Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Di Petulu Gunung, Anak-anak Antri Jadi Watangan Matah dalam Calonarang

09 Mei 2019, 17: 53: 41 WIB | editor : I Putu Suyatra

Di Petulu Gunung, Anak-anak Antri Jadi Watangan Matah dalam Calonarang

PEMANGKU: Jero Mangku Warsa spesialis watangan matah pementasan calonarang saat ditemui di rumahnya, Dusun/Desa Petulu Gunung, Kecamatan Ubud, Kamis (9/5). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR - Setiap pementasan calonarang kurang menarik jika tanpa dilengkapi dengan adanya watangan matah. Jika diibaratkan sebuah sambal yang kurang terasi. Ketika dilengkapi watangan matah dan diperankan oleh orang dewasa tentu juga sudah biasa. Namun sangat luar biasa jika hal itu dilakoni oleh anak-anak.

Seperti halnya dengan pementasan calonarang yang berlangsung di Pura Sakenan, Dusun/Desa Petulu Gunung, Kecamatan Ubud, Minggu (5/5). Watangan matahnya diperankan oleh anak yang berumur 13 tahun. Sehingga pementasan calonarang sempat membius penonton  terkagum-kagum.

Jero Mangku Warsa, pemangku yang memprakarsai watangan matah mengaku pengayah anak-anak menjadi watangan di desanya sudah hal biasa. Bahkan dijelaskan setiap menjelang pementasan calonarang kadang anak-anak desa setempat berebutan agar bisa ngayah.

“Kalau di Desa Petulu Gunung ini sebelum tahun 2000-an sudah banyak anak-anak yang ngayah menjadi watangan matah. Itu pun tidak hanya di dalam desa saja, terkadang kita juga ngayah sampai luar kecamatan Ubud. Payangan, Tegallalang sampai Gianyar,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Kamis (9/5).

Supaya tidak rebutan untuk ngayah mejadi watangan, ia selaku koordinator memilih untuk gantian secara bergilir jika ingin ngayah. Sehingga semua anak-anak yang tertarik dapat semua merasakan ngayah. Mereka yang menjadi watangan diungkapkan dari umur 10 tahun sampai 20 tahunan.

“Mereka juga tidak yang laki-laki saja, perempuan juga ada. Ini artinya antusias anak-anak sebagai generasi muda untuk ngayah cukup tinggi. Karena ngayah jadi watangan bukan main-main, nyawa taruhannya,” terang Jero Mangku Warsa.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengaku tidak jarang mendapatkan rintangan atau gangguan secara niskala saat pementasan. Berupa melihat api, sampai perwujudan kera. Namun ia hanya berpegang teguh dengan prinsip awalnya, yakni ngayah dengan tulus. Sehingga gangguan secara niskala tersebut bisa ia atasi dengan baik tanpa merusak pementasan.

Disinggung apa yang harus dilakukan sebelum dan pasca ngayah, ia mengatakan terdapat beberapa hal yang harus dijalankan. Pertama dikatakan harus menjalankan puasa sejak tiga hari sebelum ngayah, yakni tidak makan daging. Sedangkan pada sehari sebelum ngayah harus puasa total.

“Tujuan puasa suapaya ketulusan kita sebagai pengayah dapat berjalan dengan harapan. Selain itu juga untuk lebih mudah menyatukan Bhuana Agung dan Bhuana Alit yang nantinya akan mati suri selama pementasan,” tukasnya.

Ngayah menjadi watangan juga disebutkannya sebagai keberanian diri untuk menyerahkan diri kepada Tuhan. Lantaran sebagai penyomian bhuta kala maupun unsur panca maha bhuta dengan nyeda raga. Dengan puasa juga dikatakan dapat menjaga fikiran tidak mudah terpancing dengan gegodaan yang ada, melainkan betul-betul tulus ngayah.

“Saya ngayah juga awalnya dari petunjuk niskala. Bahwa diminta ngayah sebagai watangan, makanya di rumah saya ini cenik, kelih, tua, bajang hingga ke cucu-cucu saya sudah sempat ngayah jadi watangan matah,” papar Jero Mangku Warsa.

Meski jika hal terburuk bisa menimpanya setiap saat, dan nyawa taruhannya ia mengaku hanya menyesiasati dengan mengontrol emosinya saja jika terdapat gangguan niskala. “Mati surinya hanya satu jam selama di kalangan, setelah mau keluar kalangan dibangunkan lagi. Hal yang bisa dibanggakan ngayah jadi watangan jele melah itu bisa kita bawa dalam kehidupan ini. Terbukti apapun yang dari alam akan kembali ke alam,” pungkasnya.

Ia menambahkan, setelah ngayah wajib untuk datang ke tanah pamuunan yang ada di kuburan. Tujuannya dijelaskan sebagai kembalinya panca maha bhuta agar kembali dan bersthana di Pura Dalem kembali. “Supaya panugrahaan di somia atau dikembalikan yang berupa kala, dan berupa durga menjadi seimbang,” imbuhnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia