Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Mediasi Dugaan Penganiayaan di Siswi SMA Pariwisata Saraswati Buntu

10 Mei 2019, 18: 17: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Mediasi Dugaan Penganiayaan di Siswi SMA Pariwisata Saraswati Buntu

BUNTU: Kepala SMA Pariwisata Saraswati Klungkung I Gusti Made Suberata (kiri) saat berada rumah siswi yang mengaku dianiaya, Jumat (10/5). (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Dugaan penganiayaan siswi SMA Pariwisata Saraswati Klungkung Ni Komang Putri,18, oleh kepala sekolahnya I Gusti Made Suberata, berlanjut. Upaya menyelesaikan persoalan yang dilakukan Suberata dengan datang ke rumah siswa di Dusun Tojan Kaler. Desa Tojan, Klungkung, Jumat (10/5), tidak ada titik temu. Orang tua siswi  Wayan Sute Sedana memastikan kasus yang telah dilaporkan itu tetap berlanjut.

Dalam mediasi itu, Suberata didampingi Waka Kesiswaan Made Kasjana dan beberapa orang dari sekolah setempat. Sebagai mediator Kepala Dusun Tojan Kaler Komang Jayan Tika. Hadir pula Bhabinkamtibmas Tojan Aiptu Ketut Nartha. Suberata kepada orang tua siswi menegaskan, kedatangannya ke sana untuk klarifikasi, minta maaf dan berupaya menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan. Suberata sempat menerangkan bahwa saat kejadian anak tersebut tidak ada sampai keluar darah.

“Kami datang mau klarifikasi, minta maaf. Kalau tidak bisa, ya kami serahkan,” ujar Suberata setelah pihak keluarga memastikan kasus itu tetap berlanjut.

Sute Sedana kepada wartawan usai mediasi menegaskan, pihaknya tetap pada pendirian membawa kasus itu ke jalur hukum. Hal itu agar dunia pendidikan tidak tercoreng oleh oknum guru. Ia menyadari, sekolah sebagai tempat mendidik anak. Namun tidak dibenarkan didikan sampai terjadi kekerasan. Selain kekerasan fisik, dugaan penganiayaan itu membuat Putri trauma. Sejak kejadian itu anaknya terus menangis. Hal itu juga terlihat saat mediasi, Putri sempat menangis hingga diajak masuk kamar.

“Kalau dibiarkan, ini menjadi tidak baik bagi dunia pendidikan. Anak saya berangkat sekolah sehat, pulangnya berdarah-darah. Saya sebagai orang bodoh menilai, mendidik anak bukan begitu caranya,” tegas dia.

Sedana mengaku melihat sendiri anaknya berdarah. Itu saat dia menjemput anak ketiganya itu di sekolah setelah terjadi dugaan penganiayaan. Darah tidak hanya terlihat di bibir yang luka. Namun sampai bajunya kena darah. Saat menjemput anaknya, Sedana juga mengaku sempat bertemu dengan kepala sekolah, dan menyampaikan akan membawa persoalan itu polisi. 

“Saya bilang akan lapor polisi. Jawaban kepala sekolahnya, silahkan saja. Ya saya laporkan. Baju yang berisi darah sudah diamankan polisi,” tandasnya.

Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Mirza Gunawan mengatakan laporan Putri masih didalami. Darah yang ada pada baju korban perlu dipastika, apakah darah akibat kekerasan atau hal lain. Pihaknya juga belum sempat minta keterangan kepala sekolah sebagai terlapor.

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia