Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Bawang Mutiara Putih Diburu untuk Pengobatan Nonmedis, Contohnya Cetik

15 Mei 2019, 09: 35: 01 WIB | editor : I Putu Suyatra

Bawang Mutiara Putih Diburu untuk Pengobatan Nonmedis, Contohnya Cetik

BERKHASIAT: Bawang Mutiara Putih yang ditanam Ketut Riden kerap dipakai obat penawar cetik. (AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, BANGLI - Bawang Mutiara Putih memiliki segudang khasiat. Meski berukuran kecil, namun bawang yang mirip dengan bawang merah ini, banyak dimanfaatkan sebagai penawar berbagai penyakit. Tidak hanya untuk penyakit medis, tetapi nonmedis. Percaya dengan khasiatnya?

Desa Buahan di Kintamani menjadi  salah satu sentra penghasil bawang di Bangli. Beberapa jenis bawang ditanam di daerah pinggir Danau Batur itu. Bahkan, sebagian besar penduduknya memilih sebagai petani bawang dan sayuran.

Namun dengan potensi itu, warga di sana tidak serta merta mengembangkan Bawang Mutiara Putih. Padahal, banyak khasiat yang dimiliki bawang berukuran kecil mirip bawang merah itu.
Ketut Riden adalah salah seorang petani bawang yang masih  membudidayakan bawang jenis Mutiara ini. Tidak banyak yang tahu akan khasiat bawang tersebut, sehingga tak ada petani yang menanamnya. Berkat petunjuk dari keluarga, Riden konsisten menanam Bawang Mutiara Putih, meski tidak diperjualbelikan besar besaran seperti bawang jenis lainnya.


Riden menuturkan, bibit Bawang Mutiara berwarna putih dia dapat dari neneknya, sekitar tahun 1980-an. Saat itu, sang nenek Luh Mantri berpesan supaya bawang ini tetap dikembangkan karena  berkhasiat menyembuhkan penyakit dalam. "Sejak saat itu  saya tetap budidayakan bawang ini," ujar Riden kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) akhir pekan kemarin di Bangli.
Riden menjelaskan, Bawang Mutiara dipercaya dapat mencegah dan mengatasi berbagai penyakit, diantaranya kanker, menurunkan gula darah, darah tinggi, gangguan ginjal, penyakit paru. Itu dia buktikan dengan dilakukannya uji laboratorium. Tidak itu saja, para penekun ilmu usada merekomendasi bawang ini untuk dikonsumsi pasien.


Dia mengaku sering dicari orang-orang yang mengalami penyakit nonmedis, seperti kena cetik (racun) atau sakit akibat diguna-guna. Mereka datang atas petunjuk penekun ilmu usada tradisional. Setelah nunas baos (minta petunjuk orang pintar), lanjutnya, mereka datang ke sini. Entah dari mana mereka tahu saya menanam Bawang Mutiara Putih. "Mereka sudah cari keliling, tapi tidak ketemu. Datanglah mereka ke saya, minta bawang kecil (mutiara). Saya beri ikhlas. Tidak saya minta bayaran, mereka minta satu sampai lima biji karena petunjuk saat berobat," tutur Riden.


Tidak ada cara khusus untuk mengonsumsinya. Pasien yang memerlukan untuk pengobatan bisa memakannya langsung dengan dicuci terlebih dulu. Bawang ini juga bisa dijadikan penambah rasa pada masakan, sehingga cocok dikonsumsi oleh siapa saja.


Meski mengaku bukan seorang penekun usada, namun dia tahu bagaiamana prosesi sebelum mengonsumsinya. Meski dapat dikonsumsi langsung, namun pasien mesti menghaturkan bawang ini di merajan (tempat suci) dengan sarana pajati. Setelah itu bisa dikonsumsi. " Cara seperti itu, petunjuk dari baliannya. Rasanya tidak sekeras bawang putih,  agak hambar sedikit, " sambungnya.


Riden mengaku sudah lama menanam bawang jenis ini. Hanya saja tidak banyak yang tahu bahwa bawang tersebut banyak ditanam di Desa Buahan, khususnya di kebun miliknya. "Bisa dicari ke rumah saya. Saya banyak menyediakan yang sudah dipanen. Tetapi kalau tidak sedang panen, stok sedikit," pungkasnya.


Ketika ditanya berapa dijual per kilogram, Riden mengaku tak pernah menjual khusus. Ditanam untuk memenuhi kebutuhan sendiri, di samping diberikan orang yang membutuhkannya untuk obat. " Setiap panen saya simpan.  Ada yang butuh untuk keperluan pengobatan saya beri," akunya.

(bx/aka/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia