Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Diduga Ormas, Puluhan Lelaki Kekar Gembok Art Shop Mayang Bali

08 Mei 2019, 06: 47: 37 WIB | editor : Nyoman Suarna

Diduga Ormas, Puluhan Lelaki Kekar Gembok Art Shop Mayang Bali

GEMBOK: Polisi mengidentifikasi kasus penggembokan toko Mayang Bali yang diduga dilakukan salah satu ormas, Selasa (7/5). (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Sekitar 30 orang pria berbadan kekar yang diduga berasal dari salah satu kelompok organisasi masyarakat (ormas) menggembok toko art shop Mayang Bali di Jalan Raya Legian Nomor 186 Kuta pada Selasa siang (7/5). Selain itu juga mengusir para pegawai toko yang sedang bekerja.

 "Ada sekitar delapan orang yang masuk bicara dengan saya, sedangkan yang lain nunggu di luar dan di seberang jalan," ungkap pemilik toko Mayang Bali, Sony.

Menurutnya sekelompok orang itu mengaku orang suruhan Feric Setiawan yang meminta untuk mengosongkan tempat. Lantaran toko akan diambil alih. Saat diminta menunjukkn surat kuasa, perwakilan tersebut tidak bisa membuktikannya.

"Mereka mengaku mendapat kuasa dari Pak Feric. Bahkan, ada yang mengaku sebagai pengacaranya Feric tapi saya minta surat kuasanya, mereka tidak tunjukkan ke saya. Sehingga saya keberatan untuk mengosongkan toko saya ini," ujarnya.

Keadian ini berawal pada tahun 2017 lalu, ia dikenalkan oleh dua orang temannya Rudy dan Andre kepada Feric. Selanjutnya terjadi transaksi pinjam meminjam dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan senilai Rp 25 miliar. Namun Feric baru mentransfer ke rekening atas nama Sony senilai Rp 19 miliar.

"Memang kami ada kesepakatan yang ditandatangani jaminannya sertifikat ini. Tetapi baru diberikan kepada saya Rp 19 miliar. Masih ada sisa Rp 6 miliar. Kalau Pak Feric lunasi sisanya, saya siap dikosongkan tempat ini. Nah, ini belum dikasih lunas kok mau kosongin tempat saya, jelas saya keberatanlah. Atau mari kita sama-sama duduk bicarakan win-win solusinya bagaimana, saya siap supaya kita sama sama enak," tegasnya.

Sony mengaku kecewa dengan aksi yang mirip premanisme tersebut. Apalagi, kejadian ini berlangsung di kampung turis. Sehingga dikhawatirkan akan dapat mempengaruhi pariwisata. "Tadi saya datang rame sekali. Banyak wisatawan asing disini juga. Sangat disayangkan pakai cara-cara seperti ini. Bahkan, saya dipersilahkan mereka untuk lapor polisi supaya kami selesaikan secara hukum tapi mereka tidak mau," pungkasnya.

Sementara itu Feric Setiawan menyampaikan, tidak tahu soal rencana penutupan dan pengambilalihan toko Mayang Bali itu. "Saya tidak tau. Ada teman saya yang urus. Saya capek, mau istirahat. Terimakasih," ujarnya singkat.

(bx/afi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia