Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Siwa Jadi Bukti Keberadaan Padukuhan Siwa-Budha di Pujungan

13 Mei 2019, 10: 53: 35 WIB | editor : I Putu Suyatra

Pura Siwa Jadi Bukti  Keberadaan Padukuhan Siwa-Budha di Pujungan

MEDITASI : Pura Siwa cocok dijadikan tempat meditasi, karena letaknya 1.174 kilometer di atas permukaan laut, sehingga hawanya sejuk. (DEWA RASTANA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, TABANAN  - Pura Siwa yang terletak di Banjar Margasari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, dahulu  adalah hutan yang keramat. Kendatipun demikian,  Pura Siwa kini dikunjungi ribuan pamedek (bakta) dari  penjuru Bali, Jawa, bahkan hingga luar negeri. Ada yang istimewa dengan kawasan suci ini?

Tak sulit bila ingin berkunjung ke   Pura Siwa. Jaraknya dari Kota Tabanan memang cukup jauh. Pamedek tinggal mengambil arah Jalan Raya Gilimanuk dan mengikuti petunjuk arah menuju Pupuan. Bila sudah  sampai di simpang empat Desa Pujungan, kemudian belok kanan menuju arah ke SMAN 1 Pupuan. Kurang lebih 20 kilometer dari SMAN 1 Pupuan, pamedek sudah bisa menemui Pura Siwa, namun harus menyusuri kawasan hutan terlebih dulu.
Sebelum sampai ke Pura Siwa, pamedek akan menjumpai beberapa palinggih yang terbuat dari batu hitam. Ada juga  pahatan dari kayu berbentuk Malen di palinggih utama, dan pura ini disebut Pura Malen.

Jero Mangku Wayan Sutarjana menjelaskan bahwa Pura Malen merupakan pangayatan Pura Puncak Mengening Ulundanu Tamblingan, namun bukan satu kesatuan dengan Pura Siwa. “Hanya saja untuk mempermudah menemukan Pura Siwa digunakan patokan Pura Malen, karena kalau sudah ke Pura Malen pasti ke Pura Siwa,” ujarnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Tabanan.


Beranjak dari Pura Malen, pamedek akan melalui jalan setapak sekitar 100 meter untuk mencapai areal utama Pura Siwa. Namun, keunikan Pura Siwa sudah terlihat karena pamedek akan disambut dengan dua buah patung tentara lengkap dengan senjatanya. Bahkan dibawahnya juga ada meriam, yang sebelah kanan bertuliskan Linggih De Bagus Made dan yang kiri bertuliskan Linggih De Bagus Nyoman. Patung tentara tersebut merupakan perwujudan penjaga setia hutan yang dulunya memang terkenal keramat dan angker. “Pantung Tentara itu adalah wujud penjaga setia hutan," imbuhnya.


Setelah kedua patung tentara tersebut, juga ada patung sosok lelaki bertubuh gempal duduk bersila yang bernama Budha Wiku Budi Dharma yang dikawal macan tutul di sebelah kanan dan macan hitam di sebelah kiri. Menurutnya, dahulu kala Budha Wiku Budi  Dharma pernah belajar di Gunung Batukaru.


Setelah melewati patung ini, selanjutnya pamedek memasuki areal utama Pura Siwa. Pamedek terlebih dulu akan disambut dengan Lingga-Yoni yang berada tepat di tengah-tengah Madya Mandala, serta Bale Pasandekan dan palinggih pangayat Betara ring Gria Mas. “Lingga-Yoni ini adalah perwujudan laki dan perempuan, dan dari situlah kita berasal,” sambungnya
Jero Mangku Sutarjana menerangkan, awal mula didirikannya Pura Siwa  pada tahun 1993, karena menemukan arca berbentuk Dewa Siwa dengan material perunggu di tempat Pura Siwa berdiri saat ini. Ia pun mendapat wangsit untuk mendirikan pura di lokasi tersebut, hingga akhirnya pada tahun 2008, dengan biaya pribadi Jero Mangku Sutarjana mendirikan Pura Siwa, tepat di kaki Gunung Batukaru sebelah barat, dimana Gunung Batukaru juga dianggap sebagai Gunung Kailash-nya Bali. Meskipun menggunakan dana pribadi, Pura Siwa hingga saat ini bisa didatangi siapa saja, bahkan tidak terbatas dari umat Hindu saja.

“Umat lain juga banyak yang datang, karena tempat ini tidak terbatas untuk bersembahyang saja, tetapi juga untuk bermeditasi dan melakukan pembersihan diri, seperti malukat,” terangnya.


Di Utama Mandala,  berdiri sebuah patung Dewa Siwa bersila setinggi 10,5 meter, dibawahnya terdapat patung Ganesha, Budha, Siwa dengan ukuran yang lebih kecil. Di samping kiri juga terdapat patung Lembu Nandini yang merupakan wahana Dewa Siwa, dan di sebelah kanan terdapat Patung Dewi Parwati yang merupakan saktinya Dewa Siwa. “Di Patung Dewi Parwati ini juga terdapat sumber mata air alami,” sebutnya.


Tak ketinggalan ada sebuah patung dengan sosok lelaki tua duduk bersila, yang disebut Payogan Ida Betara Lingsir atau biasa disebut Situs. Patung ini berada tepat di bawah pohon Don Kayu Sugih atau Daun Suji. Uniknya, pohon tersebut berbeda dari pohon Daun Suji pada umumnya, karena memiliki tinggi 20 meter dan berdiameter 160 sentimeter. Padahal, umumnya tidak ada pohon Daun Suji yang tumbuh sampai setinggi itu. “Jadi, Situs ini adalah perwujudan Ida yang malinggih di sini,” imbuhnya.


Selain menghaturkan bakti, pamedek juga bisa malukat.  Untuk melakukan pembersihan diri (malukat), pamedek hanya perlu membawa satu buah Bungkak Nyuh Gading dan lima atau tujuh atau sebelas macam bunga. Tak jarang juga ada pamedek yang tangkil (datang) memang untuk nunas tamba (obat) atau memohon kesembuhan atas penyakit yang dideritanya.


Keberadaan pura yang letaknya di kaki Gunung Batukaru sebelah barat ini, sangat menarik  masyarakat karena sebagai salah satu tujuan wisata spiritual, apalagi dengan keunikan yang terdapat di Pura Siwa ini. Pamedek akan ramai


tangkil ke pura seluas 2 are ini, saat piodalan  yang jatuh setiap Purwaning Tilem Kapat. Namun, bagi yang ingin bersembahyang, dapat tangkil kapan saja.


Saat hendak memasuki Madya Mandala terlebih dulu para pamedek harus melepaskan alas kaki. Jadi, selama melakukan kegiatan di Pura Siwa, pamedek harus bertelanjang kaki. Selain untuk menjaga kebersihan, hal tersebut dilakukan untuk tetap menjaga kesucian pura.


Namun, ia selalu mengingatkan agar perempuan yang sedang Sebelan (datang bulan) untuk tidak mencoba-coba memasuki areal pura karena akan berakibat fatal. “Dahulu pernah ada pamedek yang berbohong dan masuk ke pura, tetapi waktu menaiki tangga orang itu terjatuh, dan setelah ditanya ternyata orangnya Sebelan,” pungkasnya.

(bx/ras/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia