Jumat, 06 Dec 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Corat-Coret untuk Mengenang Masa Putih Abu, Bukan Karena Gagah-Gagahan

13 Mei 2019, 18: 01: 37 WIB | editor : I Putu Suyatra

Corat-Coret untuk Mengenang Masa Putih Abu, Bukan Karena Gagah-Gagahan

CORAT-CORET : Suasana Taman Makam Pahlawan Gianyar yang dipenuhi siswa yang merayakan kelulusan, Senin (13/5). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR  - Ratusan siswa kelas XII beberapa SMA/SMK di Kabupaten Gianyar berkumpul di parkiran Taman Makam Pahlawan Gianyar, Senin (13/5). Mereka merayakan kelulusannya dengan mencorat-coret seragam putih abunya menggunan pilok dan spidol. Salah satu siswa, I Wayan Sudiatnyana mengaku corat-coret itu bukan sebagai gagah-gagahan melainkan untuk kenang-kenangan masa terakhirnya menjadi siswa.

“Kami corat-coret bukan berarti bermaksud gagah-gagahan di jalan. Tetapi sebagai kenang-kenangan nanti setelah menjalankan kehidupan selanjutnya setelah semua pada bekerja, ataupun kuliah,” paparnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Dalam kesempatan itu ia juga mengaku sebelum berkumpul di Taman Makam Pahlawan, paginya sempat pergi ke selokah untuk menerima pengarahan dari kepala sekolah. Bahkan menggunakan pakaian adat sembahyang untuk pengumuman kelulusan. Namun pengumuman kelulusan lewat group whatapps angkatan setibanya mereka kembali pulang ke rumah masing-masing. Setelah itu mereka kumpul di Taman Makam dan mengganti pakaian menjadi putih abu  dilanjutkan melakukan corat-coret tersebut.

“Ini kan sekali dalam hidup, bolehlah kita rayakan dalam sehari ini mengingat terakhir kalinya kita berkumpul di masa sekolah. Kita coret sebagai kenangan, tandatangan teman-teman juga ada, paling berkesan ya tandatangan mantan saja,” ujarnya sambil melanjutkan menggambar seragamnya.

Setelah pakaiannya penuh dengan warna, ratusan siswa tersebut mengaku akan berkumpul di areal parkir stadion Lapangan Dipta Gianyar. Kemudian konvoi ke obyek wisata Penelokan Kintamani Bangli. Setelah sore, ia mengaku akan pulang dan menggantungkan pakaiannya di tembok kamar.

Dikonfirmasi Komisioner Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Bali, Made Ariasa mengaku ada beberapa sekolah yang mampu membendung aksi konvoi dan corat-coret. Meksi demikian, ia sangat menyayangkan beberapa siswa yang masih nekat melakukan aksi tersebut.  

“Ada sekolah yang bisa mengurangi kejadian-kejadian yang bisa ditimbulkan akibat dampak konvoi dari corat-coret. Tapi kenapa masih ada sekolah yang tidak mampu atau seperti melakukan pembiaran atas hal tersebut,” ungkapnya.

Menurut Ariasa, sudah menjadi tugas pemerintah melalui Dinas Pendidikan mempunyai kewenangan dalam mengantisifasi aksi itu. Bahkan hal itu dikatakan seperti menjadi tradisi yang tidak bermanfaat dan bisa mengganggu ketertiban umum. Tidak hanya pemerintah, penegak hukum juga ia katakan punya peran penting dalam hal itu.

Dikonfirmasi terpisah, Kanit Lakalantas Polres Gianyar, Iptu Ketut Nariawan, mengaku jauh hari sebelumnya telah mendatangi sekolah-sekolah. “Kami beri pemahaman untuk pakai pakaian adat saat pengumuman kelulusan. Supaya tertib berlalu lintas. Kami berikan pemahaman, pendidikan tidak saat ini saja, ke depan ada jenjang yang lebih tinggi,” pungkasnya.

Terlebih masing-masing sekolah tampak juga petugas kepolisian melakukan pemantauan. Meski begitu, tetap masih ada pelajar yang melakukan aksi konvoi tersebut. “Tapi kami tidak bisa paksakan, kalau hal-hal seperti itu rekan kami di lapangan yang akan menindaknya,” imbuh Ketut Nariawan.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia