Jumat, 24 May 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Pagerwesi, Warga Pengaji Gelar Tradisi Mamunjung ke Kuburan

15 Mei 2019, 20: 55: 45 WIB | editor : Nyoman Suarna

Pagerwesi, Warga Pengaji Gelar Tradisi Mamunjung ke Kuburan

MAMUNJUNG: Puluhan warga Banjar Pengaji, Desa Malinggih Kelod, Kecamatan Payangan, menggelar tradisi mamunjung di kuburun, Rabu (15/5). (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, GIANYAR – Tradisi mamunjung ke setra (kuburan) pada hari Pagerwesi,  Rabu (15/5), tidak hanya dilaksanakan krama di Buleleng. Di Kabupaten Gianyar, tradisi serupa juga dilakukan krama Banjar Pengaji, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan.

Kelihan Adat Banjar Pengaji I Wayan Suandi kepada Bali Express (Jawa Pos Group) menjelaskan, tradisi tersebut sebenarnya telah berlangsung lama, dan dilakukan secara turun-temurun. Setiap warga yang memiliki keluarga meninggal dunia dan dikubur di setra, paparnya, pasti melakukan tradisi mamunjung.

 “Tradisi itu sudah dilakukan sejak lama dan turun-temurun. Tanpa diberitahu, warga yang anggota keluarganya dikubur, pasti datang ke setra, sambil membawa sesajen,” teranganya.

Pihaknya memang belum menemukan sumber sastra, kenapa tradisi mamunjung dilaksanakan krama banjar setempat. Namun diyakini, tradisi itu sebagai penghormatan kepada leluhur maupun keluarga yang telah meninggal dunia.

 “Upakara yang dibawa, di antaranya wastra (pakaian), sesajen berupa canang hingga ajengan (makanan). Setelah memunjung, biasanya dilanjutkan dengan makan mengelilingi kuburan. Yang ikut juga orang terdekat dan masih dalam lingkungan keluarga yang meninggal,” terang Suandi.

Disinggung jika tradisi tersebut tidak dilakukan, dan dampak yang ditimbulkan? Suandi meyakini memang tidak akan terjadi apa-apa. Namun, sebagai tradisi yang sudah rutin dilakukan, warganya tidak pernah memungkiri.

“Kalau tidak dilakukan sebenarnya tidak apa-apa. Tetapi setahu saya, tidak pernah tidak dilakukan. Setiap Pagerwesi, warga pasti datang ke kuburan mamunjung, tanpa ada siaran di banjar. Jam sembilan datang, jam sepuluh sudah pulang, sudah tradisi itu,” tandasnya.

Warga yang memunjung diperkirakan mencapai 50-an orang, sedangkan jumlah kuburan yang ada sampai saat ini sebanyak 18 kuburan. Di dekat kuburan itulah sanak keluarganya menghaturkan punjung, kemudian secara bersama-sama makan surudan punjung tersebut. Setelah habis, barulah warga pulang ke rumah masing-masing.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia