Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Perayaan Saraswati Kontemplasi Generasi Hindu Sikapi Hoax

11 Mei 2019, 08: 59: 32 WIB | editor : I Putu Suyatra

Perayaan Saraswati Kontemplasi Generasi Hindu Sikapi Hoax

Ida Bagus Wika Krisnha (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Hari ini seluruh umat Hindu merayakan Hari Saraswati. Hari raya yang diperingati setiap enam bulan sekali (210 hari), tepatnya Umanis Saniscara Wuku Watugunung diyakini sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan. Bahkan, dalam berbagai lontar di Bali disebutkan "Hyang Hyangning Pangewruh."

Tentu saja, perayaan Saraswati yang dirayakan oleh para pelajar maupun akademisi tidak hanya dipahami secara tataran simbolis semata. Namun meski diimplementasikan dalam konteks kekinian.

Apakah itu? Menurut Ida Bagus Wika Krisnha S.Ag, M.Si, dosen STAH Mpu Kuturan Singaraja ini mengungkapkan generasi muda Hindu mestinya melakukan kontemplasi ketika memaknai Hari Raya Saraswati. Sebab, perayaan hari Saraswati ini bisa dijadikan titik balik untuk lebih bijaksana dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan bersama.

Lanjut Bagus Wika, semua elemen yang dimiliki Dewi Saraswati memiliki makna yang diasosiasikan dengan ilmu pengetahuan, sehingga begitu getol dipelajari oleh banyak orang. Simbol Dewi Saraswati dengan segala atributnya menunjukkan bahwa sebetulnya ilmu pengetahuan punya banyak karakteristik yang baik untuk setiap insan yang ingin mempelajarinya dalam kehidupan. 

Tetapi, jika kita mau berkaca dengan apa yang sedang terjadi saat ini, ilmu pengetahuan mengalami pergolakan dalam masyarakat dan menimbulkan banyak salah kaprah dan kebingungan. Kondisi ini juga menjadi kekhawatiran akan bagaimana masyarakat memandang apa yang terjadi di sekitar mereka, terlebih sulit untuk membedakan mana yang dapat dipercaya dan mana yang tidak. 

Ia mencontohkan seperti tantangan yang dialami generasi muda Hindu dan masyarakat pada umumnya adalah maraknya berita hoax melalui media social yang tak bisa dibendung. “Pemujaan terhadap Dewi Saraswati perlu dikontekstualisasi. Apalagi dalam perkembangan jaman, generasi muda saat ini sudah sangat adiktif terhadap teknologi, dimana media sosial arusnya demikan kuat,” ujar Bagus Wika.

Mantan Pembimas Hindu Yogyakarta ini menilai, tebaran berita di media sosial membuat generasi muda tidak berdaya menyaring informasi yang baik dan benar. Namun, ia berharap dalam perayaan Hari Suci Saraswati bisa dijadikan momentum, bahwa pemujaan terhadap Dewi Saraswati adalah pemujaan terhadap betapa pentingnya pengetahuan itu sendiri yang biasa disebut Samyajnana.

“Artinya pengetahuan yang dilandasi dengan kebijaksanaan. Mengapa? Bagi orang yang tidak memiliki pengetahun yang cukup dalam kitab Sarasamuccaya dan Nitisastra disebutkan bahwa orang-orang yang bodoh dan tidak memiliki pengetahuan, maka akan digiring kepada perbuatan yang buruk,” imbuhnya.

Pria asal Desa/Kecamatan Banjar ini menambahkan, jika generasi muda tidak dibekali dengan pengetahuan, kecerdasan, maka terkadang mudah terpancing oleh berita hoax. Tidak tuntas memahaminya, tidak bijak memaknainya, maka akan mudah terprovokasi dalam pergaulan media sosial.

Masyarakat semakin dibuat bingung dan bukan tidak mungkin terjadi adu domba di antara masyarakat yang termakan oleh pesan-pesan yang disampaikan oleh oknum melalui media sosial.

“Sehingga bisa saja menghujat, melakukan ujaran kebencian yang mengakibatkan sentiment SARA, sehingga memicu konflik,” bebernya.

Ilmu pengetahuan, baik formal maupun informal, hendaknya digunakan sebagai sarana untuk membuka cakrawala dalam memandang dunia yang saat ini berkembang. Selain itu, ilmu pengetahuan juga dapat dijadikan sebagai wadah untuk tidak hanya membuat masyarakat menjadi tahu, tetapi juga paham dan ikut menyebarkan hal-hal positif yang berdampak pada masyarakat lain. 

Dikatakannya, dalam konteks perayaan Saraswati perlu dimaknai secara filosofis. Dimana Hari Suci Saraswati yang jatuh pada Saniscara Umanis Wuku Gunung. Dimana dilanjutkan prosesi banyu pinaruh pada Redite Paing Wuku Sinta.

Jika dikaitkan, sambungnya maka momentum ini adalah titik akhir dan awal dari siklus perhitungan wuku yang menjadi perhitungan bagi Umat Hindu Nusantara. “Ilmu pengetahuan harus dipelihara dengan cara mengamalkannya. Jadi lebih bijak menggunakan teknologi. Jangan sampai manusia diperbudak oleh teknologi. Sehingga kita tidak bisa membedakan mana berita baik, mana berita buruk saat bermedsos. maka yang rugi kita sendiri,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia