Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Ragam Kuliner Pasar Ramadan Kampung Jawa

Sate Susu Paling Diburu, tapi Bahannya Susah Dicari

08 Mei 2019, 22: 28: 39 WIB | editor : Nyoman Suarna

Sate Susu Paling Diburu, tapi Bahannya Susah Dicari

KHAS RAMADAN: Salah seorang pedagang mengipas sate di Pasar Ramadan, Dusun Wanasari atau Kampung Jawa, Jalan Ahmad Yani, Denpasar. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Bagi warga Kota Denpasar yang sering melintas di daerah Dusun Wanasari atau Kampung Jawa, Jalan Ahmad Yani, Denpasar pasti tidak asing lagi dengan rutinitas unik setiap bulan puasa. Pasar Ramadan Kampung Jawa selalu menjadi rujukan favorit pecinta wisata kuliner. Salah satu yang diburu tentu saja sate susu.

Menjelang sore, sekitar pukul 15.00, sepanjang gang di sebelah Masjid Baiturrahmah mulai tampak kesibukan. Para pedagang Pasar Ramadan menata jualannya. Karena tak lama lagi, tempat itu bakal tumpah ruah oleh manusia. Ya, Pasar Ramadan memang tak pernah sepi. Setiap tahun selalu ramai.

Berbagai jenis makanan mulai tersaji di atas meja penjual. Ragam etnis yang ada di Kampung Jawa melahirkan ragam kuliner yang unik. Untuk diketahui, ada beberapa suku di Kampung Jawa. Antara lain, Bugis, Jawa, Bali, dan Madura. Suku terakhir cukup mendominasi jumlah populasi.

Beberapa jenis kuliner memang buah dari akulturasi budaya. Contohnya, ada sayur urap khas Kampung Jawa yang bisa dengan mudah ditemui di Pasar Ramadan. Rasanya unik. Berbeda jauh dengan urap Jawa yang cenderung manis. Bahkan, rasanya lebih mirip dengan lawar, meski tanpa campuran daging. Ada pula jukut bejek atau sayur bejek. Sayurannya mirip urap, tetapi dominan kacang panjang. Bumbunya berwarna kuning, dan agak basah.

Beragam jenis sate yang jadi favorit di sini juga tampak lahir dari akulturasi budaya, misalnya sate plecing khas Bali. Ada pula namanya sate asem. Ini sate daging sapi yang disebut berasal dari warga muslim Karangasem. Disebut sate asem karena memang bumbunya menggunakan asam. Di antara semuanya, satu jenis sate yang sudah tersohor adalah sate susu.

Bali Express terhenti di salah satu lapak. Seorang ibu sedang sibuk menata barang dagangannya. Siti, nama penjual tersebut. Berbagai jenis sate berjejer di atas mejanya. “Ini ada sate susu sapi, sate usus, sumsum, dan daging (sapi, Red). Ayo beli,” begitu rayunya sembari mengeluarkan sate susu sapi dari kotaknya.

Sate susu sapi sendiri menjadi salah satu incaran masyarakat pembeli. Betapa tidak, sate unik ini diklaim hanya ada di Kampung Jawa. Sate susu selalu jadi incaran pembeli. Pembeli yang rindu dengan makanan tersebut, juga penasaran seperti apa rasa sate susu sapi tersebut mulai sibuk bertanya.

 “Sate sumsum tulang belakang sapi saja yang harganya Rp 1.000. Kalau yang lain seporsi harganya Rp 25 ribu dapat 10 tusuk tidak dengan lontongnya,” terang Siti yang mengajak dua anaknya berdagang. Sebelumnya, ia menjual sate tepat di depan rumahnya. Sehubungan dengan adanya Pasar Ramadan, ia pun ikut berpartisipasi berjualan mulai dari hari pertama.

Ia bercerita bahwa pertama kali belajar membuat sate susu dari lingkungan sekitar Kampung Jawa. “Sate susu hanya ada di Kampung Jawa. Kemarin saya jualan, habis semua. Saya belajar buatnya dari mertua,” jelas perempuan asli Madura tersebut.

Ia menambahkan, untuk pasokan daging sapi tidak setiap hari didapatkannya. “Paling 4—5 kilogram. Tidak setiap hari dapat. Kalau bangunnya pagi, ke pasar, dapat dagingnya. Seandainya tidak dapat daging, ya terpaksa tidak jualan. Makanya kalau dapat, tidak dipakai semua. Kalau sate dagingnya kan bisa dipakai semua. Kalau susu tidak bisa dipakai semua. Banyak yang dibuang. Kalau masih kulitnya, gak dijual. Susah carinya,” terangnya sembari mengeluhkan mahalnya bahan dasar untuk membuat bumbu.

Saat ditanyai mengenai modal awal, ia membutuhkan sebesar Rp 3 juta. “Saya menghabiskan uang sampai Rp 1 juta untuk bumbunya. Kalau keuntungan masih belum tahu karena modal sedang berputar. Keuntungan mulai terlihat saat akhir bulan penjualan. Allhamdullilah, sehari bisa jualan 1.000 tusuk. Saya mulai masak dari pukul 03.30 subuh. Kalau daging, saya punya orang khusus untuk belikan daging. Pukul 12.30 baru selesai masaknya. Butuh waktu yang banyak. Sapi sekarang sekilo bisa sampai Rp 70 ribu (daging kelas 3, Red),” jelasnya.

Selain penjual sate unik, terlihat seorang ibu yang menjual pepes telur ikan. “Yang jual pepes telur ikan hanya saya dan ipar saya. Saya jual Rp10.000. Resepnya iseng saja buat sendiri dulu,” jelas Ibu Kun. Selain itu, dia juga menjual lauk lainnya. Misalnya, menjual sambal kentang, gurami manis, dan berbagai bentuk pepes lainnya.

Bali Express kembali membentangkan mata menyapu pandangan ke semua sudut. Sore hari yang ramai tersebut mulai sesak dipenuhi pembeli sekitar pukul 17.00. Mereka terlihat menyerbu penjual kurma. Harga kurma bervariasi. Mulai Rp 20 ribu hingga Rp 60 ribu. Selain itu, penjual es, kolak, pudding, dan jajanan pasar lainnya diserbu pembeli.

(bx/aim/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia