Selasa, 15 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Features

Warga Sidatapa Lepas 19.485 Burung Pemakan Ulat, Hasil Tani Meningkat

17 Mei 2019, 09: 51: 29 WIB | editor : I Putu Suyatra

Warga Sidatapa Lepas 19.485 Burung Pemakan Ulat, Hasil Tani Meningkat

PEMBASMI HAMA: Ratusan burung dilepasliarkan oleh masyarakat Desa Sidatapa, pada Selasa (14/5) lalu. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

Ada cara unik yang dilakukan penduduk Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng untuk mengantisipasi hama ulat yang kerap menyerang tanaman cengkih. Demi menjaga keseimbangan ekosistem, mereka tidak memakai pestisida kimia untuk menumpas hama. melainkan memanfaatkan musuh biologis dengan cara melepasliarkan burung. Cara ini digadang-gadang ampuh untuk mengantisipasi gagal panen akibat serangan ulat  pada tanaman cengkih. Seperti apa?

 

I PUTU MARDIKA, Banjar

RATUSAN warga Sidatapa berkumpul di depan Pura Desa, Desa Sidatapa pada Selasa (14/5) pagi. Mereka berkumpul untuk melepasliarkan 400 ekor burung ke alam bebas. Menariknya, acara pelepasliaran burung juga diikuti sejumlah wisatawan mancanegara (wisman).

 Burung-burung yang dilepaskan tersebut dibeli dari sejumlah peternak. Dana pembelian tersebut berasal dari sejumlah donator. Burung yang dilepaskan rata-rata burung pemakan ulat. Seperti burung prenjak, kutilang, punglor, perkutut, dan titiran.

 Tokoh masyarakat Desa Sidatapa, Wayan Ariawan mengungkapkan, kegiatan pelepasliaran burung itu sejatinya sudah dilakukan sejak Desember 2014 silam dan berlangsung hingga sekarang. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi hama ulat yang kerap menyerang tanaman cengkih dan tanaman buah seperti durian dan manggis di Desa Sidatapa dan sekitarnya.

 Terlebih, warga Sidatapa, sebut Ariawan, sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian buah-buahan dan cengkih. Sehingga sebelum aksi ini digagas, petani cengkih dan buah kerap gagal panen, akibat serangan ulat.

 ”Kami yakin, burung-burung yang dilepas itu memang memakan hama ulat. Karena selama ini ulat yang sering mengganggu tanaman cengkih, durian, dan manggis di Sidatapa. Dan memang efektif hasilnya sejak 5 tahun lalu. Hasil pertanian meningkat,” kata Ariawan.

 Jika dihitung sejak tahun 2014 silam, sudah 19.485 ekor burung yang dilepas warga. Belasan ribu burung itu dilepasliarkan bukan hanya dari kawasan Sidatapa. Melainkan kawasan Desa Bali Aga lain, seperti Desa Pedawa, Tigawasa, Cempaga dan Desa Banyuseri.

 Lanjut Ariawan, even pelepasliaran burung dilakukan dua hingga empat kali dalam setahun bersama masyarakat. Tergolong dari jumlah donator yang membantu menyediakan burung-burung untuk dilepaskan.

 Tak hanya itu, simbiosis mutualisme ini digadang-gadang efektif untuk menjaga keseimbangan alam serta meminimalisasi penggunaan insektisida kimia untuk mengantisipasi hama ulat. Pihaknya juga meminta kepada masyarakat untuk tidak menangkap burung maupun menembak burung di alam bebas. Sebab selain merusak ekosistem, juga akan dikenakan denda dari desa setempat.

 “Jadi kami ingin mengedukasi petani agar tidak terlalu sering menggunakan insektisida untuk memberantas ulat. Karena musuh biologisnya sudah ada. Ya burung-burung pemangsa ulat ini. Makanya kalau bisa dilepasliarkan, kenapa harus menangkap burung,” imbuhnya.

 Selain berdampak positif bagi petani dan lingkungan, Ariawan pun berharap langkah positif ini dapat mempromosikan Bali Aga di mata wisatawan manca Negara. Terlebih, kegiatan ini senantiasa mendapat atensi dari sejumlah wisatawan yang berasal dari Jerman, Rusia, Jepang, Tiongkok, Perancis hingga Australia.

 “Kami bersama masyarakat Bali Aga tetap konsisten melakukan pelepasliaran burung ini. Sehingga Sidatapa dan Bali Aga bisa menjadi ajang destinasi wisata alam bagi wisatawan mancanegara,” harapnya.

 Upaya pelepasliaran burung pemakan ulat inipun mendapat apresiasi dari petani cengkih Sidatapa, Putu Darma. Ia mengaku jika sebelum program ini dilakukan, hasil panen cengkih sangat rendah. Sebab, kondisi pohon cengkih kerap diserang hama ulat geret batang. Sehingga membuat cengkih menjadi kurus.

 “Pengaruhnya ada, karena sebelum program ini dilakukan cengkih kami sering diserang hama ulat. Kurus, buahnya sedikit, jadi panennya tidak maksimal. Tapi setelah ada pelepasliaran burung hasil pane cengkih meningkat, karena tidak diserang hama ulat,” singkatnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia