Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Jelang Saraswati, SMP N 1 Gianyar Jaga Tradisi Lomba Gebogan

10 Mei 2019, 18: 06: 06 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jelang Saraswati, SMP N 1 Gianyar Jaga Tradisi Lomba Gebogan

GEBOGAN: Siswa SMP Negeri 1 Gianyar tengah memindahkan gebogan yang dilombakan rangakaian Hari Suci Saraswati, Jumat (10/5). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR – Sehari sebelum pelaksanaan hari suci Saraswati siswa SMP Negeri 1 Gianyar seperti biasa melakukan lomba membuat gebogan. Selain memang untuk dipersembahkan, gebogan untuk dilombakan itu juga sebagai tradisi yang turun temurun dilakukan sejak SMP ternama di Gianyar itu berdiri. Hal itu diakui oleh Kepala Sekolah SMP N 1 Gianyar, Dewa Nyoman Bawa saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (10/5).

Ia mengaku peserta lomba melibatkan semua kelas yang ada. Yakni sebanyak 24 kelas dari kelas VII sampai kelas IX. “Lomba gebogan ini bukan baru-baru ini kita buat kalau menjelang Saraswati. Melainkan sudah puluhan tahun lalu, secara turun temurun bahkan kami anggap sebagai tradisi. Tujuannya selain membiasakan siswa bisa membuat gebogan juga sebagai langkah kita tetap menjaga tradisi adat dan budaya kita di Bali,” paparnya.

Setiap kelas dikatakan perwakilannya sebanyak enam siswa, bisa perempuan maupun yang laki-laki. Seluruh bahan juga dikatakan tidak boleh menggunakan buah impor, melainkan harus menggunakan buah lokal. Prosesnya, semua pengerjaan harus dilakukan pada sekolah. Mulai membuat sampian, menata buah, hingga membuat canangnya.

“Mereka membuat gebogan dengan dana swadaya atau uang kas kelasnya masing-masing. Sedangkan hadiahnya itu hanya mendapatkan piagam penghargaan dan berupa alat tulis maupun keperluan sekolah. Meski hadiahnya tidak terlalu, namun antusias mereka sangat tampak saat membuat gebogan tadi,” pungkas Dewa Bawa.

Selain gebogan, pihaknya juga beberapa tahun lalu sempat melombakan pembuatan penjor. Namun itu dikatakan tidak efektif dan menghabiskan uang yang lumayan banyak. Sehingga hanya dilombakan berupa pembuatan gebogan saja. “Kalau gebogan kan bisa ditunas lungsurannya, mereka yang bikin, mereka lomba, dapat atau tidak juara mereka tetap bisa menikmati lungsuran,” pungkasnya.

Ia menambahkan, langkah tersebut sebagai membiasakan diri siswa untuk bisa membuat gebogan. Dengan demikian siswa juga dapat pengetahuan tentang gebogan selain pembelajaran secara teori dilakukan sehari-hari di dalam kelas.

Salah satu peserta lomba, Putu Nita yang mengaku baru kelas VII mempersiapakan bahan untuk lomba sejak dua hari lalu. Mulai dari mempersiapkan dulang, membeli janur, hingga buah-buahan lokal. “Persiapannya sudah sejak dua hari lalu, kita kumpulkan dulu bahannya di rumah baru tadi pagi langsung dibawa sebelum lomba. Untuk dana yang dihabiskan sekitar Rp 300 ribu,” imbuhnya.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia