Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

2020, RPH Temesi Ditargetkan Beroperasi

15 Mei 2019, 08: 16: 59 WIB | editor : I Putu Suyatra

2020, RPH Temesi Ditargetkan Beroperasi

BEBER RPH: Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gianyar Gede Widarma Suharta saat ditemui, Selasa kemarin (14/5). (PUTU AGUS ADEGRANTIKA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR – Lama tak jelas nasibnya, perlahan Rumah Potong Hewan (RPH) yang terdapat di Desa Temesi, Gianyar menemui titik terang. Setelah Pemkab Gianyar memproses pengkajian RTH tersebut, termasuk untuk proses hibah dari Pemprov Bali. Bahkan ditargetkan pada awal 2020 nanti, RTH tersebut sudah beroperasi. Hal itu disampaikan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gianyar Gede Widarma Suharta, Selasa (14/5) kemarin.

Saat ditemui di kantornya, Widarma mengatakan, RPH itu nantinya akan dikelola Perumda Gianyar. Bahkan RPH ini diharapkan bisa menjadi salah satu pusat pembuatan daging sapi di Bali. Namun sejauh ini pihaknya masih melakukan proses pengkajian. “Dari provinsi kita ditunjuk sebagai tempat pembuatannya, yakni RPH itu sendiri. Sedangkan Pemkot Denpasar sepertinya ditunjuk sebagai tempat pemasarannya, sejenis supermarket daging,” papar dia.  

Pengkajian yang dia maksudkan, terdiri atas survey RPH yang telah lama mangrak tersebut. Selain itu, mengecek bangunan dan peralatan yang masih bisa digunakan, dan peralatan mana saja yang harus diganti dan yang harus dibeli. Dengan demikian pihaknya bisa memastikan alokasi dana dengan anggaran yang akan dihabiskan nanti.

Untuk status kepemilikan tanah, diungkapkan olehnya, tanahnya memang milik Pemkab Gianyar. Kemudian peralatan yang ada sebelumnya dari Pemerintah Pusat. Sedangkan bangunannya milik provinsi. Namun untuk saat ini, semua aset tersebut akan dimiliki Pemkab Gianyar ketika sudah resmi dihibahkan. Terlebih sudah diurus bidang aset. “Secara prinsip tidak masalah, tinggal administrasi saja,” ujarnya.

“Anggarannya itu ada dari APBD dengan dana penyetaraan sebesar Rp 3 miliar. Tapi tidak semuanya diperuntukan dari dana penyetaraan untuk RPH, tapi juga untuk modal mengelola RPH tersebut,” terangnya.

Dana penyetaraan itu pun dikatakan sudah ada, hanya menunggu pencairan. Sedangkan sasaran pasar yang akan diajak bekerjasama, seperti kata Widarma, yakni hotel-hotel yang ada di Gianyar. Khususnya di wilayah Ubud. Langkah ini sejalan dengan Pergub yang di dalamnya mengutamakan pemanfaatkan produk Bali.

Meski begitu, pihaknya mengakui ada beberapa kendala yang diperkirakannya bisa saja terjadi. Terutama terkait bahan baku, yaitu sapi yang didatangkan dari luar Bali. Sehingga dia berharap nantinya terdapat kebijakan yang mengurangi pengiriman sapi yang masih hidup ke Bali. Dengan demikian, tidak akan merusak harga pasar dari RHP itu sendiri. “Kalau daging dibawa kan otomatis harganya semakin tinggi juga. Namun kemarin sudah ada komitmen dari pusat yang akan membuat regulasi sebagai pembatasan sapi hidup ke Bali. Sehingga Perumda Gianyar selain memiliki air minum dalam kemasan, juga akan memiliki RPH ‘nantinya,” tandas Widarma.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia