Rabu, 19 Jun 2019
baliexpress
icon featured
Bali

Desak Tak Menyesal dan Tak Akui Siram PRT-nya dengan Air Panas

17 Mei 2019, 20: 35: 12 WIB | editor : I Putu Suyatra

Desak Tak Menyesal dan Tak Akui Siram PRT-nya dengan Air Panas

Desak Made Wiratningsih (ISTIMEWA)

Share this      

BALI EXPRESS, DENPASAR - Meski sudah ditetapkan sebagai tersangka, Desak Made Wiratningsih, 36, tidak mengakui telah menyiram dua pembantu rumah tangganya (PRT) dengan air panas. Dari wajahnya juga tidak tidak ada rasa penyesalan atau sedih. Saat ditanya, wanita single parent kelahiran 16 Maret 1983, ini hanya diam.

“Sampai sekarang tersangka ini tidak mengakui. Dan kami juga tidak mengejar pengakuan, tapi pembuktian. Apa adanya. Saksi-saksi yang lain, alat bukti yang lain juga sudah mendukung dan sepakat memosisikan terlapor ini sebagai tersangka,” kata Dir Reskrimum Polda Bali, Kombespol Andi Fairan.

Tersangka lain, Kadek Erik Diantara, 21 juga memilih diam. Bedanya Kadek Erik setidaknya mengakui perbuatannya turut menyiksa korban setiap kali Desak beraksi.

“Saya melihat faktanya ada korban. Saksi-saksi juga mengatakan demikian keduanya bersama-sama melakukan penyiksaan. Setiap ada pelanggaran dan kesalahan kedua pembantu tersebut disiksa,” ujarnya.

Disinggung apakah Desak mengalami gangguan kejiwaan semacam psikopat, Andi Fairan menyampaikan pihaknya akan melakukan pemeriksaan kejiwaan minggu depan. Cuma saat ini, dari hasil penyidikan pihak kepolisian, fakta yang didapatkan adalah kejadian tersebut murni kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Tidak dibarengi modus lain. “Ya bisa dikatakan melakukan dengan senang hati. Karena tidak mengakui sama sekali. CCTV juga kami periksa,” ujarnya.

Sementara itu, keterangan dari korban Eka Febriyanti, 21, dan adik tirinya Santi Yuni Astuti, 19, bahwa mereka selalu mendapat hukuman, jika melakukan kesalahan atau pelanggaran. Seperti anaknya menangis, guntingnya hilang, memecahkan piring atau kaca. Siksaan itu berupa disiram air panas, baju dibakar, dan bentuk kekerasan lainnya. Pun, sejak masuk bulan Agustus 2018 gaji mereka tidak dibayarkan untuk mempersulit korban meninggalkan TKP. Hal tersebut terbukti saat korban Eka melarikan diri, tak sepersen uang yang dikantonginya.

Korban sendiri saat ini masih rawat inap di RS Bhayangkara. Sementara untuk mendapatkan gambaran kondisi psikologis kedua korban, pihak kepolisian akan melakukan tes kejiwaan dan memberikan obat untuk keduanya dalam minggu ini.

Sedangkan terhadap tersangka kami terapkan UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga pasal 44 ayat 1 dan 2 juncto pasal 351 KUHP ayat 2 juncto pasal 55 ancamannya pidananya 10 tahun.

(bx/afi/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia