Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Calonarang Ciptakan Wabah Penyakit dengan Ritual Avidyatantra

16 Mei 2019, 13: 22: 56 WIB | editor : I Putu Suyatra

Calonarang Ciptakan Wabah Penyakit dengan Ritual Avidyatantra

MAGIS : Sosok yang terlibat dalam pentas Calonarang sangat magis dan menyeramkan. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Membuat  wabah penyakit mematikan, ternyata bisa dilakukan lewat ritual dan tarian khusus, seperti yang dipentaskan Calonarang. Lewat  tarian magis memuja kekuatan Hyang Bhatari Durga, sanggup menurunkan lima kekutan Durga yang mengerikan. Bagaimana ritusnya?

Kisah Calonarang sangat melegenda, bahkan menyeramkan karena terkait erat dengan soal wabah penyakit, kuburan, dan ilmu kawisesan. Praktik menciptakan wabah penyakit seakan dibeber benderang oleh Calonarang dan pengikutnya. "Para sisnyanku prasamya, umigal ta kita maring telangin setra gandamayu. Sigrakopa rengenta kemenak kangsi suara lango. Pinuja de Hyang Bhattari astu anugeraha siddhi wisesa angadakaken gering merana." Demikian penggalan kisah Calonarang menari dengan para muridnya di kuburan, dan memuja Hyang Bhatari Durga sembari memohon anugerah guna menciptakan wabah (epidemi), dibeber peneliti  budaya, dosen, dan penulis  buku, I Ketut Sandika S.Pd.,M.Pd  kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di  Denpasar,  kemarin.

Dikatakan Sandika, tarian Tantrik  digelar mengikuti pola Mandala Yantra dengan Ni Calonarang berada pada titik pusat, sementara muridnya mengitari membentuk lingkaran. "Sebuah pola tarian magis dalam memuja kekuatan Hyang Bhatari Durga dalam aspeknya sebagai Panca Durga, " terang pria kelahiran Klungkung ini.


Sandika yang  juga sibuk menulis buku terkait dengan ilmu dan budaya Bali kuno ini, mengatakan, mereka menurunkan lima kekuatan Durga sebagai Sridurga pengendali sekaligus penguasa Bhutakala dan Yaksa, Daridurga penguasa Bhutakapiragan, Sukridurga penguasa Bhuta Kamala-kamali, Rajidurga penguasa Bregala- bregali, dan Dewi Durga sendiri sebagai penguasa Panca Bhuta.


" Kekuatan ini masing-masing berada pada empat arah mata angin dan berpusat pada satu titik pusat hingga berpola Tampak Dara atau Catuspata (tanda +)," papar penulis buku Tantra dan Siwa Tattwa ini. Dari Mandala inilah, lanjut pria low profile ini, mereka menyebar wabah yang mengerikan. Masing-masing Bhuta diutus untuk menciptakan kehancuran melalui empat arah. Kekuatan penghancuran yang diciptakan merupakan kekuatan hasil dari sebuah ritual esoterik Avidyatantra (jalur kiri) dimana mereka memainkan pusaran energi kosmik ke arah kiri. Putaran ke kiri menimbulkan kekuatan sentrifugal (pelepasan). Jadi, energi Bhuta dilepas sehingga menimbulkan chaos atau ketidakseimbangan lima elemen Panca Mahabhuta.


Pria yang juga penulis skenario film Nyungsang ini membeber ulasannya ini, mengutip dari sejumlah lontar, mulai dari lontar Akitan Calonarang,  Kawisesan Calonarang (Paradah), lontar
Bhuwana Mareka, dan Purwana Bumi Tuwa.


Pada masing-masing arah Catuspatayantra Mandala dikendalikan oleh sisya Calonarang. Sebelumnya mereka sudah dibekali bijaksara sebagai 'kata kunci' untuk memainkan aksara, sehingga memunculkan getaran atau vibrasi. Lenda berada di Timur, ia personifikasikan dirinya sebagai Sridurga. Ia yang membuat penyakit, sehingga Bhutakala adalah energi yang dilepaskannya. Bijaksara Sang sebagai kata kunci. Di alam mikro (tubuh) ia berada di jantung. Sadyojata dipuja sebagai Iswara. Sad dibalikkan menjadi Syam Ah Ong. "Iswara menjadi Kursika dan Bhuta Dengen, sehingga membuat manusia bingung, pikiran kalut, emosi tidak terkontrol, marah yang memuncak, dan berujung pada kematian mendadak tanpa sebab,"'papar
Sandika yang juga dosen Ilmu Yoga dan Kesehatan IHDN Denpasar ini.


Selanjutnya, Lenda-lendi berada di Selatan, ia mempersonifikasikan dirinya sebagai Daridurga. Ia yang menciptakan sakit, dan Bhuta Kapiragan adalah energi yang dilepaskannya. Bijaksara Bang sebagai kata kunci, di alam mikro ia berada di hati. Bamadewa dipuja sebagai Brahma. Ba dibalikkan menjadi Bam Ah Ong Rang, sehingga Bhamadewa menjadi Sang Garga dan Bhuta Mong. Ia yang membuat nafsu tidak terkendali, pikiran kacau, stres tanpa sebab, sakit kepala hingga berujung kematian.


Kemudian, Adiguyang berada di Barat, ia mempersonifikasikan dirinya sebagai Sukridurga. Ia yang menyebar Bhuta Kamala-kamali, sehingga membuat penyakit. Bijaksara Tang kata kuncinya, dan di alam mikro ia berada di ungsilan. Tatpurusa dipuja sebagai Mahadewa. Ta dibalikkan menjadi Tang Ah Ong Reng, sehingga Tatpurusa menjadi Sang Meitri dan Bhuta Naga. Ia yang membuat perut sakit, pencernaan terganngu, diare dan muntah hingga berujung pada kematian.


Selanjutnya Waksirsa berada di Utara, ia mempersonifikasikan dirinya sebagai Rajidurga. Ia yang menyebar Bhuta Bregala, sehingga menyebabkan wabah penyakit. Bijaksara Ang kata kuncinya, dan di alam mikro berada di empedu. Aghora dipuja menjadi Wisnu, dan Ang dibalik menjadi Ah Ang Ong Rueng. Aghora menjadi sang Kurusya dan Bhuta Bhuaya. Ia yang membuat nyali terganggu dan berujung pada kematian.


Larung bersama Calonarang berada di tengah, mereka mempersonifikasikan dirinya sebagai Dewi Durga. Panca Bhuta disebar untuk membuat segala macam penyakit. Bijaksara Ing sebagai kata kunci, dan di alam mikro berada di tengah hati. Isana dipuja menjadi Siwa sakti. Ing Yang  dibalik menjadi Yang Ing Ah Ang Rung, Isana menjadi Bhuta Jangitan, dan ia yang membuat komplikasi penyakit.


Meskipun sangat mengerikan, pria yang juga dosen IKIP PGRI Bali ini mengatakan, apapun praktik Tantra Kiri yang digambarkan Calonarang adalah sebuah gambaran indah tentang kasanah ilmu yang terbangun dari perjumpaan atas beberapa konsep ketuhanan. Dan, hal tersebut dapat dijadikan sebuah refleksi diri. "Epidemi yang disebar Calonarang beserta dengan muridnya adalah sebuah gambaran bahwa para Bhuta berada dalam diri. Konon, para Bhuta menyebar panyakit ke arah empat mata angin dan berdiam di sana. Namun kini, mereka tidak lagi bersemayam pada arah Catuspata, tetapi bersarang di Catuspata diri, yakni pikiran, hati, ucapan, dan tindakan.

 "Jika Bhuta masih memengaruhi pikiran, hati, ucapan dan tindakan, maka sangat perlu diseimbangkan. Bhuta mulihnia menadi Panca Dewata dan nunggal Angkara dengan Ahkara menjadi Ongkara sebagai rasa yang santa, sehingga harmoni," pungkasnya.

(bx/rin/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia