Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Menguak Sisi Lain Saraswati dan Banyu Pinaruh

11 Mei 2019, 08: 54: 11 WIB | editor : I Putu Suyatra

Menguak Sisi Lain Saraswati dan Banyu Pinaruh

BANYU PINARUH : Banyu Pinaruh tak hanya mandi atau malukat di laut, namun ada esensi yang lebih penting yang mesti diedukasikan pada umat. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Hari Raya Saraswati yang jatuh Saniscara Umanis Watugunung, Sabtu (11/5) 2019, diperingati sebagai hari turunya ilmu pengetahuan. Umat Hindu merayakannya dengan sangat antusias. Namun, kenapa Dewi Saraswati, bukan dewi lainnya?

Saat Saraswati  pada umumnya pelajar dan mahasiwa biasanya melakukan persembahyangan di  tempat masing-masing. Buku semua diberikan sesaji dan bagi para Bagian (pengusadha) atau tetua yang masih menyimpan lontar pada umnya akan membuat sesaji sebagai bentuk  puji syukur atas pengetahuan yang sudah dianugerahkan. Lantas, Benarkah Hari Raya Saraswati makna dan pesanya hanya sebagai turunya ilmu pengetahuan semata? 

Tokoh spiritual asal Karangasem yang juga menjadi pemangku di Pura Kahyangan Tiga di Karangasem, Jro Mangku Gede Mahendra mengatakan, bila berpikir dan mengkaji jauh kebelakang saat Zaman Majapahit, banyak sekali adanya sekte percampuran mazab yang besar antara Hindu dan Budha menjadikan Nusantara sangat kaya dengan ajaran linuih. Begitu juga dengan Sekte Sakti." Yang dimaksud Sakti  adalah nama lain dari kekuatan feminim dari Purusha para dewa," ujar pria yang akrab disapa Jro Agni Barada kepada Bali Express (Jawa Pos Group) kemarin di Denpasar.


Dikatakannya, Sekte Sakti yang masuk ke Bali adalah Panca Devi, yakni lima devi (dewi) yang memilki kesaktian amat tinggi  Sarasvati,  Gangga,  Parvati,  Durga, dan  Savitri. "Hal ini termuat dalam Sutra Gangga 34.9. Pemujaan yang paling populer adalah Sarasvati, dan kala itu Brahmaism menjadi duta dari Jawa yang memilki banyak pengikut, " beber pria yang juga seorang pengusadha ini.


Namun sesampainya di Bali, lanjutnya, Sekte Brahmaism tidak terlalu populer dan kemudian di gantikan dengan ajaran Sakti, dan otomatis ajaran Sakti ini sangat populer dari dulu hingga kini.
Ajaran Sakti yang paling  diperingati adalah Saraswati. Kenapa tidak Durga atau Savitri misalnya?


Karena ajaran Saraswati kala itu dipraktekkan oleh kaum Brahmin yang sangat memuja dua aspek, yaitu Gangga dan Surya dalam hal ini saktinya adalah Savitri yang dikenal dengan Gayatri. Adapun para Brahmin memuja Saraswati, lanjutnya, sebagai wujud dari kaum kecerdasan kala itu. Hal itu dikuatkan  bait mantra dalam Lontar Puja Pangarad Dewa :  Ong, rep aji saraswati ring pangkal lidahku, mayoga weruh sakti puja muang mantra. Dalam Lontar Panestian Sekama-kama ditulis juga sebuah bait mantra magis yang sampai kini sangat populer di kalangan pengusadha : Ong mijil sanghyang aji Saraswati ring sarwa pangurip bayu sabda idep. "Inilah jadi bagian, betapa ajaran Saraswati sangat berpengaruh pada isi lontar-lontar yang sangat linuih," bebernya.


Di sisi lain, pesan dari Banyu Pinaruh yang biasa dilakukan setelah Saraswati terkuburkan. Dijelaskan Jro Mangku Mahendra, muasal dari Banyu Pinaruh adalah etimologi dari bahasa Jawa kuno yang dulu namanya Banyu Mili atau air yang mengalir. Maksudnya,  ilmu pengetahuan itu mengalir, menular, meresap laksana air. Namun sampai di Bali mendapat serapan bahasa weruh/wikan dan umum disebut Banyu Pangweruh yang maknanya juga sama. "Yang sangat disayangkan adalah pesan dari Banyu Pinaruh ini kabur. Masyarakat hanya Malukat saja ke sungai atau pantai, padahal sejatinya adalah ajaran dari Panca Sakti yaitu Dewi Gangga dalam Gangga Purana disebutkan, setelah seseorang disucikan pikiranya oleh ilmu dari Saraswati, maka pujalah Dewi Gangga, karena Dewi Gangga lah yang memberikan kehidupan. Dewi Gangga yang membebaskan dari kekotoran batin.


Dalam Gangga Sutra 10.9 disebutkan :  "Wahai Nawita, setelah kamu mendapatkan semua ilmu yang diturunkan oleh Sakti Brahma, maka segeralah memuja Dewi  Gangga, karena  Gangga Dewi lah yang akan memberikan kekuatan yang luar biasa."

 
Dari sinilah, lanjutnya, umat salah mengartikan bahwa saat Banyu Pinaruh ramai-ramai mandi atau Malukat ke pantai, padahal disuruh untuk memuja Dewi Gangga, bukan mandi. Untuk membenarkan teks mandi, lontar atau kajian menyitir maka Banyu Milir dijadikan kajian bahwa ilmu itu mengalir bagaikan air sehingga menghilangkan kekotoran dan kebodohan, bagai api mengusir gelap.


"Paham ini sengaja tidak dipopulerkan zaman dahulu karena kepentingan berbagai macam sekte, termasuk politik saat itu. Kita tidak menyalahkan siapapun, namun sebagai Jro Mangku paham arti sesungguhnya dan bisa dijabarkan kepada umat yang bertanya," ujarnya.


Semua itu, lanjutnya,  sangat masuk akal  kenapa pemujaan Gangga tidak populer karena juga keterbatasan informasi kala itu. "Jika kita amati saat ini, bukankah para suci ( sulinggih, pemangku) tahap awal dalam Puja Bhakti harus memuja Dewi Gangga dengan bait mantra Gangga Stotra. Jadi, sesungguhnya Banyu Pinaruh adalah pemujaan Dewi Gangga yang tidak populer secara umum," urainya.


Ditambahkan Jro Agni Baradah, dalam Lontar Usada Banyu ditulis dalam lembar ke-4 tentang tata cara memuja air sebagai sarana pengobatan, seperti bait mantra berikut ini: Ong pakulun Sanghyang Aji Saraswati ring aksara windu, Sanghyang Gangga Dewi ring banyu, angelebar sarva dasa mala ring angga, matemahan teluh desti, gering pada tungkul, aksara Ung ring tengahing banyu, angurip sarwa mantraku, Ong Gangga murti sampurna.


"Nah dari naskah-naskah lontar ini jelas bahwa pemujaan Gangga zaman dahulu pernah subur, hanya saja agak tertutup dan terbatas pada orang-orang tertentu," paparnya. Jro Agni Baradah menjelaskan, lontar Usada Banyu ini juga membeber, tatkala ada orang sakit akibat Salah Weton, maka sangat dianjurkan untuk Malukat pada hari Banyu Pinaruh dengan Sarana tiga air, yaitu air laut, air kelebutan, dan air kelapa bulan. Malukat dilakukan pagi hari, dan jika memungkinkan lakukan di Pura Prajapati.


Dilaksanakan di Pura Prajapati, lanjutnya, karena dari nama sudah sangat jelas, dimana  Praja yang bermakna penguasa, sedangkan Pati adalah kematian.  Jadi, hari lahir mitosnya hari kematian, juga  dewa yang memengaruhi adalah Prajapati. "Efek Salah Weton adalah sering mimpi buruk, sering sakit saat kecil, dan jika sudah besar akan sering sial, " ungkapnya.
Yang dimaksud Salah Weton  (salah hari), misalnya seseorang lahir pada hari Minggu jam satu (1) malam. Nah disinilah orang akan bingung memakai hari Minggu atau Senen, tergantung apakah memakai Candra Sangkala atau Surya Sangkala.


Dijelaskannya, Candra Sangkala berlaku memakai aturan rotasi bulan pada malam hari dimulai dari jam 6 sore sampai jam 6 pagi. Artinya, anak itu lahir pada hari Minggu, kendati dalam jam nasional sudah terbilang hari Senin.Sedangkan Surya Sangkala memakai hitungan matahari terbit ke tenggelam.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia