Kamis, 21 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Kapolsek Kuta Dilaporkan Atas Dugaan Pelanggaran Kode Etik

14 Mei 2019, 19: 17: 55 WIB | editor : Nyoman Suarna

Kapolsek Kuta Dilaporkan Atas Dugaan Pelanggaran Kode Etik

KODE ETIK: Bukti laporan pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan Kapolsek Kuta.

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Kasus penutupan dan penggembokan Mayang Bali Art Market yang terletak di Jalan Raya Legian 184, Selasa (7/5) sekitar pukul 14.00, berujung pada pelaporan dugaan pelanggaran kode etik terhadap Kapolsek Kuta AKP Teuku Ricky Fadliansyah pada Selasa (14/5) pukul 13.00.

Dalam laporan bernomor STPL/16/V/HUK.12.10/2019/SPP tertangal 14 Mei 2019, pelapor Sony, 47, melaporkan Kapolsek Kuta dengan dugaan tidak menjalankan tugas secara profesional, proporsional, dan procedural yang diterima langsung petugas SPKT Ipda I Ketut Risjuniarta.

Dihubungi terpisah, Kuasa Hukum Sony, Edward Tomuara P. Hasibuan menyampaikan bahwa kliennya tidak terima cara arogan yang dipakai oleh lawannya Feric Setiawan yang mengatasnamakan atas seizin Kapolsek Kuta. Sebelumnya, Edward khawatir terkait penanganan kasus kliennya, lantaran pengacara lawan yang tidak lain adalah istri Kapolsek Kuta AKP Teuku Ricky Fadliansyah.

“Dengan cara yang arogan, baik dari pihak pengacara maupun ada oknum yang diduga preman, termasuk juga semua yang mengaku seizin Kapolsek. Kenapa kami laporkan ke Propam? Karena dalam posisi ini, semua mengaku seizin Kapolsek. Menurut kami, itu perbuatan yang tidak patut dilakukan,” tegasnya.

Saat kejadian penggembokan tempat usaha tersebut, pihak pengacara Feric sempat menyampaikan bahwa semua tindakan seizin Kapolsek Kuta. Namun saat ditanya bukti laporan, mereka tidak bisa menunjukkannya. Hal ini dinilainya tidak patut, lantaran yang bersangkutan (pengacara Feric) bukan anggota polisi, tetapi mengatasnamakan Kapolsek Kuta.

“Perlakuan kepada klien kami, dengan dikepung sekitar 9 orang, dibentak-bentak oleh orang yang mengaku sebagai pengacara Pak Feric agar klien kami mengosongkan tempat tersebut. Dan kalau keberatan, klien kami diminta menelepon Kapolsek Kuta. Kata-kata silakan telepon Kapolsek Kuta, sudah seizin Kapolsek Kuta, sering menelpon seseorang, dengan yakin selalu diulang-ulang oleh orang-orang serta orang yang mengaku pengacara Pak Feric,” ungkap Edward.

Pihaknya berharap bahwa sebagai aparat, seharusnya bersikap independen, jangan melakukan tindakan yang dianggap semena-mena. “Tidak dalam perkara ini. Tapi dalam konteks ini, pihak kepolisian atau aparat-aparat independenlah. Nggak usah berpihak ke kami dan nggak usah berpihak ke mereka. Jalankan saja, kan ada aturannya,” terangnya.

Sementara itu, Kapolsek Kuta AKP Teuku Ricky Fadliansyah yang dihubungi koran ini, belum memberikan respon.

(bx/afi/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia