Selasa, 19 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Tekan Harga dan Jaga Pasokan

Bangli Dapat Jatah 100 Ha Pengembangan Bawang Putih

08 Mei 2019, 07: 35: 22 WIB | editor : Nyoman Suarna

Bangli Dapat Jatah 100 Ha Pengembangan Bawang Putih

RESAH: Pedagang di Pasar Kidul, Kabupaten Bangli sempat resah dengan kenaikan harga bawang putih, belum lama ini. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Kabupaten Bangli mendapat jatah 100 hektar (Ha) di wilayah Kintamani untuk pengembangan kawasan tanam bawang putih. Diharapkan nantinya bisa menjaga pasokan dan menekan lonjakan harga yang selama ini terjadi. Proyek itu bersumber dari Kementerian Pertanian yang diajukan Dinas Peternakan, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli tahun 2018.

Seperti diketahui, harga bawang putih di pasaran selalu meroket. Ini tak terlepas dari minimnya stok dan tingginya konsumsi. Jumlah produksi dalam negeri yang minim, membuat pemerintah melakukan impor bawang putih. Kondisi ini membuat Kementerian Pertanian menggenjot pengembangan kawasan, terutama di wilayah Indonesia timur.

Kepala Bagian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas PKP, Kabupaten Bangli, I Wayan Tagel Sujana menjelaskan, penetapan penerima bantuan sarana produksi bawang putih dikeluarkan melalui lampiran keputusan 9 April 2019. Penerima merupakan lima kelompok tani dari tiga desa, yakni Belandingan, Terunyan, dan Songan, di Kecamatan Kintamani.

Berdasarkan data, pengembangan kawasan di Desa Belandingan mencapai 20 Ha. Kemudian di Desa Terunyan terdapat tiga kelompok penerima. Totalnya seluas 70 Ha. Sedangkan di Desa Songan seluas 10 Ha.

 "Program pusat ini tanggung jawabnya ada di Pemprov Bali (Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan). Dinas PKP Bangli hanya sebagai pelaksana yang menyiapkan calon petani dan calon lahan," terang Tagel kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Selasa (7/5).

Pada 2019 ini, Dinas PKP Bangli mulai menggenjot petani di Kintamani untuk menanam bawang putih. Wilayah yang selama ini berpotensi seperti Desa Sukawana, Pinggan, Belandingan, dan Dausa lebih dioptimalkan. "Ketinggiannya di atas 1.000 meter dpl (di atas permukaan laut). Jadi cocok ditanami bawang putih. Kalau optimal, pemerintah bisa swasembada," terangnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pengembangan kawasan juga difokuskan untuk bawang merah dan jeruk. Area tanam bawang merah dan umbi seluas 30 Ha. Untuk bawang merah dan biji 5 Ha. Kemudian program ekstensifikasi (perluasan wilayah yang belum dimanfaatkan manusia) dan intensifikasi (memaksimalkan produktivitas yang telah ada) juga digenjot. Pengembangan ekstensifikasi jeruk 50 Ha, dan intensifikasi jeruk 15 Ha.

(bx/aka/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia