Selasa, 15 Oct 2019
baliexpress
icon featured
Kolom
LOLOHIN MALU

Seperti Selebritis, Perkelahian Politisi Bisa Naikkan Rating Politik

Oleh: Made Adnyana Ole

18 Mei 2019, 21: 38: 42 WIB | editor : I Putu Suyatra

Seperti Selebritis, Perkelahian Politisi Bisa Naikkan Rating Politik

Made Adnyana Ole (DOK. BALI EXPRESS)

Share this      

INI cerita tegang bin lucu. Di tempat saya bertugas sebagai wartawan, di sebuah kabupaten di Bali, sekitar tahun 2000-an, saya menemukan seorang anggota DPRD yang sering memamerkan pedang di mobil hardtop-nya. Bahkan, ketika terjadi konflik dengan teman-temannya di Gedung Dewan, ia mengikatkan pedangnya di sebuah tiang besi pada bak belakang mobil, lalu ia menyetir mobilnya keliling di areal parkir disertai gas yang geber-geber. Saat itu teman-temannya tak ada yang hirau. Semakin tak ada yang hirau, ia semakin menjadi-jadi, bahkan disertai ujaran-ujaran bernada tantangan.

Saya, sebagai wartawan penakut yang banyak perhitungan, tak berani menatapnya. Saya duduk di kantin di tepi halaman parkir. Diam, dan tak pernah berpikir akan menuliskannya sebagai sebuah berita, meski semua tahu kalau peristiwa itu punya nilai berita yang amat tinggi.

Saya seperti tak tahu saja. Prinsip saya, tak ada berita senilai pedang, eh, senilai nyawa. Namun,  tiba-tiba, anggota dewan itu mendatangi saya. Saya agak mengkerut juga. “Kenapa kamu diam, Ole? Ayo, wawancarai saya. Tulis apa yang saya lakukan!” katanya.

Antara kaget dan girang saya bangun dari tempat duduk. Benar-benar tak diduga saya mendapat tantangan seperti itu. Spontan saya keluarkan buku kecil dari saku, saya mewawancarainya, dan dia berapi-api menjawab semua pertanyaan saya. Saya tak ingat betul apa masalah yang ia hadapi saat itu sehingga ia niat sekali dijadikan berita. Namun sedikit saya ingat, saat itu memang sedang terjadi konflik internal di dalam fraksi partainya. Dan ia selalu merasa menjadi korban.

Besoknya, setelah dimuat, berita tentang anggota dewan membawa pedang di mobilnya itu jadi gosip politik panas. Banyak warga menghujatnya. Dan, anehnya, anggota dewan itu senang. Ia menikmati sekali pembicaraan orang-orang tentang dirinya. Saya simpulkan ia memang sedang hendak meningkatkan pencitraannya sebagai politisi yang berani, sehingga diharapkan rating politiknya akan meningkat.

Jadi, kadang politisi itu juga seperti artis atau selebritis. Jika pamor seorang selebritis mulai anjlok, ia bisa bikin pencitraan dengan cara unik. Misalnya bertingkah aneh, kadang nyerempet-nyerempet kriminal. Antara lain, berkelahi sesama selebritis. Lalu, berita perkelahian disiarkan secara masif dan terstruktur, hampir setiap jam di TV. Narasumber beritanya bisa aneh-aneh; saudara si selebritis, pembantu, penasehat spiritual, tetangga, hingga teman-teman sekolah masa TK atau SD.

Beritanya jadi panjang, ke mana-mana, dan wajah sang seleb selalu terpampang di layar TV. Itu dipercaya bisa menaikkan rating, meningkatkan pamor, menuai citra di dunia hiburan. Anda percaya? Ya, percaya saja. Karena, kadangkala itu terbukti. Si seleb terkenal lagi, main sinetron lagi, nyanyi lagi. Orang-orang melupakan kasus perkelahiannya, bahkan menganggap itu biasa dalam dunia hiburan yang amat kompetitif. Yang kemudian diingat kembali adalah wajahnya yang tayang berkali-kali dan namanya yang disebut berkali-kali.

Di dunia politik, perkelahian, termasuk perkelahian di ruang sidang parlemen atau gedung dewan, bisa jadi juga bagian dari pencitraan. Logikanya; berkelahi saja dia berani, apalagi memperjuangkan kepentingan warga konstituen yang diwakilinya di dunia politik.  Citranya sebagai seorang yang kuat dan berani akan terbangun di masyarakat. Bukankah orang yang kuat dan berani di dunia politik dianggap sebagai hero?

Itu bedanya dengan orang pintar, cerdas atau intelek. Orang pintar, yang diam-diam membangun konsep pembangunan, memikirkan berbagai metode dan jago mempresentasikan gagasannya di depan umum, jarang dianggap sebagai hero, apalagi super hero. Ia akan dianggap sebagai politisi yang ngomong-ngomong saja, teori-teori melulu, cangkem-cangkem doang. Jika terjadi konflik fisik atau kegaduhan politik, politisi pintar yang omong-omong saja akan berada di belakang. Ia tak kelihatan. Dan orang yang berani dan kuat (apalagi yang berani langsung menjotos, memukul, meninju, atau bergulat) akan selalu berada di depan. Dia-lah super hero yang akan selalu kelihatan berada di depan.

Ngomong-ngomong perkelahian di dunia politik, sesungguhnya  tidak hanya terjadi di ruang sidang parlemen di Bali atau di Indonesia. Di luar negeri, bahkan di negara-negara maju, tengkar mulut dan perkelahian fisik juga sering terjadi. Jadi, jangan malu dan jangan gundah jika melihat wakil rakyat kita adu fisik. Di luar negeri juga biasa. Di negara maju juga ada perkelahian antar anggota parlemen. Hanya, mungkin yang di negara maju itu, politisi benar-benar bertengkar soal gagasan, sementara wakil rakyat kita tak jelas apa yang dipertengkarkan.

Dulu, sekitar tahun 1999, pada Pemilu pertama sejak zaman reformasi, banyak lahir politisi dengan latar belakang yang tak jauh-jauh dari dunia kekerasan. Sebagai wartawan, saya sempat mengamati secara diam-diam, pada saat itu. Sepertinya ada tiga jenis caleg  yang mendapatkan banyak dukungan politik. Pertama, caleg yang kaya. Kedua, caleg yang masuk katagori miskin namun ditakuti secara fisik dan punya sejarah perkelahian yang panjang. Ketiga, caleg yang ditakuti secara fisik sekaligus juga berasal dari keluarga kaya.

Unik bin ajaib, caleg seperti itu lebih banyak terpilih kembali pada pemilu berikutnya. Tentu saja, karena caleg yang miskin tapi berani berkelahi itu, akhirnya menjadi kaya juga setelah jadi anggota dewan. Yang kaya akan meningkat kekayaannya. Lalu, dengan berbagai pengalaman politik, mereka makin lihai menggunakan keberanian dan kekayaannya untuk meraup dukungan politik. Orang-orang intelek yang ingin masuk gedung dewan lebih kerap kalah. Lah, iya, karena itu, dianggap omong-omong doang.

Soal sejarah perkelahian, yang dimaksud tentu bukan perkelahian profesional sebagaimana perkelahian di ring tinju atau di dunia persilatan. Pada awal-awal zaman reformasi, terdapat sejumlah caleg yang banjir dukungan dan terpilih hanya karena sebelumnya dianggap berani merusak bendera partai lawan dan menghadang konvoi partai lain yang sedang berkampanye. Ia punya modal keberanian untuk bentrok, dan itu dianggap penting.

Maka, jangan heran, jika masih tetap ada sejumlah politisi, di zaman milenial ini, yang menjaga citranya agar selalu dianggap sebagai orang yang berani, dan itu diukur dari seberapa berani dia berkelahi secara fisik.  Sehingga, jika ia dianggap sudah tak berani lagi, sehingga kehilangan pamor politiknya, mungkin ia akan meningkatkan rating politiknya dengan cara berkelahi, meski berkelahi dengan kawan. Ya, mirip-mirip selebritis itu. Jika tak ada musuh di luar kelompoknya (mungkin karena semuanya sudah takut), maka ia bisa saja berkelahi di dalam kelompoknya.  

Nah, ngomong-ngomong soal anggota dewan yang membawa pedang di mobil hardtop itu, saya tak tahu apakah karir politiknya memang meningkat setelah kejadian itu. Saya tak tahu karena saya kemudian pindah tugas ke kabupaten lain. Tapi, belakangan, saat saya tanya-tanya ke teman wartawan, saya tak pernah mendengar namanya disebut-sebut lagi. Nah. (*)  

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia