Rabu, 13 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Politik

Kader Main Pukul, PDIP: Pilihannya Tak Saling Lapor atau Dipecat

16 Mei 2019, 10: 19: 33 WIB | editor : I Putu Suyatra

Kader Main Pukul, PDIP: Pilihannya Tak Saling Lapor atau Dipecat

IGN Jayanegara (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR – Pengurus DPD PDIP Bali mulai mengambil tindakan terhadap dua orang kadernya di DPRD Bali yang terlibat perkelahian, Dewa Nyoman Rai dan Kadek Diana. Rencananya, Jumat besok (17/5), keduanya akan dipanggil ke DPD untuk diminta keterangannya.

Tindakan itu sebagai langkah awal yang dilakukan pengurus DPD terhadap dua orang kadernya tersebut yang kini saling lapor ke polisi. Apalagi, peristiwa itu menyangkut nama baik partai. Seperti ditegaskan Sekretaris DPD PDIP Bali, IGN Jayanegara, Rabu malam (15/5). “Tidak tunggu (keduanya tenang). Kami sudah bersurat ke mereka. Tanggal 17 pagi, mereka berdua diundang ke DPD untuk dimintai klarifikasi. Karena ini sudah menyangkut nama baik partai. Mereka selaku anggota fraksi, bukan perorangan,” ujarnya.

Meski begitu, dia menjelaskan bahwa pemanggilan tersebut masih sebatas klarifikasi. Belum sampai melibatkan Bidang Kehormatan partai. “Selaku keluarga besar, kami wajib bertanya. Kami tidak mau juga dengar informasi sepihak,” imbuh Jayanegara.

Menurutnya, jajaran DPD sangat menyesalkan peristiwa yang melibatkan kedua kader PDIP tersebut. Terlebih, peristiwa itu muncul setelah DPD mengaluarkan instruksi kepada seluru anggota, kader, maupun petugas partai pada 12 Mei 2019 lalu.

Sesuai instruksi bernomor 544/IN/DPD-02/V/2019 yang ditandatangani Ketua DPD PDIP Bali Wayan Koster dan Jayanegara sendiri, semua kader diminta untuk menghormati dan menjaga persaudaraan.

Walaupun, poin pertama dari instruksi itu adalah ucapan terima kasih kepada semua pihak terkait kemenangan PDIP dalam pemilu baru-baru ini. “Kamipun tidak menyangka ada kejadian seperti itu,” tegasnya.

Dengan terjadinya peristiwa tersebut, jajaran partai memastikan akan mengambil tindakan atas perbuatan mereka. Mulai dari teguran, peringatan keras, hingga pemecatan. “Ada atau tidak ada instruksi, pasti ada tindakan. Apalagi ada instruksi. Cuma mekanisme pemberian sanksi itu ada. Makanya kami mau dengar penjelasan dari kedua belah pihak,” politisi yang juga Wakil Wali Kota Denpasar tersebut.

Berdasarkan salinan yang didapatkan koran ini semalam, instruksi DPD itu pada prinsipnya meminta semua kader untuk menyampaikan terima kasih kepada masyarakat. Kemudian, meminta kader untuk menjaga nama baik dan menaati AD/ART.

Bahkan, entah sebuah kebetulan atau bukan, poin kelima menginstruksikan agar semua kader saling menghormati dan menjaga persaudaraan sebagai bagian dari keluarga besar partai. Kalaupun ada persoalan atau konflik, partai meminta diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak saling lapor kepada aparat penegak hukum.

Selanjutnya, pada poin keenam atau terakhir, instruksi itu juga mencantumkan ancaman kepada kader atau petugas partai yang melanggar AD/ART dan tidak menjalankan instruksi partai. Ancamannya, DPD akan melaporkan ke DPP agar diberikan sanksi pemecatan. Atau bagi petugas partai yang di legislatif, sanksinya disertai dengan pergantian antarwaktu (PAW).

Sementara itu, sebelumnya, setelah terungkap percakapan grup WA (whatsapp) Fraksi PDIP DPRD Bali, memang terlihat bahwa Ketua Fraksi PDIP Kadek Diana yang lebih awal menantang berkelahi. Saat koran ini mewawancarai Dewa Rai, dia menyebut sikap Kadek Diana seperti anak kecil, setelah berkelahi lapor polisi. “Percakapan di Grup WA Fraksi sudah terungkap, itulah faktanya memang Kadek Diana yang menantang ngajak berkelahi, Namanya ditantang pasti juga kita jengah,” kata politisi plontos yang sudah tiga periode duduk di DPRD Bali ini.

Dewa Rai mengatakan dengan kondisi seperti ini, membuat emosinya tak bisa terkontrol ketika melihat Kadek Diana. Akhirnya dia mengajak berkelahi, Dewa Rai melontarkan pukulan dan mendarat di pelipis Kadek Diana. Saat itu juga Diana memukul dan berhasil dia tepis. “Saya dipukul juga, tapi bisa saya tepis. Makanya tangan saya bengkak, akhirnya teman – teman melerai,” ujar politisi asal Tembok, Buleleng ini.

Namun yang membuat Dewa Rai kecewa dengan Kadek Diana, adalah ketika perkelahian itu malah dilaporkan ke Polda Bali dengan tuduhan penganiayaan. “Dek Diana care nak cenik (Kadek Diana seperti anak kecil), dia yang menantang kelahi, kemudian sudah berkelahi, ketika keluar darah malah lapor polisi,” cetus Dewa Rai mengaku kecewa.

Dengan situasi seperti ini akhirnya Dewa Rai mengambil langkah hukum juga sebagai bentuk pembelaan. “Akhirnya saya mengambil langkah hukum juga, melaporkan balik sebagai pembelaan. Dengan menunjukkan bahwa memang Kadek Diana menantang berkelahi, saya bukan ujug – ujug main pukul. Itu perkelahian, bukan saya menganiaya,” tegasnya.

Apa langkah selanjutnya? Dewa Rai mengatakan bahwa dengan kondisi ini dirinya menunggu proses di polisi dan menunggu sikap – sikap dari internal partainya di PDIP. “Saya menunggu sikap polisi kan saya sudah melapor juga. Selain itu saya juga menunggu sikap induk partai saya di PDI Perjuangan,” jawabnya.

Sedangkan, dihubungi terpisah, Diana justru mengatakan tidak merasa menantang berkelahi Dewa Rai. “Saya merasa ungkapan saya menantang Dewa Rai itu tidak benar, sudah ada percakapan saya detail itu baca yang jelas,” ungkap Kadek Diana.

Politisi asal Sukawati ini mengatakan, agar secara cermat membaca percakapan digrup WA Fraksi PDIP itu. “Coba dibaca dengan cermat, pahami, tidak ada saya menantang,” jelasnya sembari membaca secara detail percakapan itu.

Kadek Diana mengatakan ketika ada kalimat “Kalimat saya itu ‘Bila ada yang ingin menantang berkelahi’. Apa artinya, kalau ada orang yang mau menantang berkelahi. Bukan saya menantang Dewa Rai, jika ada yang mau menantang saya,” jelasnya. “Bila perlu carikan ahli bahasa, apakah kalimat saya itu menantang. Saya mengatakan, kalau ada yang mau menantang,” imbuh pemilik suara 80 ribu lebih dalam Pileg 2019 ini.

Tapi Dewa Rai menyimpulkan menantang? Kadek Diana mengatakan itu artinya salah mengerti akan kalimat orang. “Setiap kalimat saya ada maknanya, sekecil apapun itu. Kalau itu dianggap menantang, saya pastikan itu salah memahami kalimat,” ungkap.

Terkait dengan laporan balik Dewa Rai yang menyebut Kadek Diana juga memukul, Kadek Diana memilih menyerahkan ke pihak kepolisian. “Silakan pihak polisi yang menuntaskan, satu gedung orang bisa jadi saksi melihat apa tidak saya memukul. Yang pasti saya duduk dipukul bahkan saya tidak lihat Dewa Rai,” tegasnya.

Terkait langkah ke partai? Kadek Diana mengatakan silakan agar dikonfirmasi ke Kettua DPD PDIP Bali Wayan Koster. “Apa sikap partai, silakan tanyakan ke Pak Koster. Saya menunggu saja apa sikap dari partai,” cetus Kadek Diana.

Berdasar informasi yang diperoleh, Diana Kamis hari ini (16/5) bakal dipanggil ke Mapolda Bali untuk menjalani pemeriksaan. Ini menindaklanjuti Laporan Polisi Nomor : LP/196/V/2019/BALI/SPKT, tertanggal 14 Mei 2019.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Reskrimum Polda Bali Kombespol Andi Fairan usai pihaknya menerima dan memeriksa berkas laporan yang diajukan anggota Komisi III DPRD Provinsi Bali itu. “Sudah menerima laporan polisi dari Krisna ya, melaporkan Dewa Rai. Kami akan mendapatkan visum. Dimana dia melakukan visum hasil luka yang diterima sebagai korban. Rencana hari Kamis (hari ini) kami akan mengambil keterangan dari korban. Saudara Diana,” jelasnya kemarin.

(bx/art/hai/afi/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia