jro Alit Baba bermain cilukba sendiri, namun saat ditanya dirinya menunjuk foto
almarhum ayah Desi alias kakek Jro Alit Baba sendiri.

"Saat itu saya berpikir mungkin karena Jro Alit masih kecil dan suci, jadi bisa melihat apa yang tidak bisa kita lihat, sehingga bisa melihat almarhum kakeknya. Dan, itu berlanjut sampai dia masuk TK,” ujarnya.

Sejak masuk TK, lanjutnya, Jro Alit semakin menunjukkan hal aneh, diantaranya sering menghilang dari rumah sepulang sekolah. Terkadang sampai sore Jro Alit tak kunjung pulang ke rumahnya di Jalan Sumatra, Banjar Titih, Desa Dauh Puri Kangin, Kecamatan
Denpasar Barat. Ketika ditanya, Jro Alit mengaku pergi ke Lapangan Puputan Badung untuk bermain bersama teman-temannya. Bahkan, Jro Alit bisa menyebutkan nama-nama temanya tersebut. Namun, Desi tak pernah melihat teman-teman yang dimaksud Jro Alit tersebut.
Tak hanya itu, Jro Alit selalu menyebut nama Dewa Siwa dan menggambarnya, baik di
buku maupun di tembok rumahnya. Padahal, ia belum pernah mengenalkan nama Dewa
Siwa atau bahkan memperlihatkan gambar Dewa Siwa.

“Jro Alit selalu bercerita kalau Dewa Siwa itu adalah ayahnya, bahkan saat tidur sering mengigau seolah-olah dia sedang bercengkrama dengan Dewa Siwa atau Ratu Niang Lingsir,” imbuhnya.

Tingkah laku Jro Alit  yang merupakan putra dari dirinya dan (alm) I Ketut Suwecha
ini, semakin menjadi-jadi ketika menginjak kelas 1 SD. Jro Alit tidak pernah fokus belajar sampai mendapatkan teguran dari gurunya,  dan menjadi kian tertutup. Setiap hari di sekolah ia bermain sendirian di bawah pohon Kepuh yang ada di sekolah tersebut.  Menurut ibu kantin, Jro Alit selalu berbelanja makanan dan minuman 2 buah, katanya 1 untuk dirinya dan 1 lagi untuk temannya yang ada di pohon Kepuh tersebut. Padahal, setelah dicek, Jro Alit hanya sendirian, tapi seperti bercengkrama dengan orang lain. Guru dan teman-temannya pun menganggap Jro Alit aneh. “Waktu itu saya sampai pusing, karena sering mendapat panggilan dari wali kelasnya,
katanya Jro Alit tidak konsen belajar di kelas dan tidak bisa baca tulis. Tapi anehnya kalau
di rumah, Jro Alit bisa membaca dan menulis, bahkan pernah saya ikutkan les dan ternyata
di tempat les Jro Alit sudah bisa membaca dan menulis,” lanjut Desi.

Parahnya lagi, ketika Jro Alit duduk di kelas 2, karena Jro Alit semakin sering mendapatkan intimidasi dari gurunya, lantaran dianggap aneh dan sering menghilang saat jam pelajaran.
Jro Alit Baba yang kini berusia 10 tahun, mengaku sering kali dikucilkan di sekolah
lamanya karena dianggap aneh. Terlebih di sekolah tersebut ia banyak melihat arwah anak
bayi yang keguguran dan cacat. Bahkan, gurunya tidak senang memiliki siswa indigo
sehingga ia merasa tertekan. “Dulu guru saya bilang tidak suka punya murid seperti saya,
katanya saya indigo dan saya gila,” ujarnya.


Lalu, saat kelas 3, dirinya juga sempat karauhan, namun tidak ada satu pun gurunya yang
percaya padanya. Puncaknya adalah saat kenaikan kelas, dirinya ternyata tidak naik kelas
dan memilih pindah sekolah. “Selain itu saya juga sering mimpi didatangi tiga Rangda,” tandasnya. Hal itu pun menyebabkan Jro Alit meminta  pindah sekolah. 

“Saya katakan ya nanti saat kenaikan kelas kita pindah sekolah, tetapi saat kenaikan kelas dia malah sangat sedih karena ternyata tidak naik ke kelas 4, lalu Jro Alit memutuskan pindah ke SD 7 Pemecutan. Anehnya Jro Alit bisa melewati tes saat pindah ke sekolah baru itu,” paparnya.

"Dan, mulai liburan kenaikan kelas itu lah Jro Alit mulai menampakkan tanda-tanda bahwa dirinya harus Ngiring," urainya.


Saat itu Jro Alit sering pergi ke Pura Luhur Sandat yang berlokasi di Tegal Kawan, Pemecutan. Dari situ lah Jro Alit mulai senang Ngayah (melayani dan membantu dengan ikhlas ) dan di pura itulah pertama kali Jro Alit karauhan ( ada roh yang memasuki raganya). “Tapi saat ke pura itu Jro Alit tidak izin sama saya, tiba-tiba saja hilang, ternyata dia pergi ke sejumlah pura, khususnya Pura Dalem,” tuturnya.


Atas kondisi tersebut, Desi pun memutuskan untuk bertanya secara niskala dan akhirnya
mendapatkan petunjuk bahwa Jro Alit agar ngaturang (mempersembahkan) Pakeling (permakluman) di Pura Dalem Kahyangan Badung. Setelah itu, Jro Alit malah lebih sering menghilang, sampai ia harus berhenti bekerja. Dan, yang terakhir Jro Alit menghilang sampai akhirnya melapor ke Polresta Denpasar. Namun, salah seorang polisi yang bisa menerawang mengatakan jika Jro Alit dalam keadaan baik dan akan pulang. Juga dikatakan kalau Jro Alit anak yang Kapingit jadi tidak usah khawatir. "Ternyata benar, dini harinya Jro Alit pulang diantar oleh anak Pemangku Pura Dalem Batu Selem di Imam Bonjol, yang katanya sudah dua hari Ngayah di pura itu. Ngayah terus berulang dilakukan Jero Alit di pura yang berbeda, tetapi selalu Pura Dalem,” imbuhnya.


Sampai akhirnya tiba Pujawali di Pura Dalem Kahyangan Badung tiba dan nyejer selama
satu minggu, Jro Alit kembali menghilang dan pulang hanya untuk mengganti baju saja . Jero Alit ternyata diam-diam membawa pakaian adat untuk Ngayah.

Kemudian pada hari Panyineban kebetulan ada Sasolahan Calonarang di Setra Badung, dan saat itu Jro Alit
sampai karauhan (france) sebanyak 4 kali, kemudian dibawa ke ajeng untuk dinetralisasi. “Dari sana saya diingatkan oleh Jro Mangku Lingsir di pura tersebut untuk menjaga baik-baik Jro Alit
karena suatu saat dia akan menjadi orang hebat,” ucapnya.


Namun, karena Desi belum paham, ia pun kembali bertanya kepada orang pintar dan mendapatkan petunjuk jika Jro Alit adalah orang yang istimewa yang terpilih. Hal itu
semakin membuat dirinya bingung, sampai Jro Alit kembali hilang dan ditemukan di
Sukawati, Gianyar. Hal ini pun sempat viral di media sosial karena informasinya diunggah
oleh akun-akun media sosial di facebook dan instagram.

“Dalam waktu satu jam dia sampai di Sukawati berjalan kaki, sampai akhirnya dia ketemu pemilik toko Rangda di Sukawati. Karena bingung Jro Alit dibawa ke Polsek Sukawati,” lanjut Desi lagi.


Paska kejadian tersebut, Jro Alit menjadi semakin terarah dan mataksu dan memutuskan
untuk Ngiring yaitu Ngiring ring Pura Dalem Napak Rarung. Jro Alit juga selalu izin kepada dirinya jika hendak Ngayah di pura mana pun dan mulai dikenal di pura-pura ,
khususnya dalam acara Calonarang karena Nyolahang Rangda. Uniknya, Jro Alit bisa
Nyolahang Rangda dengan sendirinya tanpa belajar khusus.

“Setelah Ngiring, Jro Alit sudah semakin terarah dan semakin mataksu. Juga semakin dewasa dalam berpikir dan bisa menuntun saya menjadi lebih baik,” tandasnya. Awalnya Desi pun sempat merasa sedih saat tahu secara niskala putranya harus Ngiring. Namun, ia mengaku ikhlas dan harus percaya, karena Jro Alit merupakan anak yang terpilih dan istimewa.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia