Sabtu, 19 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Politik

30 Menit Sebelum Meninggal, Artana Butuh Darah

12 Mei 2019, 19: 56: 06 WIB | editor : Nyoman Suarna

30 Menit Sebelum Meninggal, Artana Butuh Darah

ALMARHUM: Ketua Pengawas Pemilu Kecamatan Rendang I Gede Artana semasa idup. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, AMLAPURA- Bawaslu Karangasem berduka, menyusul kabar meninggalnya Ketua Pengawas Pemilu Kecamatan Rendang I Gede Artana, 50. Pria yang diagnosis gagal ginjal setelah mengawal pemilu itu meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Sanjiwani, Gianyar, Minggu (12/5) sekitar pukul 13.27.

Ketua Bawaslu Karangasem I Putu Gede Suastrawan mengatakan, sekitar 30 menit sebelum meninggal dunia, pihaknya mendapat informasi dari salah satu anggota Panwaslu Kecamatan Rendang bahwa Artana butuh darah golong B. Itu untuk cuci darah.

Sayangnya, sebelum upaya penyelematan dilakukan, Artana yang menjadi Pengawas Pemilu sejak 1998 dinyatakan meninggal dunia. Padahal, berdasarkan informasi dari PMI Gianyar melalui Bawaslu Gianyar, Suastrawan menyebutkan darah golongan B sudah siap.

 “Pas ketika saya komunikasi perlu darah berapa kantong, tiba-tiba dapat informasi Pak Artana sudah meninggal dunia,” ujar Suastrawan, yang pada Minggu (12/5), sempat ke RS Sanjiwani.  Rencananya, pemakaman dilakukan Selasa (14/5) mendatang.

Koordinator Sekretariat Bawaslu Karangasem I Gede Parwata menambahkan, jajaran penyelenggara yang meninggal dunia pasca-kawal pemilu mendapat santuan Rp 36 juta. “Santunan dianggarkan pada revisi DIPA Bawaslu Provinsi Bali,” ujar Parwata.

Besarannya, imbuhnya, sudah sesuai dengan ketentuan di Kementerian Keuangan, sedangkan untuk biaya perawatan Artana selama di RS Sanjiwani ditanggung JKN-KIS, karena Artana merupakan peserta JKN-KIS.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kondisi Artana drop sejak mengawal rekapitulasi suara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan Rendang 22-28 April. Setelah rekap, ia sempat berobat ke Puskesmas Rendang. Selain kondisinya drop, Artana sering mengigau terkait pekerjaannya belum melakukan rekap suara di beberapa desa, termasuk mengigau menjaga Pancasila.

Artana dilarikan ke RS Sanjiwani, Senin (6/5) lalu. Dia diagnosa mengalami gagal ginjal. Setelah hampir sepekan menjalani perawatan, Artana meninggal dunia.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia