Kamis, 20 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Tak Ada Komunikasi, Pemilik Kandang Babi Sempat Digugat Rp 5 Miliar

17 Mei 2019, 20: 02: 05 WIB | editor : Nyoman Suarna

Tak Ada Komunikasi, Pemilik Kandang Sempat Digugat Rp 5 Miliar

KANDANG : Kandang babi milik I Nyoman Suastawa yang digugat oleh PT Nandini Bali di Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, Gianyar. (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, GIANYAR – Pemilik kandang babi di Banjar Susut, Desa Buahan, Kecamatan Payangan, I Nyoman Suastawa  mengaku, sebelumnya sempat digugat Rp 5 miliar oleh PT Nandini Bali. Namun setelah dimediasi di Pengadilan Negeri Gianyar, gugatan turun menjadi Rp 2,9 miliar.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Jumat (17/5), Suastawa mengaku, kandang yang dibuatnya itu, adalah untuk mensuplai kebutuhan pupuk tanaman di tegalan miliknya.  Ia pun tidak mengetahui aroma kotoran babi di kandangnya  sampai ke hotel dan restaurant milik PT Nandini Bali.

Pengamatan di lapangan, hotel dan restaurant milik PT Nandini Bali dengan kandang milik Suastawa hanya dibatasi  tembok.  “Betul, saya membangun kandang babi di lahan saya sendiri. Kebetulan tegalan saya itu bersebelahan dengan hotel,” paparnya.

Alasan Suastawa membangun kandang babi di sana agar setiap sudut tegalannya berisi kandang. Tidak hanya kandang babi, ia juga membuat kandang sapi di setiap sudut tegalan miliknya. Alasannya, selain untuk diternak, kotoran ternak tersebut juga bisa dijadikan pupuk untuk tanaman di tegalan miliknya.

Ia mengatakan, sebelumnya memang tidak pernah ada komunikasi. “Di antara kami memang tidak mau tahu. Saya lupa, kalau di samping kandang saya ada hotel dan restaurant karena dibatasi tembok tinggi. Jadi saya tidak tahu kalau keberadaan kandang babi mengganggu hotel. Awalnya saya digugat Rp 5 miliar, setelah mediasi di Pengadilan Negeri Gianyar, gugatan itu akan dicabut. Namun saya tetap dimintai ganti rugi Rp 2,9 miliar itu,” ungkapnya.

Di kandang milik Suastawa yang berukuran 2,5 x 3 meter tersebut hanya terdapat dua ekor anak babi. Jarak kandang sekitar 7 meter dari tembok hotel. Sebelumnya, prajuru desa yang ada di sana memang tidak pernah memberitahu terkait keberatan pihak hotel. Ia kaget, tiba-tiba ada gugatan yang menyeretnya ke pengadilan.

“Jangankan kandang, lahan dan nyawa saya tidak ada segitu harganya. Apalagi buat orang kampung seperti saya. Makanya saat mediasi, diminta Rp 2,9 miliar,” tukasnya.

Ketua Majelis Hakim Persidangan, A.F.S Dewantoro saat ditemui Kamis (16/5) mengatakan, kandang babi milik Suastawa dibangun sesudah hotel dan restaurant tersebut berdiri. Kandang yang berada di utara bangunan hotel dan restaurant dianggap mengganggu karena aroma dari kotoran babi itu tercium sampai ke sana dan banyak lalat yang datang. Hotel dan restaurant itu juga sudah ada sejak tahun 2005 lalu, sedangkan kandang babi baru dibangun sekitar satu tahun lalu.

“Pernah dimediasi, tetapi tidak ada kesepakatan. Restaurant ini selalu mendapatkan komplain dari tamu yang makan di sana. Sampai-sampai tidak ada yang mau menginap di hotel tersebut karena baunya tidak sedap,” ungkapnya.

PT Nandini pun mengajukan gugatan, dengan  persidangan nomor perkara 242/Pdt.G/2018/PN Gin.  Berdasarkan keluhan tersebut, PT Nandini menuntut ganti rugi sebesar Rp 2.909.437.320. Kasus tersebut telah beberapa kali diproses, mulai dari pemanggilan kedua belah pihak, lanjut dengan gugatan, hak jawab menjawab, pengajuan bukti-bukti surat pemeriksaan setempat, dan baru sampai pembacaan saksi dari pihak tergugat.

(bx/ade/man/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia