Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Tak Hanya Disiram Air Panas, Santi Juga Pernah Dibakar Majikannya

16 Mei 2019, 18: 49: 51 WIB | editor : I Putu Suyatra

Tak Hanya Disiram Air Panas, Santi Juga Pernah Dibakar Majikannya

TERSANGKA DAN KORBAN: (Ki-ka) Desak Made Wiratningsih, Kadek Erik Diantara, dan Santi Yuni Astuti. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Dua dari tiga orang yang dilaporkan dalam kasus penyiraman air panas di Gianyar ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik di Polda Bali. Mereka adalah sang majikan Desak Made Wiratningsih, 36 dan satpamnya Kadek Erik Diantara. Sedangkan satu orang lagi Santi Yuni Astuti yang tak lain kakak tiri pelapor, Eka Febriyanti, 21, statusnya diperiksa sebagai korban. Eka sendiri melapor ke Polda dengan dengan nomor LP/202/V/2019/BALI/SPKT, tertanggal 15 Mei 2019.

Sementara itu terlapor Santi Yuni Astuti, yang tidak lain adik tiri korban Eka diperiksa sebagai korban. Lantaran Santi juga mengalami nasib yang sama dengan Eka, bahkan bisa dikatakan lebih parah. Dan saat turut menyiramkan air panas dalam kondisi tertekan ancaman Desak.

BACA JUGA

Gaji Tak Dibayar, Setelah Disiram Air Panas, Eka Masih Nyari Gunting

Siram PRT dengan Air Panas, Polisi Giring Tiga Orang ke Polda

Hal tersebut ditegaskan oleh Dir Reskrimum Polda Bali Kombespol Andi Fairan. Menurutnya, usai ketiganya digiring ke Mapolda Bali pada Rabu (15/5) dan menjalani pemeriksaan. status Santi yang awalnya terlapor kini berubah menjadi korban. Pun, pihaknya masih menunggu hasil visum untuk kelengkapan berkas laporan milik Santi.

“Laporan korban Eka sudah kami dalami. Ternyata terlapor Santi yang adik tirinya korban ini setelah kami cek, juga sebagai korban penganiayaan yang dilakukan oleh majikannya. Karena setelah kami lihat ternyata ada luka air panas. Dia mengatakan juga pernah dibakar menggunakan korek dan rambutnya juga dipotong,” jelas Andi Fairan.

Saat ini Dit Reskrimum Polda Bali tengah mendalami dua dugaan kuat kasus penganiayaan pembantu rumah tangga oleh sang majikan. Dimana Desak dan Kadek Erik dijadikan tersangka. Dan jajaran penyidik Dit Reskrimum Polda Bali tengah melengkapi saksi-saksi. Serta menyita barang bukti seperti kompor gas, panci, dispenser dan gelas.

“Jadi dia melakukan itu karena takut. Apabila dia tidak menyiram kakaknya, dia juga akan disiram. Jadi dia melakukan itu di bawah tekanan, di bawah ancaman. Sehingga melakukan itu. Kami juga baru tahu Santi ternyata korban juga semalam (usai digiring ke Mapolda Bali). Sementara kami jadikan dua korban, Korban Eka yang dirawat di RS Bhayangkara dan perlindungan sementara Polri. Kemudian Santi sendiri sudah dalam pengobatan namun tidak kami rawat,” terangnya.

Pihaknya menilai bahwa asisten rumah tangga ini mendapatkan hukuman dan siksaan jika yang bersangkutan melanggar atau melakukan kesalahan selama bekerja untuk Desak. Dari hasil pemeriksaan sementara, kedua korban mengenal Desak dari media sosial Facebook, lantaran Desak memiliki background bisnis online.

Dari situlah kemudian keduanya ditawari bekerja di Bali sebagai pembantunya dengan upah Rp 1 juta per bulannya. Sayangnya, selama 7 bulan bekerja keduanya tidak pernah mencicipi uang hasil keringatnya. Yang ada malah gaji dipotong jika melakukan kesalahan. Keduanya kemudian berangkat ke Bali dan dijemput oleh Kadek Erik di Nusa Dua untuk dibawa ke rumah Desak.

“Erik ini melakukan tidak ada tekanan karena dia bekerja untuk majikan ini. Erik itu setiap hari disamping menjadi satpam juga mengantar Santi menjual barang dan baju di pasar Gianyar,” ucapnya.

Kedua tersangka terbukti melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 44 ayat (2) dengan ancaman 10 tahun penjara.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia