Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bisnis

Harga Buah Melonjak, Daya Beli Masyarakat Menurun

15 Mei 2019, 07: 59: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

Harga Buah Melonjak, Daya Beli Masyarakat Menurun

TRANSAKSI: Penjual buah dan pembeli sedang bertransaksi di Pasar Badung pada Selasa (14/5) sore kemarin. Tampak penjual sedang sibuk. (NI KETUT ARI KESUMA DEWI/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Harga buah-buahan di Pasar Badung mengalami kenaikan beberapa minggu terakhir. Akhir musim hujan, stok buah tidak ada atau menipis, mulainya bulan puasa juga berdekatannya dengan hari raya Hindu. Seperti Pagerwesi yang jatuh hari ini, Rabu (15/5). Juga menjadi indikator kenaikan harga. Meskipun begitu, masyarakat tetap membeli dengan berat hati.

Salah seorang pedagang buah di Pasar Badung, Ibu Ketut, menyampaikan, harga buah semakin hari semakin meninggi. Meskipun mengalami kondisi seperti itu, ia juga pedagang lain terpaksa harus tetap berani berjualan. “Mau tidak mau ya. Meski harga naik, kalau tidak berani beli, ya saya tidak bisa jualan,” terangnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Ia mengatakan, harga buah-buahan ini juga berdampak pada keinginan pembeli dan pelanggannya menurun. “Ya, mereka tetap beli, tapi mengurangi jumlah yang dibeli,” terang wanita asli Karangasem tersebut.

Ia menjabarkan harga buah-buahan hingga Selasa (15/5) sore kemarin melonjak tajam. Apel wider ways misalnya mencapai Rp40.000 hingga Rp50.000 per kilogramnya. Perubahan harga buah-buahan tersebutnya, bisa saja dalam hitungan jam. Tanpa harus menunggu hari berganti. “Menipisnya stok buah karena hal-hal tadi, ya otomatis harga buah dinaikkan,” terangnya.

Rata-rata kenaikan buah mencapai Rp5000 tiap kilogramnya. Manggis yang awalnya Rp20.000 menjadi Rp25.000. Apel merah dari Rp30.000 menjadi Rp35.000—Rp 37.000. Melonjaknya harga tersebut juga menyerang harga apel lokal. “Seminggu lalu, apel lokal hanya sekitar Rp28.000—Rp30.000, sekarang mencapai Rp35.000. Buah jeruk mandarin dari Rp45.000 sekarang menjadi Rp60.000,” keluhnya kepada Bali Express.

Salak bali juga ikut naik, harga awal kisaran Rp15.000 menjadi Rp25.000. Jeruk sunkiss dan pir kuning dari Rp30.000 menjadi Rp35.000. Anggur merah dari Rp50.000/kg menjadi Rp70.000/kg. Kenaikan harga tersebut juga dikeluhan pembeli. Seorang pembeli mengatakan bahwa harga buah yang naik tersebut, juga membuat kelengkapan dalam sarana upakara terhambat.

Pisang super sisir mencapai Rp40.000. Anggur Australia mencapai Rp100.000/kg. Sementara itu, jeruk lumajang mencapi Rp15.000 yang harga awalnya hanya Rp12.500. “Kalau untuk membeli sedikit, tidak terlalu berasa. Kalau beli banyak untuk banten misalnya akan terasa berat,” jelas Ketut yang berjualan di Pasar Badung dari tahun 1984. (akd)

(bx/ima/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia