Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Bisnis Pakaian Adat Bali, Omzet Merta Tembus Rp 100 Juta Sebulan

06 Mei 2019, 07: 15: 50 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bisnis Pakaian Adat Bali, Omzet Merta Tembus Rp 100 Juta Sebulan

UDENG: Nengah Merta sedang membuat udeng di Desa Blega Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Minggu (5/5) kemarin. (PUTU ANDHIKA RESTU PUTRA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR – Orang Bali juga terkenal dengan pakaian adat yang unik dan khas. Mulai dari udeng (desatar), baju, kamen (kain) serta kebaya. Wisatawan pun semakin tertarik dengan busana tradisional orang Bali. Hal ini membuat para pengusaha busana adat Bali semakin banyak bermunculan.

Seperti yang dilakukan Nengah Merta yang tinggal di Banjar Kebon Kelod, Desa Blega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Ia mengaku, sebulan bisa berpenghasilan Rp 80 hingga 100 Juta. “Sebulan saya bisa berpenghasilan kurang lebih itu Rp 80 sampai Rp 100 juta. Saya berpikir biar tetap bisa menghasilkan tapi biar bisa dalam koridor ajeg bali,” ucapnya pada wartawan Bali expres (Jawa Pos Group) Minggu (5/5) kemarin.

Berawal sejak masih bekerja di hotel yang tidak kunjung mendapatkan pengangkatan sebagai staff, Merta mulai membukan usaha busana adat Bali sendiri. “Karena tidak diangkat-angkat sebagai staff di hotel, akhirnya tahun 2014 saya berpikir untuk membuka usaha saja,” ujarnya sambali membentuk udeng.

Bermodalkan niat, laki-laki 34 tahun ini mengaku dirinya mendapatkan modal dari hasil meminjam di lembaga perkreditan desa (LPD) sebesar Rp 30 Juta. Dari hasil modal tersebut, kini dirinya sehari minimal dapat memproduksi 50 buah udeng yang dipasarkan pada tokonya dan butik-butik. Saat ini ia sudah memiliki dua buah toko yang berada di Sukawati dan di Jalan Udayana, Gianyar.

Pria kelahiran Bangli ini juga pernah mengikuti pameran di Pesta Kesenian Bali (PKB) empat kali. “Saya sudah empat kali ikut pameran PKB, dan saat itu booming banyak sekali yang beli,” kata mantan siswa SMKN 1 Bangli ini.

Walau begitu, usahanya bukan berarti tanpa hambatan. Merta menuturkan, mental, malas, rasa takut dan pesimisme adalah hambatan untuk dirinya. “Hambatan yang paling menjadi kendala pada diri sendiri, pesimisme, rasa malas sehingga usaha kita stagnan disitu terus. Dan rasa takut untuk mencoba hal yang baru,” papar pria yang pernah mengambil jurusan akuntansi ini.

Dari niatnanya ini serta dengan belajar secara otodidak, kini Merta sudah memiliki total karyawan 13 orang. “Kalau dulu kan minta digaji, kalau sekarang saya yang ngasi gaji untuk 13 orang karyawan. Itu sudah termasuk penjahit, penjaga toko dan sama yang bantu disini,” tuturnya.(res)

(bx/ima/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia