Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

“Salam Ngarit” dan Upaya Mem-Bali-kan Sepakbola di Bali

Oleh: Made Adnyana Ole

11 Mei 2019, 07: 57: 45 WIB | editor : I Putu Suyatra

“Salam Ngarit” dan Upaya Mem-Bali-kan Sepakbola di Bali

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

SAYA kaget ketika tiba-tiba dikirimi link facebook oleh seorang teman pemerhati bahasa Bali, lewat WA. Tentu saja kaget. Karena saat link dibuka muncul gambar baju kaos bertuliskan “Salam Ngarit” (tampak belakang) dan logo Bali United di bagian dada (tampak depan). 

Apa maksudnya saya dikirimi gambar baju kaos? Disuruh beli? Sejak kapan teman saya yang tampaknya tak begitu hirau dunia sepakbola itu ikut promo jual merchandise Bali United? Tapi, tunggu dulu. Dari salam khas berbahasa Bali di baju kaos itu ingatan saya jadi melesat kepada seseorang, petani muda di sebuah dusun pertanian di Tabanan.

Suatu ketika, matahari sedang berada di atas kepala, saya pulang kampung dan melewati sebuah jalan berhotmik yang di kiri-kanan masih membentang persawahan luas dengan latar gugus gunung Batukaru di utara. Saya berhenti karena kebelet kencing.  Saya berhenti di sisi semak yang agak rimbun. Begitu mengeluarkan “pistol” dari dalam celana, tiba-tiba seseorang menyembul dari jalan setapak. Tak saya sadari ternyata jalan itu berada di sela-sela rerimbunan. Anak muda itu kaget melihat saya. Saya pun bukan main kaget. Ia memikul sanan bambu yang di kedua ujungnya tergandeng kerajang penuh berisi rumput. Untuk sementara saya kembalikan “pistol” ke dalam celana. Lalu mencoba menetralkan suasana dengan menyapa anak muda itu?

“Beh, mesegseg keranjange. Kude ngubuh sampi, Gus?”  (Wah, kepenuhan keranjangnya. Berapa pelihara sapi, Gus?)

“Dua, Pak!”  jawabnya singkat sembari berusaha keluar dari rimbun, karena satu ujung keranjangnya nyangkut di ranting semak.  

“Dadi tengai-tengai ngarit, sing panes, Gus?” (Kok siang-siang menyabit rumput, tak kepanasan, Gus?)

“Pang sanjane sing ngarit buin. Sube antiange jak timpale, kal mebalih Bali United ke Gianyar!”  (Biar sorenya tak menyabit lagi. Sudah ditunggu teman-teman, akan menonton Bali United ke Gianyar.)

Begitu sampai di tepi jalan berhotmik, langkah anak muda itu tergesa, mungkin kandang sapinya masih jauh dan dua sapinya sudah memanggil-manggil sejak pagi. Saya sendiri mengeluarkan “pistol” lagi. Cooooorrrr… 

Peristiwa itu sudah agak lama, sekitar satu setengah tahun, mungkin lebih. Saat Bali United memang sedang dielu-elukan warga Bali. Cerita ini saya tulis berdasar ingatan, mungkin tanpa sadar sudah saya dramatisasi agar menarik. Tapi yang jelas, saya punya simpulan: anak muda petani itu adalah pemuda Bali yang giat dan mandiri, jemet ngarit, pelihara dua sapi, dan pecinta Bali United. Sebuah kombinasi yang agak unik.

Saya menebak, mungkin anak muda yang memergoki saya kencing itu, yang manjakin keranjang padang, itu sudah punya baju kaos “Salam Ngarit” seperti yang dipasang pada laman facebook yang link-nya dikirim oleh teman saya itu. Mungkin bukan satu baju, mungkin dua. Bukankah ia cocok mengenakan baju Salam Ngarit karena sehari-hari ia menjadi tukang arit rumput sekaligus juga penggemar Bali United.

Kombinasi unik petani-peternak-buruh-fans berat tim sepakbola, sesungguhnya sudah jadi sejarah di Eropa. Klub-klub yang bertanding di Liga Inggris atau Liga Spanyol misalnya, banyak memiliki penggemar fanatik dari kalangan petani dan buruh. Ketika timnya bertanding, mereka akan cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, atau bahkan minta libur pada majikannya agar bisa total menonton tim kesayangan mereka.

Bali United sudah berhasil menggaet penggemar dari berbagai kalangan di Bali, mulai dari pengusaha, mahasiswa, pegawai negeri, hingga petani. Para penggemar itu tampak bangga mengenakan berbagai atribut Bali United untuk membuktikan betapa besar dukungan mereka terhadap klub sepakbola terbesar di Pulau Dewata itu.

Dulu, jauh sebelum Pemprov Bali mengeluarkan peraturan wajib berbahasa Bali pada hari Kamis dan menerapkan Bahasa Bali pada berbagai program, terutama program seni dan kebudayaan, di Bali United pernah terjadi semacam euforia berbahasa Bali. Itu terjadi ketika Ilija Spasojevic, sebagaimana disiarkan sebuah media, mengaku sudah bisa berbahasa Bali.  Pemain yang akrab dipanggil Spaso tersebut belajar bahasa Bali bersama pemain lokal seperti Agus Nova, Made Andhika Wijaya, dan Ngurah Nanak dan pemain Bali lainnya. Spaso beberapa kali juga sempat berbicara menggunakan bahasa Bali.

Artinya, ada keinginan-keinginan dari banyak pihak, termasuk penggemar di Bali, agar Bali United benar-benar menjadi Bali. Artinya, secara lebih luas, permainan sepakbola, bisa saja menjadi bagian dari kebudayaan Bali sebagaimana seni pertunjukan semacam sendratari, drama gong atau gong kebyar. Artinya lagi, jika masyarakat jenuh menonton berbagai pertunjukan seni di Pesta Kesenian Bali, misalnya karena monoton dan begitu-begitu saja, sepakbola bisa menjadi alternatif tontonan masyarakat Bali. Tinggal bagaimana sepakbola diberikan roh dan jiwa ke-Bali-an, agar terasa seperti bagian dari kebudayaan Bali, atau nanti benar-benar menjadi bagian dari kebudayaan Bali, bukan terasa seperti bagian dari kebudayaan Eropa atau Amerika Latin yang kebetulan saja disukai di Bali.

Mungkin dengan begitu, dengan memberi roh dan jiwa ke-Bali-an, perkembangan olahraga prestasi di Bali bisa melesat karena ia dianggap sebagai bagian dari kehidupan berbudaya, sebagaimana kita menganggap kesenian tradisional sebagai bagian dari jiwa kita. Sebab, selama ini, jika bicara soal budaya tontonan dan hiburan, sepertinya perhatian kita, baik perhatian moral dan finansial, lebih banyak terfokus kepada seni-budaya, itu pun kebanyakan seni budaya tradisional yang selalu dikait-kaitkan dengan tingkat kunjungan pariwisata. Hal-hal lain, seperti teater modern, apalagi sepakbola, seakan-akan seperti budaya tontonan yang numpang di Bali. Padahal tingkat keramaian penontonnya mungkin sama atau lebih banyak dengan ramainya pengunjung Pesta Kesenian Bali.    

Dulu, saat kecil, ketika TV hanya berisi TVRI, ketika saya belum pernah menonton banyak pertandingan Liga Eropa, saya sempat menganggap sepakbola hanya ada di Bali. Bahkan saya menganggap ia sama adiluhungnya dengan kesenian arja dan janger yang saat itu berkembang di desa saya. Tentu saja, selain karena selalu dipertandingkan antarkampung, baik pertandingan persahabatan maupun kompetisi resmi semacam Pordes, sepakbola hampir menjadi kegiatan rutin anak-anak dan orang tua setiap sore sebelum mandi di pancuran atau di sungai. Lapangannya lebih banyak tegalan atau sawah yang dikeringkan.

Selain itu, saat itu, sepakbola benar-benar terasa Bali, karena sejumlah istilah dalam sepakbola diucapkan seperti Bahasa Bali. Salah satunya free kick (tendangan bebas) diucapkan dengan kata prikik. Bahkan arti katanya pun di Bali berubah total. Prikik dalam sepakbola di Bali artinya melanggar atau curang. Bahkan, di luar sepakbola kata prikik diadopsi dalam berbagai pergaulan sosial, termasuk politik. Jika ada tokoh politik yang curang dalam kampanye misalnya, maka tokoh politik itu biasa disebut prikik.

Jadi, sepakbola memang pernah terasa sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan orang-orang biasa di Bali, terutama orang-orang biasa di pedesaan. Buktinya, ia menghasilkan kata prikik yang disepakati punya arti curang di Bali. Nah, mungkin karena sepakbola kini menjauh dari kehidupan budaya pedesaan, maka kata prikik akhirnya merajalela di dunia politik. Dan itu sungguh tak asyik. (*)

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia