Jumat, 21 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Kasus Kematian Bayi Elora Nathania Ang

Polisi Tetapkan Dua Tersangka, TPA tak Kantongi Izin

13 Mei 2019, 18: 54: 43 WIB | editor : Nyoman Suarna

Polisi Tetapkan Dua Tersangka, TPA tak Kantongi Izin

TAK BERIZIN: Kapolresta sebut TPA Princess House Childcare tidak berizin. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Polresta Denpasar menetapkan dua tersangka kasus kematian bayi Elora Nathania Ang  yang baru berusia 3 bulan,  Kamis (9/5) lalu di Tempat Penitipan Anak (TPA) Princess House Childcare, Jalan Badak Sari I Nomor 2 A Denpasar. Kedua tersangka adalah Listiana alias Tina, 39, asal Malang Jawa Timur sebagai pengasuh, dan pemilik TPA Ni Made Sudiani Putri alias Bu Made, 39, tinggal di Jalan Nusa Kambangan 99 Denpasar.

"Orang tua korban sudah dua minggu memanfaatkan jasa penitipan anak ini," ucap Kapolresta Denpasar Kombespol Ruddi Setiawan,  Senin (13/5).

Dari laporan polisi Nomor : LP/509/V/2019/Bali/Resta Dps, tertanggal 9 Mei 2019, saat itu pukul 07.30, ayah korban Andika Angara, 27, datang ke TKP untuk menitipkan anaknya kepada pegawai TPA atas nama inisial EJL alias Evi. Setelah menitipkan korban, Andika langsung pergi meninggalkan lokasi.

Sedangkan saksi Evi langsung menyerahkan pengasuhan korban kepada tersangka Tina. Seperti biasa, Tina pun melakukan pengasuhan kepada korban, di antaranya memberikan susu, mengganti popok dan memandikan korban di lantai dua TKP.

"Yang menjadi tanggung jawab pengasuhan terhadap korban adalah tersangka Tina. Korban ditengkurapkan," ujarnya.

Sekitar pukul 15.30 korban sempat terbangun dan menangis, lalu Tina menggendong korban menggunakan selendang. Tersangka juga memberikan susu kepada korban. Saat itu korban hanya meminum susu sedikit hingga kemudian tersangka menengkurapkan korban dan menepuk pantat korban.

Setelah menepuk pantat korban, Tina meletakkan korban di atas kasur dengan posisi tengkurap dan kemudian meninggalkannya sekitar 30 menit.

Sekitar pukul 16.30, saksi Nanik sempat masuk ke dalam kamar dan melihat korban berada di atas kasur dengan posisi tengkurap. Saksi pun membalikkan badan korban dengan posisi telentang.

Sekitar pukul 17.00, tersangka kembali lagi ke kamar, kemudian menggendong korban. Namun saat digendong, tersangka melihat korban sudah lemas. Tina langsung panik dan memanggil teman-temannya yang lain.

Setelah beberapa temannya berkumpul, tersangka Tina dan saksi Candra berinisiatif membawa korban ke Rumah Sakit Bros untuk mendapatkan perawatan medis. Saat berada di rumah sakit, akhirnya diketahui korban telah meninggal dunia.

TPA ini sudah beroperasi tiga tahun, tetapi  hanya mengantongi izin yayasan. TPA  tidak mengantongi izin dari Dinas Sosial, Dinas Kesehatan serta Dinas Pendidikan. Stafnya pun dari lulusan SMP dan SMA, yang tidak memiliki keahlian khusus merawat anak bayi. Pun, tidak ada training skill. 

"Dari hasil penyelidikan maupun penyidikan, TPA Princess House Childcare tidak mempunyai izin lengkap. Mereka memperkerjakan pegawai yang tidak mempunyai kualifikasi keahlian dalam pengasuhan anak, serta tidak adanya tenaga medis di sana," ujarnya.

Dalam brosur TPA ini pun dijelaskan bahwa makanan dan minuman memakai ahli gizi. Namun hasil interogasi kepada pemilik, ahli gizi yang dipakai acuan adalah melihat dari google. "Bukan mendatangkan ahli gizi. Dia hanya melihat dari google," tegasnya.

Beberapa barang bukti yang disita, di antaranya sebuah kasur, sprei, bantal, sarung bantal, DVR CCTV, dot susu bayi, baju terusan anak warna coklat motif batik.

"Tina telah melanggar Pasal 76B juncto Pasal 77B UU RI Nomor 23 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau pasal 359 KUHP," jelasnya.

Sementara, terhadap Ni Made Sudiani Putri alias Bu Made, disangkakan Pasal 76B juncto Pasal 77B UU RI Nomor 23 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau Pasal 359 KUHP juncto Pasal 55 KUHP. 

Untuk diketahui, TPA ini terdapat di dua lokasi di Denpasar yang kini telah dipasangi garis polisi dan ditutup. Sekitar 50 orang bayi dan anak dititipkan di tempat tersebut,  mulai usia 0 sampai 5 tahun dengan sembilan orang pengasuh. 

Paket harian bayi Rp 100 ribu tanpa makan, paket bulanan bayi Rp 900 ribu tanpa makan. Dan juga ada paket bulanan Rp 800 ribu dengan makan dua kali.

(bx/afi/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia