Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Gaji Tak Dibayar, Setelah Disiram Air Panas, Eka Masih Nyari Gunting

15 Mei 2019, 17: 36: 15 WIB | editor : I Putu Suyatra

Gaji Tak Dibayar, Setelah Disiram Air Panas, Eka Masih Nyari Gunting

KORBAN: Korban penyiraman air panas saat menceritakan kejadiannya di Mapolda Bali didampingi pengacaranya . (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Setelah disiram dengan dua panci air panas, ternyata Eka Febriyanti, 21 asal Jember ternyata tetap disuruh mencari gunting seharga Rp 88 ribu yang hilang lagi hingga larut malam. Usai mencari di gudang tidak ketemu, dan korban sudah tidak sanggup lagi, akhirnya pukul 21.00 meloncat dari atas pagar pemujaan dan melarikan diri dari rumah majikannya, Desak Made Wiratningsih di kawasan Gianyar.

"Disuruh cari lagi, jika tidak ketemu akan ditambah 2 panci air panas lagi. Makanya korban lari," kata Kuasa Hukum korban Supriyono saat ditemui di Mapolda Bali pada Rabu (15/5).

Setelah melompat pagar, korban bersembunyi di warung dekat TKP. Oleh pemilik warung, korban disuruh melarikan diri sejauh-jauhnya supaya tidak tertangkap dengan dibekali uang Rp 5 ribu dan kue.

Korban kemudian berjalan kaki menyusuri jalan hingga bertemu dengan ibu-ibu pemilik warung lainnya. Yang kemudian membantu korban memanggilkan petugas kepolisian. Lantaran ketakutan, korban hanya mengaku jatuh saat ditanya lebam dimukanya.

Sembari menyampaikan mau ke Nusa Dua, ke rumah budhe-nya, korban kemudian dibantu petugas mencarikan angkot hingga sampai di Terminal Batu Bulan. Sesampainya di terminal, korban berniat mencari petugas polisi untuk meminta bantuan lagi mencarikan angkutan Sarbagita jurusan Nusa Dua

Lantaran merasa sudah tidak punya uang, niat tersebut diurungkan. Korban lalu bertemu dengan Satpam terminal yang kemudian membantunya mencari ojek pada Rabu (8/5) pukul 09.00. Kepada Satpam tersebut, korban akhirnya jujur telah dianiaya majikannya.

"Diantarlah korban naik ojek dengan membayar Rp 120 ribu. Dibayarin temannya ketemu pukul 09.00 di Nusa Dua. Lukanya itu dua hari tidak diapa-apakan. Sudah melepuh dan menempel. Bajunya akhirnya digunting oleh temannya. Di bagian tubuhnya 50 persen. Juga paha kanan kirinya," ungkapnya.

Barulah pada Kamis (9/5) korban dibawa ke puskesmas Kuta Selatan. Hingga bertemu dengan seorang perawat yang dikenal dengan nama Ibu Guntur. Berawal dari perkenalan itu, kasus korban kemudian ditangani oleh Supriyono.

"Ketiganya kami laporkan. Saya minta supaya segera ditangkaplah. Majikan, adik tiri dan satpamny itu. Saya pikir adik tirinya ini juga dalam tekanan. Karena korban juga sempat melihat adiknya disakiti selama tujuh buln kerja disana. Kalau adiknya sudah lama kerja di sana," jelasnya.

"Majikannya ini temperamen. Suaminya tidak tiap hari pulang ke situ. Di rumah itu kan ada anaknya yang masih balita kembar. Nah korban ini bagian bersih-bersih. Kalau adik tirinya kan baby sitternya. Di kerja disitu karena adik tirinya," jelasnya.

Kondisi korban pun sangat tertekan sampai saat ini. Hingga tidak berkenan dengan nama dan semua yang berkaitan dengan kata Gianyar. Sehingga memilih melapor ke Polda Bali dan korban sudah di visum.

"Kami laporkan dengan UU KDRT dulu. Bisa di junctokan dengan pasal 351 ayat (2), ayat 353 ayat (2) dan 354. Nantinya juga kami minta PPA bekerjasama dengan Dinsos Provinsi Bali agar ditempatkan di rumah aman. Karena korban tidak memiliki tempat tinggal. Segala perawatan kesehatan negara harus hadir. Saya jug akan bersurat ke Komnas HAM dan LPSK. Korban harus dapat ganti rugi," tegasnya.

Seperti diberitakan, niatnya mengadu nasib ke Bali, justeru berujung penganiayaan. Pun gaji selama 7 bulan juga tidak dibayar oleh majikannya. Begitulah nasib malang pembantu rumah tangga asal Kalisat Jember yang bernama Eka Febriyanti, 21, harus mengalami luka bakar hingga 50 persen di sekujur tubuhnya yang diduga lantaran disiram dua panci air mendidih oleh sang majikan Desak Made Wiratningsih.

Dari pengakunnya kejadian tersebut terjadi hanya karena permasalahan gunting besi  yang hilang. Kemudian korban disuruh mencarinya sampai ketemu. Sayangnya, korban tidak ingat betul lokasi rumah tempatnya bekerja. Ia hanya menyampaikan TKP di dekat Stadion Dipta Gainyar, tepatnya gang masuk sebelah Indomaret rumah pojok sendiri.

 "Saya sudah berusaha mencari, ternyata gunting tersebut tidak ketemu. Kalau tidak ketemu kan menerima sanksi. Jadi saya berani disiram air panas itu. Tapi setelah saya ketakutan disiram dua panci. Saya melarikan diri," jelas korban.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia