Selasa, 12 Nov 2019
baliexpress
icon featured
Balinese

Jro Sujana Sering Bantu Temukan Anak Disembunyikan Wong Samar

17 Mei 2019, 10: 22: 08 WIB | editor : I Putu Suyatra

Jro Sujana Sering Bantu Temukan Anak Disembunyikan Wong Samar

TAPAKAN: Jro Sujana menunjukkan empat tapakan di kamar Suci miliknya. (I PUTU MARDIKA BALI EXPRESS)

Share this      

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Selain mengobati orang sakit, Jro Nyoman Sujana, asal Banjar Paketan, Kelurahan Paket Agung, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, juga sering membantu menemukan orang hilang berhari-hari akibat disembunyikan oleh Wong Samar, Gamang ataupun Memedi. Ketika keluarga korban hilang mendatangi rumahnya, dalam waktu cepat Jro Sujana berhasil menemukan anak yang disembunyikan Memedi.

Seperti dialami oleh seorang pasien asal Desa Tukadmungga dan Desa Kalibukbuk“Mereka disembunyikan memedi. Saya diminta membantu, kemudian setelah saya datangi di lokasi ternyata berhasil ditemukan di bawah pohon, dekat semak-semak,” terang istri Wayan Sari.

Imbuh Jro Sujana, saat mengobati pasien, dirinya hanya menerima pawisik saja. Setelah pawisik diterima, barulah disampaikan kepada pasien untuk diberikan tamba (obat). Tamba itu berwujud tirta untuk dipercikkan kepada pasien.

“Kalau yang datang memang sudah ribuan. Dalam sehari kadang puluhan datang. Bisa sampai pagi orang berobat. Tapi kalau mejodo ya sembuh. Kalau tidak ya gagal. Itu semua kehendak Beliau. Sekali lagi tiang hanya sebagai perantara saja,” jelasnya.

Untuk memberikan penghormatan kepada tapakan yang disungsungnya, setiap Tumpek Landep tapakan itu dibuatkan sesajen khusus. Menariknya, pasien yang datang bisa saja mengalami kerauhan karena tapakan merangsuk ke dalam pasien yang dikehendaki sambil mesolah.

“Pasien yang dimasuki Jro Tapakan itu secara bergilir ketika tumpek landep. Tergantung yang dikenhendaki beliau. Mau pasien yang mana. Beliau milih. Nanti setelah itu sang pasien diberikan pawisik agar sembuh,” pungkasnya.

Saat ditanya banten yang dibawa pasien untuk nunas tamba, Jro Sujana menegaskan jika dirinya tak menentukan jenis banten. Ia menyebut semampu pasien, apapun boleh dibawa. “Mau canang sari, pejati boleh-boleh saja, semampunya. Tidak ada syarat khusus,” tutupnya.

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia