Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Bali
Kasus Penganiayaan Siswa

Polisi Periksa Dua Guru SMA Pariwisata Saraswati

14 Mei 2019, 21: 03: 34 WIB | editor : Nyoman Suarna

Polisi Periksa Dua Guru SMA Pariwisata Saraswati

DIPERIKSA: Dua orang guru SMA Pariwisata Saraswati Klungkung diperiksa penyidik Polres Klungkung, Selasa (14/5). (I MADE MARTAWAN/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SEMARAPURA- Penyidik Satreskrim Polres Klungkung, memeriksa dua orang guru SMA Pariwisata Saraswati Klungkung, Selasa (14/5).  Kedua guru, yakni I Gusti Ngurah Sanjaya dan I Wayan Aristana, dimintai keterangan terkait dugaan penganiayaan seorang siswa sekolah itu, Ni Komang Putri, 18 oleh Kepala SMA Pariwisata Saraswati, I Gusti Made Suberata.

Kasat Reskrim Polres Klungkung AKP Mirza Gunawan menjelaskan, pemeriksaan guru itu untuk melengkapi keterangan sebagaimana laporan korban. Saat kejadian, Sanjaya disebut-sebut sempat diajak bersitegang sebelum akhirnya Putri ditangani Suberata hingga berujung dugaan penganiayaan. “Keterangan saksi kami sinkronkan dengan saksi lainnya,” jelas Mirza.

Setelah meminta keterangan kedua saksi, lanjut Mirza, giliran Suberata yang dipanggil. Rencananya Kepala SMA Pariwisata Sarawaswati dipanggil, Rabu (15/5), dengan status terlapor. Setelah dilaporkan, Suberata belum pernah dimintai keterangan. Polisi baru sebatas minta keterangan terhadap sejumlah saksi. Salah satunya Putri, sebagai saksi korban.

Selain mengumpulkan keterangan saksi, polisi juga mengamankan sejumlah alat bukti, di antaranya baju korban yang berisi bercak darah dan rekaman CCTV yang merekam Suberata memegang kepala siswinya. Hanya, saat korban jatuh hingga bibirnya luka dan mengeluarkan darah tak terekam.

“Mungkin kameranya tidak menjangkau adegan ketika siswi jatuh sampai berdarah. Rekaman terputus,” tegas perwira tiga balok di pundak ini. Sementara itu, hasil visum yang bisa menjelaskan soal luka pada mulut korban, hingga Selasa (14/5) belum keluar.

 “Kami masih menunggu hasil visum. Bagaimana kok bisa luka dan berdarah,” terang perwira asal Aceh itu.

Terlepas proses hukum yang tengah bergulir itu, Mirza menyayangkan kejadian tersebut, apalagi sampai melibatkan guru dan kepala sekolahnya.

 Dugaan penganiayaan terjadi saat pelepasan siswa kelas XII SMA Pariwisata Saraswati Klungkung, Kamis (9/5).  Kejadian berawal saat Putri ditegur salah seorang gurunya karena tidak menggunakan pakaian adat sebagaimana siswa kelas XII lainnya. Saat itu Putri menggunakan celana panjang, baju putih dan jas. Gara-gara itu, dia ditegur seorang guru. Ia tidak diperkenankan berada di barisan. Putri sempat bersitegang dengan seorang guru, akhirnya datang Suberata.

Suberata mengajak Putri ke ruang tata usaha (TU), karena malu ada ribut-ribut ketika acara akan mulai. Saat mengajak ke ruang TU, Putri mengaku ditarik-tarik oleh kepala sekolahnya. Bahkan ia mengaku didorong ke ruang TU hingga terjatuh membentur lantai dan mulutnya berdarah.

(bx/wan/man/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia