Jumat, 21 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Syukuri Hasil Panen, Krama Gelar Perang Tipat di Pura Masceti Sayan

05 Mei 2019, 15: 17: 30 WIB | editor : I Putu Suyatra

Syukuri Hasil Panen, Krama Gelar Perang Tipat di Pura Masceti Sayan

TIPAT: Tradisi perang tipat yang dilakukan di Pura Masceti, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Minggu kemarin (5/5). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Tradisi unik digelar pada Pura Masceti, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Minggu (5/5). Pura yang termasuk Pura Ulun Suwi tersebut diempon oleh 10 subak dari dua desa dinas dan empat desa pakraman di wilayah Ubud bagian barat. Tradisi perang tipat itu sebagai simbol rasa syukur krama subak atas hasil panen selama enam bulan. 

Hal itu dijelaskan oleh Pekaseh Gede Pura Masceti, I Ketut Jejel,SH didampingi pemangku pura, Jero Mangku Made Ngastra. Diungkapkan kepada Bali Express (Jawa Pos Group) krama subak terdiri atas dua desa dinas, yakni Desa Sayan dan Desa Singakerta yang mencapai ratusan krama subak. “Ini sebagai bentuk syukur krama subak karena selama enam bulan hasil panennya sangat memuaskan. Terpenting kita melakukan tradisi berapa pun yang ikut harus tetap perang,” terangnya. 

Tradisi perang tipat dilaksanakan setiap enam bulan sekali, yaitu tiga hari pasca nyineb piodalan di Pura Masceti itu sendiri. Yaitu tepatnya pada Redite Kliwon Watugunung, diawali dengan krama subak menghaturkan pepranian sejak pagi hari. Pepranian itu terdiri atas banten biasa dan berisikan tipat kelanan. 

“Biasanya krama subak menghaturkan setengah dari  tipatnya. Kelanan kan ada enam tipat, setengahnya itu berarti tiga. Sedangkan sisanya ditunas dibawa pulang. Sedangkan yang dihaturkan di pura itulah dijadikan amunisi perang tipat nantinya,” tandas Ketut Jejel. 

Perang tipat berlangsung pada pukul 14.00 hingga pukul 15.30 dengan mengambil tempat di jaba tengah pura dan jaba sisi pura. Masing-masing kubu terdiri atas 10 orang bahkan lebih, mulai anak-anak maupun dewasa. Diiringi gambelan baleganjur puluhan peserta perang saling melempar tipat kepada lawannya yang dibatasi dengan tembok pura. Bahkan tak jarang ada saling mengintip lawan dan langsung melempar dengan tipat.

Pada tempat yang sama, disinggung sejarah perang tipat, Pemangku Pura Masceti, Jero Mangku Made Ngastra mengatakan memang sudah ada sejak turun-temurun. Sehingga setiap enam bulan pasti dilakukannya, meskipun dengan jumlah krama yang perang sedikit. “Memang ada sejak dulu, kalau tidak dilakukan katanya akan ada hama dan kapiambeng (halangan) lainnya yang menimpa  persawahan krama subak,” terangnya. 

Dalam kesempatan itu, dijelaskan juga krama subak yang datang nunas ulam bawi (daging babi) akan dihaturkan pada masing-masing palinggih di persawahannya. Agar tumbuh benih padi yang akan ditanam, ataupun padi yang baru hidup dapat berbuah tanpa halangan dan musibah saat panen nanti. 

“Ini sebagai bentuk rasa syukur krama subak atas keberhasilan panennya. Maka kedepan agar lebih baik lagi hasilnya,” imbuh Jero Mangku Ngastra.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia