Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Features
Tradisi Ngetus Padi Gogo di Pedawa

Dipanen Menggunakan Anggapan, Gabah Padi Gogo untuk Sarana Upakara

13 Mei 2019, 19: 59: 16 WIB | editor : I Putu Suyatra

Dipanen Menggunakan Anggapan, Gabah Padi Gogo untuk Sarana Upakara

TRADISI: Sejumlah ibu-ibu nampak sibuk memetik Padi Gogo di Dusun Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Buleleng, Senin (13/5). (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Setelah ditanam enam bulan lalu, warga Pangempon Pura Puncak Sari, di Dusun Insakan, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar akhirnya memanen Padi Gogo, Senin (13/5) pagi. Tradisi Ngetus Padi Gogo kembali dibangkitkan setelah sempat redup dan terakhir digelar pada tahun 1971 silam. Tradisi ini kembali digelar bertujuan untuk menjaga pasokan gabah Padi Gaga yang digunakan saat pujawali di Pura Pucak Sari.

I PUTU MARDIKA, Banjar

 

PULUHAN Ibu-ibu sudah berkumpul di lahan tegalan seluas 8 are sejak pagi. Mereka nampak bersemangat. Wajar saja, mereka siap melakukan tradisi ngetus yang menjadi pertanda jika padi gogo yang ditanamnya pada pertengahan Desember 2018 lalu sudah bisa dipanen.

Ibu-ibu tersebut begitu sibuk mempersiapkan sesajen untuk tradisi ngetus Padi Gogo ini. Sebelum dipanen, sejumlah warga terlebih dahulu melakukan persembahyangan di ladang Padi Gogo.


Selesai sembahyang, para ibu-ibu tersebut mulai memasuki ladang Padi Gogo. Mereka terlihat membawa sebuah alat petik yang disebut anggapan. Pisau kecil ini memang diciptakan khusus untuk dimanfaatkan dalam memotong tangkai bulir padi.

Tangkai bulir Padi Gogo yang telah dipotong kemudian disusun dengan rapi. Nantinya, Padi Gogo ini akan selalu digunakan disetiap ritual keagamaan di Desa Pedawa. Terlebih, Padi Gogo merupakan varietas padi tadah hujan yang tergolong langka. Karena kian jarang dibudidayakan. Mengingat harus butuh waktu enam bulan untuk dipanen.

Tokoh masyarakat Desa Pedawa, Made Genong mengungkapkan tradisi ngetus Padi Gogo ini dilakukan di lahan percobaan. Selain jenis Padi Gogo, di lahan tegalan itu warga juga menanam varietas lain yang disebut Bija Ratus.

Bija Ratus ini terdiri dari Biji Godem, Jagung Kedu dan Jali. Tanaman biji-bijian ini merupakan bagian penting bagi masyarakat Pedawa untuk melengkapi sarana upakara keagamaan di Desa Bali Aga tersebut.

“Ngetus dilaksanakan sebelum pemetikan Padi Gogo. Prosesnya pertama ngatur uning kepada Ida Bhatara Rambut Sedana dan Sri berkenan memberikan hasil yang maksimal,” ujar Genong.

Lanjut Genong, setelah dipanen, gabah Padi Gogo akan dimasukkan ke dalam lumbung. Padi Gogo ini akan digunakan saat pujawali di Pura Puncak Sari tiba. Karena wajib menggunakan sarana bija ratus.

Genong pun tak menampik, kedepan pengembangan Padi Gogo akan dilakukan di lahan yang lebih luas. Tujuannya hanya satu. Yakni menyiapkan stok yang cukup untuk digunakan sebagai sarana upakara.

“Sekarang lahannya kami baru sediakan 8 are. Nanti pasti akan ditambah di lahan yang lebih luas lagi,” imbuhnya.

Rencananya, Padi Gogo akan ditanam kembali pada Bulan November mendatang. “Nanti pengolahan lahannya bisa mulai dilakukan Bulan juli mendatang. Nah setelah siap, baru ditanam lagi,” tutupnya.

Seperti diketahui, sebelum tradisi ngetus dilaksanakan terlebih dahulu diawali dengan proses penanaman padi pada enam bulan lalu atau disebut dengan tradisi ngaga. Tradisi ngaga terakhir kali digelar pada tahun 1971 dan sempat  vakum hingga tahun 2018. Akibatnya, pemenuhan akan padi gaga untuk Pujawali di Puncak Sari terpaksa harus didatangkan dari luar Pedawa dengan cara membeli.

Meskipun membeli, namun untuk mendapatkan padi gaga bukanlah perkara mudah. Sebab padi gaga memang jarang dibudiayakan setelah petani di Bali. Petani lebih memilih membudiayakan padi hybrida yang masa tanamnya lebih singkat dan bisa dipanen tiga bulan sekali ketimbang padi gaga yang dipanen enam bulan sekali.

Bahkan untuk benih Padi Gogo yang dulunya ditanam didatangkan khusus dari Flores Nusa Tenggara Timur. Benih padi gaga ini dinilai cocok ditanam di daerah tegalan yang sulit mendapatkan air. Sebab, padi gaga ini memang bisa tumbuh dan berkembang di daerah tegalan.

Kelangkaan Padi Gogo disebabkan  karena krama Pedawa lebih memilih menanam kopi, cokelat dan cengkih untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Karena kalau hanya menanam padi gaga di tegalan panennya hanya enam bulan sekali. Secara hitung-hitungan ekonomi pasti kalah dengan komoditas kopi, cokelat dan cengkih yang memiliki nilai jual tinggi.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia